
"Ya ampun Sena! Kenapa harus ujan-ujanan sih?"
Tanya Mama Ay ketika sang putri pulang dengan seragam yang basah kuyup. Ia sibuk melihat kondisi putrinya dan tak menghirukan siapa yang datang bersama putrinya yang mengekor dibelakang.
"Assalamualaikum Ma?!"
Mama Ay menoleh mendengar suara yang agak asing namun sepertinya pernah Ia dengar.
"Walaikumsalam!" Timpalnya. Mama Ay mengerenyitkan dahinya melihat siapa yang berdiri dibelakang putrinya dengan seragam yang sama dan basah kuyup juga.
"Kamu?" Mama Ay tengah mengingat-ingat siapa pemuda itu. Namun sipemuda dengan cepat menggapai tangannya dan menciumnya takzim.
"Apa Mama juga melupakanku?" Tanyanya.
Seketika Mama Ay menganga dan menutup mulutnya dengan sebelah tangannya kala mengingat gaya bicara pemuda itu. Ingatannya berhenti pada bocah dingin yang persis seperti sepupunya itu dan jangan lupakan wajah tampan itu mengingatkannya pada mantan fansnya dulu.
"Abiii!!!" Mama Ay berhambur memeluk pemuda yang Ia ingat seorang bocah yang selalu mengintili putrinya itu.
Bocah cuek namun begitu menyayangi saudara-saudaranya. Bahkan Mama Ay tak pernah membeda-bedakannya dengan kedua putra putrinya juga keponakannya satu lagi. Kedua ponakannya itu selalu menganggap Mama Ay sebagai Mamanya sendiri. Bahkan mereka juga memanggil dengan panggilan sama.
Ia urai pelukan itu dan menangkup wajahnya. "Ya ampun! Ini beneran Abi? Mama sampai pangling. Kamu makin ganteng sayang. Kamu apa kabar? Gimana kabarnya momny kamu?" Cecar Mama Ay.
"Kita semua baik Ma." Jawabnya singkat.
"Ck! Kamu emang gak pernah berubah. Irit. Persis mommy kamu." Timpal Mama Ay membuatnya tersenyum simpul.
"Terus kenapa ini kalian malah ujan-ujanan? Cepet kalian ganti baju sana!" Titahnya pada sang putri dan dijawab anggukan olehnya. "Bi kamu juga ganti baju, ambil aja punya Shaka ya!" Titahnya pada Abi dan dijawab anggukan olehnya.
Keduanya menaiki tangga dengan Abi yang mengekori Sena dari belakang hingga sampai didepan pintu bercat cokelat.
"Itu kamarnya kak Shaka. Lu masuk aja gih! Ambil bajunya. Orangnya pasti belum pulang." Titah Sena dan dijawab anggukan Abi.
Abi masuk kedalam kamar Shaka. Namun sebelum Ia membuka lemari itu, ia berfikir sejenak. Mengingat sepupunya itu yang tak suka ada orang lain yang menyentuh barangnya membuatnya mengurungkan niatnya untuk mencari apa yang Ia butuhkan.
__ADS_1
Ia kembali keluar kamar dan beralih membuka kamar gadis yang tadi Ia ajak basah-basahan.
Ceklek!
Pintu dibukanya hingga menampakan gadis yang hendak membuka kemejanya. Baru saja kemeja itu terangkat, hingga terpampang punggung dan perutnya. Sena menoleh melihat siapa yang masuk dan segera kembali menurunkan bajunya.
"Astagfirulloh! Lu ngapain kesini?" Tanya Sena shok, seraya merapihkan kembali kemejanya, namun Ia lupa dengan kancing atas yang sudah Ia buka.
Abi menatap intens gadis itu dan berjalan mendekat membuat Sena reflek mundur. Hingga pergerakannya terhenti kala punggung Sena menabrak tembok.
"L-Lu mau ngapain?" Tanya Sena yang tiba-tiba gugup melihat wajah Abi yang semakin dekat.
Abi mengangkat satu sudut bibirnya. "Menurut lu?" Tanyanya semakin mengikis jarak hingga membuat Sena menutup matanya.
Abi tersenyum merasa lucu melihat tingkah sepupunya itu. Ia mendekatkan wajahnya seraya berbisik. "Jangan suka mengumbar! Gunakan kamar mandi dengan baik!"
Sena membuka matanya merasakan hembusan nafas Abi mengenai telinganya. Ia dorong tubuh tegap sepupunya itu dan berdecak kesal.
"Ck! Lu nya aja yang mesum. Masuk kamar orang gak ketuk pintu dulu." Omelnya dengan wajah yang memerah menahan malu.
"Kunci pintu kan bisa." Tutur Abi.
"Udah biasa. Gue kan gak pernah ngunci pintu." Tutur Sena. "Lagian lu ngapain sih kesini? Keluar sana, gue mau ganti baju!" Titahnya seraya mengusir.
"Atau jangan-jangan lu sengaja nyelonong masuk mau ngintipin gue. Iya?" Todongnya membuat Abi tersenyum sinis.
Ia melipat tangannya didada dan memindai penampilan gadis dihadapannya itu dari atas hingga bawah. "Apa yang harus gue intip? Seluruh tubuh lu gue udah tau. Gak ada yang menarik!" Tuturnya.
Sena geram, merasa disepelekan oleh sepupunya itu. Ia ingin melayangkan pukulannya pada pemuda didepannya, namun Ia urungkan. Terbesit ide jahil diotaknya untuk mengerjai sepupu menyebalkannya itu.
Sena menyeringai dengan melangkah maju mengikis jarak padanya. "Oke! Lu pernah lihat seluruh tubuh gue yang gak menarik, tapi itu dulu. Sekarang kan lu gak tau gimana moleknya tubuh gue, apa lu juga mau lihat? Hem?" Tuturnya seraya menantang membuat Abi mengangkat satu sudut bibirnya. Merasa tak yakin gadis didepannya bisa melakukan hal itu.
Sena mulai meraba kancing kemejanya dengan tatapan matanya menatap intens wajah Abi. Dan hal itu sukses membuat Abi gelagapan. Ia tak menyangka sepupunya itu nekat juga.
__ADS_1
Ia memegang tangan gadis itu agar mengurungkan niatnya. "Jangan bercanda, gak lucu!" Peringatnya.
"Menurut lu gue bercanda?" Tanya Sena dan terus berjalan hingga membuat Abi mundur.
Abi menahannya agar tak terus maju, namun kaki Sena tersandung kakinya hingga membuat Sena akan tersungkur dan dengan cepat Abi ingin menariknya. Karena Ia juga hilang keseimbangan dan ikut tertarik oleh Sena, akhirnya keduanya jatuh bersamaan ke atas kasur. Dengan posisi Sena dibawah tubuh Abi.
Hening!
Keduanya terdiam dengan tatapan saling mengunci. Hanya detak jantung yang bersahutan yang teedengar disana. Hingga pintu terbuka membuat keduanya menoleh.
"Astagfirulloh! Kalian ngapain?" Tanya Mama Ay. Ia sampai menutup mulutnya melihat pemandangan didepannya.
Sena dan Abi kembali saling tatap, hingga didetik berikutnya Abi segera bangkit dan berdiri dengan berdehem keras. Begitupun Sena, Ia ikut bangkit dan duduk ditepi ranjang.
Mama Ay yang ingin memanggil putrinya untuk makan nyeloning gitu saja tanpa mengetuk pintunya. Sepertinya ini sudah jadi tradisi dikeluarga itu lupa akan mengetuk pintu.
Ia terkejut bukan main mendapati sang putri dibawah kukungan ponakannya dengan posisi lumayan intim. Ia hampiri kedua remaja itu dengan berkacak pinggang ala emak-emak yang siap mengomeli putra putrinya.
"Kalian?" Tunjuknya kearah kedua remaja itu bergantian. Hingga membuat Sena ikut berdiri.
"Gak Ma! Itu gak seperti yang Mama bayangkan! Kita gak ngapa-ngapain kok bneran!" Sangkalnya. "Iya kan bi?" Ia menyenggol lengan pemuda disampingnya dan dijawab anggukan olehnya.
Mama Ay hendak melayangkan ceramahnya. Namun atensinya berpindah pada bagian dada sang putri yang terbuka. Walaupun masih terhalang tanktop didalamnya, namun tetap saja bayangan ibu dua anak itu sudah jauh melanglang buana. Ia juga pernah muda apa yang pernah Ia alami kala pacaran dulu bersama sang suami, mungkin terjadi juga dengan putra putrinya sekarang.
Mama Ay kembali menutup mulutnya seraya menggelengkan kepalanya. "Ini gak bisa dibiarin!" Penuturannya sukses membuat kedua remaja itu keheranan.
"Kalian!" Tunjuknya pada keduanya dengan tatapan tajam. "Kudu dinikahin!" Tegasnya.
*******************
Ramaikan juga yang ini yaaš Makasih buat kalean yang selalu stay nemenin author retjeh kek aku, Lagi galon regara kena ghostingš¤§
__ADS_1
Sengaja nengok dulu yang bening, biar galonnya ilangš¤£