
Kriiingggg!!!
Bel pulang terdengar menggema disetiap kelas. Semua siswa membubarkan diri, berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing. Begitupun kelas sebelas. Sena dengan sahabatnya keluar dengan bercanda ria. Entah apa yang mereka bahas, namun sepertinya itu adalah pembahasan antar sesama perempuan.
Keduanya berjalan berdampingan, hingga tangan Sena digenggam seseorang dan sukses membuat Ia terkejut sekaligus menoleh. "Aka?!" Sapanya.
"Kamu pulang sama aka." Ajaknya dengan nada memerintah.
"Kenapa? Aka kan harus jemput Kia." Balas Sena heran.
"Dede udah pulang duluan." Balasnya seraya menyeret tangannya untuk berlenggang pergi. Namun tangan seseorang menahan lengannya, hingga menghentikan gerakannya.
Aska yang tau itu ulah siapa, tak menoleh lagi. Ia menghembuskan napasnya pelan seraya memejankan matanya sebentar. Menahan amarah yang siap untuk meledak. "Lepas!" Titahnya.
Namun tak ada pergerakan apapun dari si empunya tangan. Sepertinya emosinya benar-benar sudah memuncak. Ia berbalik seraya menepis kasar tangan yang bertengger dilengannya.
"Gue bilang lepas!" Titahnya dengan suaranya tetap rendah namun nadanya penuh penekanan.
Kedua gadis dibuat shok dengan tingkah Aska yang tak terduga. Sorot mata menajam dengan kilat amarah yang tersirat didalamnya. Aska yang selalu terlihat kalem dengan mata teduhnya, kini sukses membuat mereka takut.
Namun hal itu tidak dengan Abi. Genderang perang dilayangkan Abi pada sepupunya itu lewat sorot matanya. Sena sampai menelan salivanya susah payah kala melihat tatapan keduanya yang saling beradu.
Tanpa berkata lagi, Aska menarik tangan Sena. Hingga Ia pasrah mengikuti langkahnya. Abi tersenyum sinis, giginya menggertak menahan emosi yang ingin meledak.
"Udah biarin aja dulu, Sensen sama kak Aska!" Tutur Jingga seraya menepuk pundak Abi.
Curhatannya diistirahat tadi, tentu dipahami jelas sahabat paling peka ini. Jingga menyadari ada cinta rumit diantara ketiganya, yang Ia pun bingung sendiri untuk menjabarkannya.
Abi hanya melirik sekilas kearah Jingga, namun tatapannya kembali kedepan.
"Kak Aska emang paling posesif. Mungkin itu cara dia untuk menjaga Sensen. Semenjak lu pergi, hanya di tempat berlindungnya. Itu kenapa ada ikatan saling ketergantungan satu sama lain antara mereka." Jelas Jingga panjang lebar. Ia hanya berharap Abi mengerti, dengan apa yang Ia jelaskan.
Abi menoleh, melihat Jingga yang tengah menatapnya dengan sedikit menyunggingkan senyumnya. Ia mencerna apa yang Jingga katakan. Dulu Ia lah yang selalu menjadi tameng, untuk melindungi sepupunya itu. Tumbuh menjadi gadis cantik, tentu membuat kesuliatan tersendiri untuk Sena. Ada saja bullyan yang Ia dapat dari teman-temannya dan disitulah peran Abi. Ia akan berdiri digarda terdepan untuk melindunginya.
Dan sampai Ia pergi. Mungkin benar, Aska lah yang menggantikan perannya itu. Pastilah kakak sepupunya itu yang menjaganya agar tak tersentuh kaum laki-laki.
Abi pun menghembuskan napasnya panjang. Mencoba menetralkan api yang membakar dadanya. Tatapannya kembali kedepan melihat kedua sepupunya yang kian menjauh.
__ADS_1
'Menyedihkan! Haruskah berdiri ditepi cemburu?' Batinnya.
**
Sementara itu Aska membawa Sena menuju kelain arah. Bukan parkiran yang Ia tuju namun taman sekolah yang Ia pijaki.
"Eh! Eh! Bentar kak, kok kita kesini? Parkiran sebelah sana." Protes Sena, seraya menahan lengan sang kakak.
Aska pun berhenti. Ia berbalik menatap mata sang gadis dalam. Dan hal itu membuat Sena keheranan. "Aka kenapa sih? Aneh banget dari tadi?" Tanyanya dengan kedua alis yang bertautan.
"Ada yang mau Aka omongin?" Tanyanya lagi. Namun Aska masih saja diam menatapnya.
"Aka bilang dong ada apa? Jangan kek gini! Aku bingung lihat aka yang kek gini." Cerocosnya lagi.
"Coba aka jelasin! Apa aku punya salah? Terus salah aku dimana? Apa aku-" Belum selesau ucapannya, Aska segera menyelaknya.
"Jauhin Abi!" Titahnya. Sena melongo mendengar ucapan sang kakak.
"Bisakah kamu menjauhinya?" Tanyanya. Sena masih dalam posisi yang sama seraya mencerna ucapan sang kakak.
"Bisakah, kamu jangan terlalu dekat dengan dia?" Tanyanya lagi.
"Aka gak suka!" Balasnya denga tatapan. Ia arahkan ke arah lain.
"Gak suka kenapa? Dia sepupu kita, apa salahnya kalo kita deket?" Cecar Sena sedikit tak terima.
"Ya gak suka aja! Biarpun dia sepupu kita, tapi gak juga harus sedeket itu." Balas Aska dengan nada sedikit tinggi.
Sena menghembuskan napasnya panjang. Mendengar nada tinggi sang kakak tentu Ia tau kakaknya tengah berada dimode posesif. Diposesifkan sang kakak, tentu sudah menjadi hal biasa untuknya. Tapi entah kenapa kali ini, Ia tak suka kakaknya itu mengekangnya lagi. Apalagi Ia harus menjauh dari cowok yang sudah memberikan rasa nyaman untuknya, tentu itu hal yang mustahil yang harus Ia lakukan.
"Aka aneh." Balasnya. Hingga membuat Aska menoleh.
"Bukannya selama ini kita terus menunggunya pulang. Dan sekarang aka suruh aku menjauhi dia?" Tanyanya tak percaya seraya menggelengkan kepalanya.
"Nggak kak! Ini gak masuk akal." Finalnya seraya berlalu dengan cepat meninggalkan sang kakak disana.
"De? Dede?"Panggilnya, namun tak membuat gadis cantik itu menoleh.
__ADS_1
"Sensen!" Teriaknya lagi, namun masih juga tak dihiraukan gadisnya.
Ia berdecak kesal seraya mengusap wajahnya kasar. Mengacak-ngacak rambutnya, hingga berantakan. Hal yang justru membuatnya kian tampan. "Apa yang gue lakuin? Kenapa gue ngomong kek gitu? Ck! Eurgghh" Gerutunya diiringi erangan frustasi.
Ia bingung dengan dirinya sendiri. Kenapa Ia harus mengatakan hal itu pada gadisnya. Seperti inikah rasanya cemburu? Pikirnya.
.
Sena menggerutu kesal sepanjang jalan menuju parkiran. Ia tak menghiraukn lagi teriakan sang kakak dari belakangnya, yang menurutnya itu sangat menyebalkan.
"Ngeselin banget si aka! Ngapain juga pake ngelarang aku deket sama Abi? Kalo aku deketnya sama cowok yang gak jelas, baru dia ngomel-ngomel. Lah ini sama sepupu sendiri? Masih aja diposesifin. Bingung gue!" Bukan gerutuan lagi, namun terdengar seperti misuh-misuh dari gadis cerewet yang dengan santainya nyerocos sepanjang jalan.
Hingga sapaan seseorang menghemtikan cerocosannya. "Hai de? Mau pulang?" Tanyanya.
Sena menoleh seraya menghentikan langkahnya dan mendapati seorang cowok yang selalu membuatnya tertarik. Dan entah kenapa sapaannya kali ini tak membuat Ia tertarik sama sekali.
"Kak Deril." Sapanya balik dengan raut wajah yang tak dapat disembunyikan.
"Kenapa? Kek nya bete banget?" Tanyanya seraya menyenderkan tubuhnya disisi kuda besinya.
"Iya, aku lagi bete. Kesel akutuh sama sahabat kakak. Ngeselin!" Omelnya.
Deril terkekeh melihat ekspresi menggemaskan dari adik sahabatnya, yang sudah seperti adiknya itu.
"Udah jangan ditanggepin. Shaka kan emang gitu!" Ucapnya seraya mengusek pucuk kepalanya.
"Ishhh kok kak Sha sih!" Protesnya dengan wajah kian ditekuk.
"Lah terus siapa?" Tanya Deril heran. Pasalnya Shaka lah yang selalu membuat gadis didepannya seperti ini.
"si Aka!" Balasnya dan sukses membuat Deril melongo. Masa iya, sahabat yang selalu memanjakan adiknya itu mendadak ngeselin. Pikirnya.
"Ya udah! Pulang sama kak Deril aja yuk!" Ajaknya. Namun seseorang datang seraya mengagandeng tangan sang gadis.
"Dia pulang sama gue!" Tegasnya dan berlenggang sedikit menyeret sang gadis.
****************
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya yaa!š¤