
Ayra terus memperhatikan bahkan memainkan cincin dijari manisnya. Ia terus menyunggingkan senyumnya.
"Udah jangan di liatin teros. Tar loncat tuh cincin!" Goda Agel.
"Kalo loncat tar kita pungut." Timpal Feby dan disambut gelak tawa mereka.
"Gue masih belom percaya. Ini masih terasa kek mimpi." Ucap Ayra yang terus memainkan cincinnya.
"Lu mesti percaya sama takdir. Mimpi yang selama ini menghantui lu adalah pertanda bang Ar emang jodoh lu. Terbukti tanpa lu tarik dia datang sendiri. Tanpa lu harus jadi pelakor, dia sendiri yang nyerahin hatinya ke lu." Tutur Agel.
"Tapi ni yah kalo misalnya bang Ar gak juga datang sama lu, apa yang bakal lu lakuin?" Tanya Feby.
"Gue pelet dia!" Timpal Ayra membuat mereka tergelak kembali.
"Oke deh. Gue juga mau pake cara lu buat dapatin bang Ivan." Ucap Feby.
Kedua gadis itu mengerenyit heran. "Cara yang mana?" Tanya keduanya.
"Gue pelet dia!" Jawab Feby meniru Ayra, membuat mereka kembali riuh dan menoyor kepala Feby.
"Hai gaisss!" Sapa Rila yang baru datang menghampiri ketiganya.
Kini mereka sudah masuk kerja lagi, keempat gadis itu tengah istirahat di kantin bi Eem.
"Dari mana lu?" Tanya Feby.
"Gue habis nyerahin surat resign." Timpal Ayra.
"Hah!" Ketiga sahabatnya melongo mendengar penuturan Rila.
"Napa lu pen resign?" Tanya Ayra.
"Oh iya, gue belom cerita sama lu pada. Minggu depan gue sama Devan mao nikah!" Tutur Rila.
"What?" Ketiganya serempak kaget. Bahkan Feby sampai menggebrak meja.
"Lu bikin jantungan tau gak!" Protes Rila dan malah menyerobot minuman Ayra.
"Eeh..tu minuman gue!" Protes Ayra seraya ingin mengambilnya namun ditepis oleh Rila.
__ADS_1
"Serius lu?" Tanya Agel tak percaya.
"He'em." Jawab Rila menganggukan kepalanya yang masih minum.
"Yang tunangan gue, napa lu yang nikah?" Tanya Ayra heran.
"Rencananya sih minggu depan tu kita mau tunangan, berhubung saham sudah tumbuh jadi kita nikah aja." Timpalnya.
Ketiga gadis itu berfikir sejenak mencerna ucapan Rila.
"Eeh tar dulu. Maksud lu saham paan?" Tanya Feby.
Rila hanya mengusap perutnya. Membuat Ketiganya menganga dan membolakan matanya lebar-lebar.
"Hah? Serius lu?" Tanya Ayra memunjuk perut Rila.
Bahkan Feby membuat gerakan membentuk bulatan diperut, seolah bertanya hamil?
Rila menganggukan kepalanya berkali-kali. "Yapsss!"
Ketignya menunduk mengusap wajahnya seraya memijit pelipisnya kompak.
"Napa lu pada?" Tanya Rila dengan polosnya
"Napa sih lu? Emangnya napa kalo gue hamil?" Tanyanya dan langsung mendapat bekapan dari Ayra.
"Lu tu ya kalo ngomong, lu mau di buly orang-orang kalo tau lu hamil?" Bisik Ayra pada sahabatnya yang kadang-kadang oleng ini.
"Terus salahnya dimana?" Tanya Rila lagi.
"Eughhh susah emang ngomong sama lu. orang mah bakalan nangis-nangis karna hamidun, eh lu malah seneng." Timpal Feby.
"Napa mesti nangis? Gue justru bahagia, dengan gini Devan lebih perhatian sama gue, dia juga gak bakalan ninggalin gue." Tutur Rila.
"Iya emang gak bakalan ninggalin lu. Kalo ampe ninggalin lu, dia berhadapan sama kita. Tapi maksud kita tuh, lu udah siap jadi ibu?" Tanya Ayra memelankan suaranya.
"Siap dong! Lu tau gak gue udah siapin baju-baju baby lucu, sepatu-sepatu, troly, pokonya masih banyak lagi. Udah gue masukin keranjang. Tar kalo udah siap launching tinggal gue klik! Datang deh barang-barang lucu nya." Tuturnya panjang kali lebar.
Hal itu sukses membuat ketiga gadis itu menganga sambil menggeleng-geleng kepala.
__ADS_1
Tak habis pikir dengan sahabtnya yang satu ini. Begitu semangatnya dia menyambut baby nya yang bahkan belom diketahui berapa usianya. Sampai udah menyiapkan segala keperluannya dari sekarang, bahkan memesannya lewat online shop langganannya.
Rila memang kerap belanja online. Ia type cewek yang gila belanja. Biarpun otaknya agak oleng, tapi soal penampilan baginya itu nomor satu.
"Terus yaa gue juga udah siapin nama yang cantik buat dia." Ucapnya semangat seraya mengelus perutnya.
"Ya udah deh selamat! Gue bener dilangkahin nih?" Ucap Ayra pasrah.
"Langkahin paan? Gue yang dilangkahin lu berdua. Pacaran dari jaman Hp tombolan ampe sekarang Hp udah colekan masih gitu-gitu aja!" Protes Agel.
Agel memang paling lama pacaran sama Juna, dari semenjak Agel duduk di bangku menengah pertama sampai sekarang masih setia dengan satu hati. Namun tak pernah ada obrolan serius diantara keduanya.
"Lu sih keenakan pacaran. Majuin dikitlah, minta putus gitu." Timpal Feby.
"Woy! Lu sumpahin gue putus? Enak aja. Gak ada ya gue sama lu satu server." Protes Agel dan disambut gelak tawa mereka.
"Iya sih gel. minta penjelasan lah lu sama juna." Timpal Ayra yang di iyakan yang lainnya.
Agel hanya mengedikan bahunya seraya menghembuskan nafasnya.
"Lu sih enak pada udah punya pasangan. Lah gue?" Tunjuk Feby pada dirinya sendiri.
"Sebenarnya lu serius gak sih cinta sama bang Ivan?" Tanya Rila.
"Ya iyalah gue serius!" Jawab Feby.
"Tapi gue gak yakin?" Timpal Agel. Membuat Feby mengangkat alisnya sebelah.
"Lu sama bang Ivan itu cuma obsesi. Coba lu tanya hati lu ke siapa?" Lanjutnya.
Feby terdiam sejenak. "Tapi gue yakin hati gue buat bang Ivan." elaknya.
"Ya udah tar kita buktiin!" Final Agel.
"Ya udah lu semua bantu gue buat persiapan ya! Lu semua tenang aja bang Ar udah nyiapin baju buat kalian couplean." Tutur Rila.
"Kok laki gue sih. Yang nikahkan lu?" Protes Ayra.
"Spesial endorse dari sultan tanah." Timpal Rila membuat mereka kembali riuh dengan gelak tawa.
__ADS_1
"Sultan tanah ceunah!"
******************