
Pagi kembali menyapa, mentari diupuk timur sudah naik memancarkan sinarnya. Membangunkan kedua insan yang baru saja terlelap.
Setelah drama mules-mules yang dialami sang istri. Sepasang pengantin itu baru bisa tidur lepas tahrim. Bukan karena semangat membuat part, namun karena sang istri yang bolak balik menuju kamar mandi. Entah apa yang Ia makan. Ayra benar-benar menguras perutnya habis.
"Gimana masih sakit perutnya?" Tanya bang Ar khawatir. Dibelainya wajah pucat dengan lingkaran hitam diarea matanya itu yang tengah berbaring disisinya. Sikutnya Ia tumpu sebelah menyamping ke arah sang istri. "Kita kerumah sakit ya!" Ajaknya.
"Udah gak sakit kok bang. Gak papa, gak usah kerumah sakit juga." Jawabnya.
"Gak. Pokonya kita harus kerumah sakit!" Ajaknya tegas.
"Gak bang, aku gak papa kok. Perutnya juga udah gak sakit. Aku minta teh anget aja!" Pintanya.
Bang Ar menghela nafasnya kasar. Susah sekali membujuk gadis halalnya ini. "Bentar ya, abang bikin dulu!" Bang Ar bangkit dari tempat tidur dan berlenggang menuju dapur.
Bang Ar mengambil cangkir dan memasukan teh dan sedikit gula disana. Ketika tengah meracik teh nya, sang Ibu datang menghampiri.
"Kamu lagi ngapain Ar? Terus Ay nya mana?" Tanya Mamih heran, melihat sang putra sendiri didapur.
"Ay sakit bu. Tadi malam bolak balik kamar mandi mulu. Dia minta dibikinin teh nih!" Timpal bang Ar seraya mengaduk minuman ditangannya.
"Apa? Ay sakit. Sekarang gimana keadaannya? Kenapa kamu gak cepet bawa kerumah sakit?" Ibu kaget mendengar menantu kesayangannya sakit, Ia sampai membrondong pertanyaan pada putranya itu.
"Ya udah Ibu mau lihat dulu sekarang!" Tanpa mendengar jawaban dari sang putra, Ibu sudah berlenggang meninggalkan dapur dan naik ke atas menuju kamar sang putra.
tok..tok..
Ibu membuka pintu kamar pasangan pengantin baru itu, setelah medapatkan izin dari penghuninya didalam.
"Ya ampun sayang? Mantu Ibu kamu kenapa? Kata Ar kamu sakit ya?" Ibu bertanya dengan hebohnya sambil berjalan menuju ranjang menghampiri sang mantu yang tengah bersandar di kepala ranjang.
"Gak bu. Udah gak apa-apa kok. Cuma lemes aja kurang tidur." Timpal Ayra.
"Kita kerumah sakit ya! Wajah kamu ampe pucat gitu." Ajak Ibu yang duduk disisi ranjang membelai rambutnya.
"Gak usah bu! Aku cuma butuh istirahat aja. Lagian perutnya udah gak sakit kok." Tolaknya halus.
"Tapi kan biar diperiksa, terus dikasih vitamin juga." Bujuk Ibu lagi.
__ADS_1
Belum Ayra menjawab, bang Ar sudah menggampiri keduanya. "Aku juga udah ajak kerumah sakit dari tadi, dianya gak mau!"
Ibu menghela nafasnya pasrah. "Kenapa bisa kek gini sih sayang?"
"Mungkin kemarin aku kebanyakan makan pedes bu. Terus malamnya susah tidur, jadi masuk angin." Timpal Ayra.
"Kamu sih Ar, jangan terlalu keseringan ngajak begadang dong. Udah tau Ay ini anti dingin. Ya pasti gampang masuk angin lah." Omel sang Ibu pada putranya membuat sepasang pengantin itu saling pandang.
Dan itu memang benar. Sudah dua malam ini mereka begadang. Apalagi keduanya sampai semalaman tak memakai busana sudah terlihat jelas penyebab angin masuk dengan begitu mudahnya ditubuh Ayra.
Bang Ar menyodokan teh hangat buatannya tak menimpali ucapan sang Ibu yang benar adanya. "Nih! Minum dulu!"
Ayra menerima cangkir sang suami dan meminum teh yang masih mengepul itu sedikit demi sedikit seraya meniupinya.
"Kerumah sakit ya sayang. Biar diperiksa dokter!" Bujuk Ibu sekali lagi.
"Gak bu! Bentar lagi juga enakan" Tolak Ayra lagu seraya tersenyum.
Ibu membuang nafasnya pasrah. "Ya sudah Ibu ambilin sarapan dulu ya. Kayanya masih ada sisa vitamin Ibu juga dilaci. Tar kamu makan terus minum vitaminnya yah!" Tutur Ibu dan diiyakan Ayra.
"Beneran bang. Ini aku udah gak papa kok." Timpal Ayra menampilkan senyumnya.
Bang Ar membelai rambutnya sampai pipinya. "Maafin abang ya! Gara-gara abang ngajak begadang mulu, kamu jadi sakit gini!"
"Gak bang! Gak usah minta maaf, mungkin ini kebetulan aja. Aku sehat nih lihat!" Ayra menggerakkan badannya kiri kanan agar sang suami tak terlalu mengkhawatirkannya.
Ayra beralih menangkup wajah sang suami. "Udah gak usah terlalu dipikirin, aku beneran udah gak sakit."
Ayra menyambar benda kenyal yang selalu membuatnya terbang itu, menyesap bibir atasnya lembut. Membuat bang Ar menahan tengkuknya, saat Ia ingin melepasnya. Keduanya hanyut dengan morning kiss yang akan menjadi ritual wajib keduanya dipagi hari.
"Sayang nih sarap-pan." Ibu yang masuk membawa nampan ditangannya, berhenti berucap kala melihat keduanya.
Ibu yang baru membuka pintu, kembali menutupnya. "Dasar manten baru! Jaman sekarang obat orang sakit enak-enak ya." Ibu kembali dengan terus menggerutu menuju dapur.
**
"Ibu lama banget sih. Kamu tunggu bentar ya, abang ambilin dulu makanannya!" Titahnya membelai pucuk kepala sang istri. Dan dijawab anggukan kepala olehnya.
__ADS_1
Bang Ar berlenggang menyusul sang Ibu kedapur. "Bu sarapannya mana? Kok lama banget?" Tanyanya pada sang Ibu yang tengah mencuci piring.
"Ituh Ibu udah siapin dinampan diatas meja makan!" Timpal sang Ibu.
Bang Ar yang sudah didepan meja makan melihat nampan yang dimaksud Ibu. "Katanya ada vitamin bu. Mana?" Tanyanya.
"Bukannya tadi udah kamu kasih?" Tanya Ibu yang masih sibuk dengan busa-busa ditangannya.
Bang mengerenyitkan dahinya tak mengerti. "Kapan? Aku gak punya vitamin bu?"
"Tadi kamu kasih istri kamu. Lama lagi, ampe Ibu buka pintu pun kamu gak nyadar." Timpal Ibu membuat bang Ar melongo, mengerjapkan matanya.
Ia baru ngeuh, vitamin yang Ibu maksud adalah ciumannya tadi. Jadi ibunya masuk mencyduk lagi keduanya. 'Untung cuma cium' Pikirnya.
"Ar kamu harus bisa mengontrolnya. Jangan sampe kaya gini lagi. Ini itu pertama untuk kalian. Kondisi Ayra belum stabil kalo harus kamu ajak begadang terus." Tutur Ibu menghampiri putranya itu dan menyimpan vitamin diatas nampan yang tadi sempat Ia ambil lagi.
"Gak kok bu. Semalam kita lupa waktu kebanyakan ngobrol. Ampe pada gak bisa tidur. Pas mau tidur. Eh dianya malah bolak balik kamar mandi terus." Timpal bang Ar dan dijawab geleng-geleng kepala oleh sang Ibu.
"Padahal mah mau nambah." Membuat Ibu menjitak kepalanya pelan. "Ahh..sakit bu!" Ringisnya mengusap kepalanya.
"Lebay kamu! Udah lah. Kamu inget tu pesan Ibu."
"Apa? Pake masker?" Canda bang Ar membuat Ibu kembali melayangkan jitakan dikepalanya lebih keras. Dan sukses membuat bang Ar meringis.
"Mening kamu berangkat sendiri aja. Biar Ay gak usah ikut, dirumah aja sama Ibu! Disana cuacanya terlalu dingin" Saran sang Ibu.
"Ya gak bisa gitu dong bu. Tar akunya gimana?" Protes bang Ar.
"Gimana apanya?" Tanya Ibu heran.
"Gimana bikin part nya kalo sendiri." Balas bang Ar dan sukses dapat timoukan dari sang ibu.
***********
Biasakan untuk meninggalkan jejak-jejak jempol kalean ya!
Kasih vote, like dan komennya. Tabur-tabur bunganya juga boleh😊
__ADS_1