
Setelah berpamitan pada kedua orang tuanya. Ayra dan bang Ar berhenti dulu dirumah sang Ibu untuk menyimpan barang-barangnya. Kemudian melanjutkan perjalanannya lagi.
"Bang! Aku kangen deh pengen naik motor. Udah lama gak boncengan." Ucap Ayra yang kini tengah duduk di kursi penumpang disisi kemudi dengan bang Ar yang tengah fokus menyetir.
"Iya. Tar deh kalo kita pulang kita boncengan naik motor lagi. Sekarang boncengannya diatas kasur aja dulu." Jawab bang Ar membuat Ayra tergelak.
"Abang yaa ingetnya kasur mulu!" Protes Ayra di sela tawanya.
"Semalam gak silaturahmi si pisang kangen tau sama nonanya." Timpal bang Ar yang ikut tertawa.
"Rugi bandar ya bang!"
"Iya. Untung si pisang ngarti sikon."
"Ya udah tar dikasih ngulang banyak-banyak deh." Timpalnya. Keduanya pun kembali tergelak.
"Padahal mah ya bang. Tadi kita berangkat pake motor aja." Protes Ayra lagi.
"Terus kalo pake motor, tu barang-barang kita mau kita kemanain?" Tanya bang Ar.
"Kan ada rodanya, tinggal tarik biar ngikut aja gitu." Membuat bang Ar kembali tergelak.
"Kamu tenang aja sii! Lagian tu motor punya kita, tar kita puas-puasin deh naiknya." Timpal bang Ar.
"Punya abang kali."
"Apapun punya abang, itu punya kamu juga. Ini si pisang abang aja, punya kamu juga." Timpal bang Ar membuat Ayra kembali tergelak.
Perjalanan yang dipenuhi dengan canda tawa keduanya. Membuat mereka tak menyadari sudah sampai ditempat tujuan.
"Eeh bang! Bang! Itu rumahnya dah kelewat." Ayra menjunjuk samping jendela mobil. Membuat bangAr menekan remnya sekaligus. Hingga jidat Ayra hampir mencium dasbord.
Dengan Reflek, bang Ar menghadang keningnya. "Kamu gak papa?"Tanyanya khawatir.
"Aduh bang! Hati-hati lah! Untung ini gak jenong." Omel Ayra mengusap dahi yang tertahan tangan suminya.
"Maaf sayang tadi reflek. Mana sini coba abang liat!" Bang Ar meraih kepala sang istri melihat jidatnya meniupnya, dan mendaratkan bibirnya disana.
"Dah gak papa, udah jenong juga." Timpalnya tergelak dan langsung dapat timpukan dari sang istri.
"Enak aja, aku gak jenong yah. Nih lihat nih!" Protes Ayra memamerkan jidatnya membuat bang Ar semakin tergelak.
"Ya udah iya. Bentar kita mundur dulu!" Mobilpun mundur, beberapa meter untuk sampai kedepan rumahnya.
Bang Ar turun dan mebukakan pintu sang istri. Ternyata kedatangannya sudah disambut mang Asep.
"Selamat datang den Ardi dan si eneng!" Sapa mang Asep.
__ADS_1
"Iya mang. Tolong ambilin kopernya di bagasi ya!" Ucapnya memberi kunci mobilnya pada mang Asep dan diiyakannya.
Ayra yang tengah melihat bunga-bunga yang baru bermekaran dihalaman rumah begitu antusias untuk melihatnya. Ia sampai mencium bunga-bunga itu. "Hemm segeerr!"
"Yang ayo masuk!" Ajak bang Ar.
"Tar bang! Aku liat bunga-bunga dulu nih." Timpalnya.
Bang Ar menghampiri sang istri dan memeluknya dari belakang. Menenggelamkan wajahnya diceruk sang istri.
"Abang ihh! Malu tuh sama mang Asep." Protes Ayra mengeplak tangan sang suami, namun bang Ar semakin menyelami leher putihnya.
"Gak papa kan udah halal." Timpalnya semakin liar. Membuat Ayra tak bisa mengontrol dirinya.
"Banghh!!"
"Ngamer yuk!"
Tanpa menunggu persetujuan, bang Ar menggendong sang istri ala brigde style. Membuat Ayra menjerit kaget.
Bang Ar menggendongnya menuju kamar, membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali. Merebahkan tubuh langsing istri dan menindihnya.
"Emm.. Kita bikin part apa ya?" Tanya bang Ar. Menopang badannya dengan tangan agar tak menindih sepenuhnya tubuh sang istri dan hanya membiarkan tubuh bawah nya saja yang menindih.
Ayra tertawa, mau bikin part aja direncanain dulu ya?
"Emm.. Good girl!"
Bang Ar mulai menyerang bibir sang istri, menyecap rasa yang selalu membuatnya mabuk kepayang. Menyusuri leher jenjang yang tadi sempat ia tandai. sebelah tangannya sudah menyikap kaos sang istri. Menangkup bongkahan yang masih bercangkang.
Ayra sudah dibuat terlena dengan perlakuan sang suami. Ia kalungkan lengannya manja dileher sang suami. Melepaskan suara yang selalu meresahkan itu. Apalagi saat tangan sang suami bersilaturahmi dengn si nona. Membuatnya sukses melenguh nikmat.
"Abanghh!!"
"Yess baby!"
"Pengen!"
"Jangan ditahan lepasin aja!"
"Tar banjir!
"Gak papa!"
"Abang awas dulu!"
"Tar abang buka dulu!"
__ADS_1
Ayra bangun dari tidurnya. Membuat bang Ar juga ikut bangun. "Awas bang!"
"Kenapa?"
"Pengen kencing!" Ayra lari ngibrit ke kamar mandi.
Bang Ar melongo memegang si pisang yang sudah siap tempur. Ia hanya menghela nafasnya pasrah. Untung cuma pengen kencing, kalo ampe ditinggal mules lagi, auto ambyar lagi!
Bang Ar merebahkan dirinya menunggu sang istri. Tak lama kemudian sang istri keluar dari kamar mandi.
"Bang!" Sapanya ikut merebahkan diri di sisi sang suami menjadikan lengannya sebagi bantal.
"Hem! Udah?" Bang Ar menolehkan wajahnya dan tersenyum.
"Udah. Mau lanjut? Apa mau istirahat aja? Atau mau makan?" Tanyanya. Ayra yang sudah belajar cara menyenangkan suami dari sang Mamih, mencoba membuat penawaran.
Bang Ar tersenyum mendengarnya. Ia balikkan badannya kembali keatas sang istri. Dipandanginya lekat-lekat wajah yang selalu mengalihkan dunianya itu.
"Kenpa sii bang? Ngelihatinnya gitu banget?" Tanya Ayra tersipu. Meski sudah sering ditatap seperti itu, namun tetap saja selalu membuatnya salah tingkah.
Bang Ar membelai pipinya lembut. "Abang cuma gak habis pikir aja. Bagaimana bisa abang memiliki bidadari cantik sepertimu. Kebaikan apa yang telah abang lakukan, hingga Tuhan menghadirkan kamu dihidup abang?" Ungkapnya dengan lengkungan senyum yang selalu memporak porandakan hati Ayra.
Ayra menangkup pipi sang suami mengecup bibirnya lama dan melepasnya.
"Abang tau. Justru abang adalah karma baik untuk aku. Dulu saat aku merelakan abang dengannya dan pantang menjadi pelakor. Tuhan mengasihi aku, dan sekarang memberikan abang untukku." Tuturnya.
Bang Ar kembali melayangkan serangan kepada istrinya. Menyalurkan rasa yang kian hari, kian membuncah.
Keduanya terlena dalam permainan yang mereka ciptakan. Hingga kain ditubuh keduanya sudah tertanggal dimana-mana.
Ditariknya selimut untuk menutupi tubuh keduanya yang siap bergulat. Bang Ar mengingat pesan Ibu untuk tak membiarkan tubuh sang istri kedinginan.
Tubuh keduanya sudah menyatu, membiarkan si pisang dan si nona manis bersilaturahmi. Menggali rasa yang membawa mereka mencapai nirwana.
Suara-suara sexy bersahutan didalam kamar luas itu. Keringatpun membanjiri tubuh keduanya.
"Abangghhh!!" Ayra sudah terlebih dulu mencapai pelepasannya, namun tidak dengan sang suami.
Bang Ar menjeda terlebih dahulu, mengelap keringat didahi sang istri dan mengecupnya. "Bentar lagi ya!" Pintanya dan hanya dijawab anggukan pasrah sang istri.
Bang Ar kembali menggerakkan tubuhnya. Hingga Ia akan siap mendapat pencapaiannya, seseorang membuka pintu kamarnya dan berteriak membuat konsentrasi bang Ar ambyar.
"A Ardi!!!"
****************
Kutunggu jejak-jejakmu readers😘 Tengkyu untuk yang selalu dukung mak othor ini untuk terus menghalu🙏**
__ADS_1