
Abi memberanikan diri untuk masuk. Ia tak boleh menghindar. Karena memang ini salah dia juga sudah membiarkan sepupunya itu main hujan. Ia ketuk pintu yang memang sudah terbuka itu, hingga kedua bersudara itu melepas pelukannya.
Tok! Tok! Tok!
"Boleh masuk?" Izinnya dan diiyakan si empunya kamar.
Abi berlenggang mendekat dan ikut duduk diatas kasur dari arah berlawanan dengan Aska. Tanpa diduga Ia menempelkan punggung tangannya keatas dahi gadis yang tengah duduk dikasur yang sama itu.
Ia menghembuskan nafasnya panjang. "Maafin gue! Harusnya gue gak biarin lu kehujanan!" Tuturnya dan disambut senyuman Sena.
"Gak papa. Kita ka naik motor. Wajarlah kehujanan." Timpal Sena.
"Biarpun naik motor, berhenti dulu kan bisa?" Timpal Aska.
"Tadi tuh nanggung, hampir sampai rumah. Iya kan bi?" Ucap Sena beralibi seraya memberi kode pada sepupu kulkasnya itu dan dijawab anggukan olehnya.
Aska menghembuskan nafasnya panjang. Entah kenapa Ia merasa ada yang disembunyikan dari kedua sepupunya itu. Namun Ia juga tak bisa memaksa keduanya untuk jujur.
Atensi Abi beralih pada sebuah foto diatas nakas. Ia mengangkat satu sudut bibirnya kala melihat foto jadul yang terpampang disana. Potret empat saudara yang tengah tersenyum bahagia masih terawat apik disana.
Ia ambil pas foto itu, melewati Sena membuat Sena terpaku sejenak kala wajah Abi kembali melewati wajahnya dengan jarak yang begitu dekat.
Abi melihat pas foto itu dan terseyum tipis. Membuat Aska ikut tersenyum. "Sejauh manapun lu pergi, lu tetap saudara kita. Bagian dari kita." Tutur Aska.
"Gue kira kalian lupa?" Tanyanya.
"Gue kira lu yang lupa?" Tanya balik Sena. "Lu gak bakal balik lagi."
"Dan lu bakal rindu terus sama gue?" Tanyanya lagi seraya menatap Sena, membuat Sena ikut menatapnya dan menyimpulkan senyumannya.
Tentu interaksi keduanya terekam jelas oleh mata Aska. Hingga Ia tersenyum sinis, melihat tatapan keduanya tiba-tiba membuat hawa sekitar terasa panas,. Hingga Ia kegerahan.
"Ehemm!!" Aska sampai berdehem untuk menetralkan suhu didalam tubuhnya.
"Ya udah kamu istirahat! Biar besok bisa sekolah lagi!" Titahnya tersenyum seraya mengusek pucuk kepalanya dan disambut senyum manis Sena.
Hal itu kembali membuat Abi memalingkan wajahnya. Ingin Ia pun melakukan hal yang sama pada gadis disampingnya itu, namun egonya begitu keras menentang keinginan hatinya.
Setelah Sena menutup matanya, kedua sepupunya keluar meninggalkan Sena yang entah sudah terlelap atau hanya pura pura tidur.
"Gue harap lu gak lakuin ini lagi. Sena tetep lah Sena yang dulu, dia tetap akan sakit kalo harus kedinginan!" Peringat Aska membuat Abi tersenyum sinis.
Tanpa menjawab Ia berlenggang mendahului kakak sepupunya itu. Aska memutar bola matanya malas seraya menghembuskan nafasnya panjang.
__ADS_1
.
Kini ketiga pemuda bersaudara itu tengah duduk diruang makan, dengan berbagai macam makanan yang Mama Ay sediakan diatas meja.
"Kalian cepet makan! Makan yang banyak ya! Mama seneng deh kalian bisa kumpul lagi kek gini. Ntar kapan-kapan kita makan bareng." Tutur Ayra. "Ajak Dady sama mommy kamu juga ya bi!" Tuturnya pada Abi.
"Mereka belum kembali Ma." Timpal Abi.
"Ya ampun terus kamu sama siapa dirumah?" Tanya Ayra khawatir.
"Sendiri." Jawabnya singkat.
"Ya udah kalo kamu sendiri, kamu nginep disini aja ya! Mama khawatir kalo kamu sendirian dirumah." Titah Mama Ay dan disambut senyum simpul Abi.
Aska kembali menghembuskan nafasnya panjang. Dengan berfikir keras. 'Kalau Abi nginep disini, gue juga harus nginep' Batinnya.
Mereka pun memulai makannya dengan khidmat. Shaka yang biasa rame in suasana meja makan mendadak hening. Entah apa yang tengah Ia lakukan dengan layar pipih ditangannya. Sepertinya terlihat begitu serius. Hingga suara Mama sukses membuatnya terkejut.
"Kak! Aka!" Panggil sang Mama.
"Hah?! Iya Ma." Jawabnya mendongak.
"Kamu lagi apa sih? Tuh cepet makan, keburu dingin." Titah sang Mama.
Ketika mereka tengah sibuk dengan makannya, suara seseorang yang memasuki ruang makan mengalihkan atensi mereka.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" Jawab mereka serempak.
"Eh jagoan-jagian Papa lagi pada ngumpul ya?" Tanya Papa Ar yang baru pulang dari kantornya.
Ia menghampiri sang istri, hingga Ayra dengan cepat menyalimi tangan suaminya dan tak lupa ciuman dikening Ia dapatkan dari suaminya yang tak pernah berubah. Selalu memberikan perlakuan manis padanya meski didepan anak-anaknya.
"Bisa gak sih Mama sama Papa tuh gak usah mesra-mesraan depan kita. Kita tuh belum delapan belas plus plus Pa." Protes Shaka seperti biasa.
"Isshh kamu tuh! Gini aja disebut mesra-mesraan. Apalagi kalo tau Mama sama Papa ngamer ya!" Timpal Mama Ay membuat sang putra berdecak kesal.
Papa Ar dan Aska tersenyum bersamaan. Kedua lelaki ini begitu kompak. Selau memiliki ekspresi yang sama.
"Eh! Tunggu dulu ini siapa?" Tanya Papa Ar pada Abi.
Abi bangun dan menyalimi tangan Papa Ar. "Aku harap Papa inget sama aku." Tuturnya membuat Papa Ar melongo.
__ADS_1
"Abi!"
"Ini Abi? Ya ampun! Kamu apa kabar?" Tanya Papa Ar.
Abi tersenyum tipis. "Baik Pa!"
"Terus kamu kapan pulang? Dady sama mommy kamu juga pulang kan?" Tanyanya lagi.
"Tadi malam. Gak! Mereka masih ada urusan. Aku pulang duluan."
"Tapi mereka semua baik kan?" Tanya Papa Ar dan dijawab anggukan Abi.
"Hemm syukurlah! Kalo gitu selama dady sama mommy kamu belum pulang kamu disini aja. Jangan sendirian dirumah ya!" Titah Papa Ar dan diiyakan Abi seraya mengangguk.
Papa Ar pun ikut gabung makan bersama disana. Ia juga menanyakan putri kesayangannnya yang tak ikut gabung disana dan setelah tau alasan putrinya tak bisa gabung, Ia pun memutuskan akan melihatnya setelah selesai makan.
Abi pamit terlebih dahulu untuk mengambil barang-barangnya untuk dipindahkan kesana. Begitupun Aska yang berpamitan pulang untuk membujuk timomnya, agar mengizinkannya menginap dirumah Papa Ar.
Selang beberapa menit Abi kembali kerumah itu. Mama Ay sudah menyiapkan kamar untuknya, kamarnya berjejer bertetanggaan dengan kamar sepupu-sepupunya. Kamar khusus Aska yang biasa Ia tempati kalau menginap disana.
**
Sementara itu disebuah kamar Aska terus menghembuskan nafasnya panjang. Ia yang tak mendapatkan izin dari Papihnya merasa frustasi karena tak bisa menginap disana , mengingat Ia harus menjaga timomnya yang sakit. Karena sang Papih harus tugas ke luar kota. Akhirnya Ia pun pasrah membiarkan bayangan-bayangan yang tak ingin Ia pikirkan menari diotaknya.
*
Abi yang belum bisa tidur memutuskan untuk melihat gadis dikamar sebelahnya. Ia ingin memastikan demamnya sudah turun atau belum. Ia buka pintu kamar itu pelan dan melongokan kepalanya. Ia hampiri gadis yang sudah menutup matanya itu dan duduk ditepi ranjang.
Ia angkat punggung tangannya, mengechek suhu tubuhnya. Hingga tiba-tiba sebuah tangan mencekal pergerakannya, dan Sena membuka matanya membuat mata keduanya bertemu dan terkunci. "Jangan pergi! Tetaplah disini!" Titahnya.
*****************
Jangan lupa jejaknya yaa redersss😘😘😘
Ini yang bikin kedua sepupunya klepek-klepek😂
Mana kubu nya Abi?🤭
__ADS_1
Mana kubu nya Aka Aska?🤭