Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 24


__ADS_3

Kedua gadis itu mengahampiri seorang pemuda dan seorang gadis yang tengah bergelayut manja dilengan sang pemuda.


"Bang Rendi?!" Sapa Feby.


Keduanya menoleh dan betapa terkejotnya Rendi melihat sang pujaan yang tengah menatapnya.


Buru-buru Rendi melepas tangan sang gadis dengan kasar. Membuat si empunya meringis.


"Ihh apa sii sayang?" Kesal si gadis.


Bukannya menjawab Rendi malah menyapa pujaan hatinya.


"Hai Ay?" Sapanya melambaikan tangan.


"Hai bang!" Jawab Ayra dengan tersenyum.


"Sayang ayo! Aku udah selesai." Rengek si gadis kembali bergelayut manja ke lengannya.


"Ihh paan sih lu!" Rendi menepis kembali tangan si gadis.


"Kamu kenapa sih. Ayo kita pulang." Ajaknya manja.


Kedua gadis yang melihat drama didepannya hanya tersenyum tipis merasa aneh dengan tingkah sepasang sejoli dihadapannya ini.


"Kita kesana ya bang. Mari mbak!" Ayra berlalu menarik tangan Feby menjauh.


"Ay..Ayra! Tunggu!" Rendi ingin mengejar Ayra namun dicegat si gadis.


"Paan sih. Ini semua gara-gara lu tau gak. Hilang sudah harapan gue buat dapatin gadis yang gue suka."


"Bagus dong. Berarti kamu hanya milik aku." Jawab si gadis.


"Gak. Gue hanya mau Ayra." Kekeh nya.


"Kok kamu gitu sih Ren. Kurang apa coba aku sama kamu. Aku gak pernah masalahin kamu deket sama siapa aja. Tapi kamu hanya milik aku." tutur si gadis.


Rendi berlalu begitu saja meninggalkan si gadis, tak peduli meski sang gadis terus memanggil namanya.


Ia mencari keberadaan sang pujaan. Ingin menjelaskan yang terjadi. Padahal mah ya gak ada yang mesti dijelasin. Tapi baginya hal ini akan menyulitkan dirinya untuk mendekati sang pujaan.


"Ay..!" Panggilanya dengan mencegat tangan Ayra.


Ayra menoleh kala seseorang menarik tangannya.


"Ikut aku!" Ajaknya langsung menarik tangan sang pujaan tanpa persetujuannya. Ayra hanya pasrah mengikuti langkah pemuda yang menariknya.

__ADS_1


"Eh.. bang mau dibawa kemana itu temen gue?" Teriak Feby kala melihat sahabatnya ditarik Rendi.


Namun Rendi tetap berjalan menarik tangan Ayra sampai di sebuah taman sebrang minimarket itu.


"Ada apa sih bang?" Tanya Ayra heran dan langsung menarik tangannya.


"Ay...abang mau jelasin. Tadi tuh bukan siapa-siapa nya abang. Beneran deh." tutur Rendi meyakinkan Ayra.


"Mau itu siapa-siapanya abang juga gak papa. Gak ada urusannya juga sama aku." Jawab Ayra santai.


"Tapi Ay...ini juga urusannya sama kamu. Abang sayang sama kamu. Plis Ay kasih abang kesempatan! Abang akan buktikan kalo abang gak kan pernah jalan sama cewek manapun lagi. Abang cuma mau kamu Ay!" Lagi-lagi pernyataan cinta Rendi membuat Ayra bingung.


Bingung dengan jawaban apa yang mesti ia ucapkan. Penolakan seperti apalagi yang harus Ia kasih.


Rendi menggenggan tangan Ayra dengan tatapan penuh harap.


"Maaf bang. Tapi aku gak bisa." Jawab Ayra melepas genggamannya.


"Kenapa? Kamu harus beri alasan yang jelas, Ay!" Pinta Rendi.


"Aku gak bisa bang." Jawab Ayra menundukkan kepalanya.


"Kenapa? Apa karena Ardi?"


Deg


Ya Rendi tak sengaja melihat Ayra yang tengah dibonceng bang Ar kemaren. Ingin sekali Ia menanyakan hal itu, namun chatnya sama sekali tak dibaca Ayra.


"Benerkan? Kamu suka sama Ardi?" Tanya Rendi lagi.


Ayra tak menjawabnya Ia kembali menundukkan kepalanya.


"Ternyata kamu lebih memilih jadi seorang pelakor dari pada abang." pernyataan Rendi kali ini sukses membuat Ayra geram dan melayangkan tamparannya ke pipi Rendi.


Plak.


"Pantang buat aku menjadi seorang pelakor. Jika memang aku menginginkannya sudah dari dulu aku melakukannya." Emosi Ayra meluap, tak terima dirinya disebut pelakor.


"Aku memang suka sama bang Ar. Puas!" tuturnya lagi dan langsung berlenggang meninggalkan Rendi.


Rendi hanya berdecih dan meraba pipinya yang kebas akibat tamparan keras Ayra.


"Lu mesti tau Ay, gue Rendi. Gue gak kan pernah nyerah!" Ucap Rendi dengan seringai diwajahnya.


.

__ADS_1


.


"Nyebelin banget tu urang. Pake ngatain segala lagi. Pelakor katanya. Cih. Udah dari dulu gue sikat kalo mau." Ayra terus menggerutu dihadadapan ketiga sahabatnya.


Ketiga sahabatnya hanya geleng-geleng kepala melihatnya.


"Udah sii, gak usah ditanggepin!" Ucap Agel.


"Iya! Dia tu cuma gak terima lu lebih memilih bang Ar." Timpal Feby


"Tapi gue lebih gak terima dibilang pelakor!" Selaknya lagi.


"Udah-udah pleboy gitu aja didengerin. Masih mening dikatain, dari pada dirayu dengan kata-kata manisnya." Rila ikut menenangkan.


Semua mengangguk mendengar penuturan sahabatnya ini, tumben banget bener.


Ayra menghela nafasnya pasrah. Benar kata para sahabatnya tak ada gunanya meladeni orang seperti Rendi.


Mereka pun bersiap-siap memulai pekerjaannya.


.


.


Jam istirahat tiba, keempat sahabat itu sudah memasuki kantin bi Eem dan memesan makanannya.


"Eh bentar lagi taun baru, pada mau liburan kemana nih?" Tanya Feby.


"Emm...enaknya kemana ya?" Tanya Rila.


"Gue sii ngikut kalean aja." Jawab Ayra.


"Yakin ngikut kita, bukannya mao ikut bang Ar?" Goda Agel.


"Ya emang kita mao pergi bareng kan?" Tanyanya.


"Kita emang mao bareng. Tapi gak tau bang Ar?" Timpal Agel.


"Hah. Kok gitu?" Ayra heran. Pasalnya mereka sudah merencanakan buat liburan bareng, namun belum ada tempat untuk dituju.


Agel hanya mengedikkan bahunya. Ayra yang melihatnya hanya mengerucutkan bibirnya.


'Sebenarnya bang Ar akan liburan kemana?'


.

__ADS_1


.


*Jan lupa vote, like, dan komennya yaa!😊


__ADS_2