
Bang Ar yang sudah masuk ke ruang kerja bersama sang Ibu mendapatkan kembali jeweran ditelinganya lebih keras.
"A..a..udah dong bu! Sakit bu..!" Rengeknya pada sang Ibu.
"Kamu tu ya Ar.. Bisa-bisanya kamu lakuin hal kek gitu." Omel Ibu dengan terus menarik telinganya.
"Iya..iya bu maaf gak sengaja." jawabnya.
"Maaf..maaf minta maaf sana sama Ayra. Orang lagi sakit kamu malah iya-iyain?" Kali ini Ibu sudah melepaskan jewerannya.
"Apa sih bu? Kita gak sampe situ kok." Elaknya.
"Ya, belum sampe. coba aja kalo ibu gak masuk. Apa yang bakal terjadi? Astagfirulloh Ar..Ar." Ibu sampai memijit keningnya merasa frustasi. Bisa-bisanya putranya yang kalem ini sampe kek gitu.
Bang Ar hanya diam tak menjawab omelan sang Ibu, membela diripun percuma karena emang Ia yang salah.
Ia hanya merutuki kebodohannya dalam hati. Bisa-bisanya dia berbuat sejauh ini. Benar kata Ibu, kalau mereka gak tercyduk apa yang bakal terjadi. Bahkan dirinya melupakan janjinya pada Papih Ayra untuk menjaganya.
Bang Ar hanya menghela nafasnya panjang menyesali kebodohannya itu.
"Apa dulu kamu juga suka ngelakuin hal kek gitu sama gadis yang disana?" Tanya Ibu yang tau jikalau putranya sudah berpisah dengan gadis itu.
"Ya gak lah bu. Pikiran Ibu ini terlalu jauh. Baru sekarang aku kek gini. Aku juga gak tau kenapa tiap berada dekat dia aku gak bisa ngontrol diri aku sendiri." Ucap bang Ar, jadi curhat.
"Apa kalian pacaran?" Tanya Ibu penasaran.
Bang Ar menganggukan kepalanya. "Iya!"
"Alhamdulillah...!"
"Kok Alhamdulillah sih bu?" Tanya bang Ar heran. Apakah Ibu ngizinin kalo iya-iya nya sama pacar?
"Ya, Ibu bersyukur kamu pacaran sama dia. Dari awal Ibu udah suka sama dia. Berharap dia jadi calon mantu Ibu." Jawab Ibu semangat. ini yang gak nyambung siapa sii?
"Tapi Ar, kamu harus ingat biarpun kalian pacaran tapi gak semestinya kalian melakukan hal itu." Mode ngomelnya on lagi.
"Iya Ibu. Aku akan coba mengontrol diriku jika dengannya." Timpal bang Ar.
"Bukan dicoba Ar tapi harus bisa. Kalo emang kamu dah gak kuat, mening segera dihalalin!" Tutur sang Ibu.
"Gak gitu juga bu. Masa maen halalin aja. Kita pacaran baru beberapa hari juga." Protes bang Ar.
__ADS_1
"Nah ini! Baru beberapa hari udah kek gitu, bisa dibayangin kalo udah lama apa yang bakal kalian lakukan?" Tanya Ibu lagi. Bang Ar kembali terdiam.
"Dengerin Ibu Ar!" Ibu meraih tangan putranya dan menggenggamnya.
"Segera nikahin dia! Ibu gak mau sampe kalian melakukan hal diluar batas. Ibu tau dan Ibu lihat ada cinta yang besar diantara kalian. Pikirkan ini baik-baik Ar!" Tutur sang Ibu.
Bang Ar terdiam mencerna setiap kata sang Ibu. Menikah? Apakah Ia sudah siap?
"Dia cantik loh Ar, pasti banyak yang suka. Kalo kamu terlalu lama ngulur waktu bisa digondol orang dia." Goda sang Ibu.
Bang ar hanya menghela nafasnya kasar. Ucapan Ibu yang ini memang paling Ia takutkan. Ia benar-benar harus berfikir mateng untuk memutuskannya.
**
"Bu..?" Sapa Ayra ragu. Ia masih malu kala kejadian tadi.
"Eh... Nak Ayra! Kenapa kedapur? Kamu dikamar aja. Biar Ibu bawain sarapan kamu." Tutur Ibu yang masih berkutat dengan wajan dan kawan-kawannya.
"Gak usah bu, aku udah mendingan kok. Maaf ngerepotin Ibu!" Ucapnya menunduk.
Ibu meninggalkan wajannya dan menghampiri Ayra di meja makan. Ibu menggenggam tangan Ayra dan menyunggingkan senyumnya.
Ayra mendongakan wajahnya. "Untuk apa bu?" Tanyanya heran.
"Maafin Ardi ya! Dia sudah berprilaku gak sopan sama kamu. padahal kamu lagi sakit." Jawaban Ibu membuat Ayra melongo, Ia berkedip berkali-kali.
Mungkinkah Ibu berfikir bang Ar melakukannya tanpa sepengetahuannya? Fikirnya. Kalo begitu Ia tak perlu malu berhadapan dengan Ibu.
"Iya bu gak papa!" Jawabnya seraya tersenyum. 'Syukurlah Ibu gak berfikiran yang enggak-nggak tentang gue' batinnya.
"Ya udah kamu duduk. Biar Ibu siapin sarapannya!" Titah Ibu.
"Biar aku bantu bu!" Tawar Ayra.
"Udah gak usah. Biar Ibu aja! Kalo kamu mau panggil Ardi aja gih! Soalnya temen-temen kalian tadi izin keluar, mau sarapan diluar katanya." Tutur Ibu.
"Ya udah deh bu, aku panggil bang Ar dulu ya!" Izin Ayra pada Ibu dan berlalu pergi.
Ibu tersenyum, bahagia rasanya mendapati calon mantu yang begitu perhatian.
**
__ADS_1
Tok...tok...tok...
"Bang?"
Ceklek
Pintu terbuka dan nampaklah sosok jangkung yang selalu Ia kagumi itu. Rambutnya yang basah menambah kesan cool, Dada bidang yang slalu membuatnya nyaman untuk bersandar, roti sobek-sobek yang begitu menggiurkan, dan sesuatu yang terbungkus handuk disana...
"Aaaa..."
Ayra menjerit dan langsung membalikkan badannya. Awalnya Ia begitu terpesona melihat setiap pahatan indah ditubuh sang kekasih. Namun setelah sadar Ia merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa Ia begitu menikmati pemandangan tersebut.
Jantung Ayra berdegup lebih kencang, ini kala pertamanya Ia melihat tubuh setengah telanjang seorang pria, terkecuali Papih dan abangnya. Ia sampai menggigit bibir bawahnya kuat-kuat saat otaknya traveling kemana-mana.
"B-bang ditunggu sarapan." Ucap nya gugup dan segera ingin berlari.
Namun tiba-tiba bang Ar mencekal tangannya dan menariknya.
Deg
Punggungnya menabrak dada bidang itu. Ada gelenyar aneh dihatinya.Tiba-tiba hawa terasa begitu panas.
Bang Ar membisikkan sesuatu ditelinganya. "Maafin abang ya sayang!" Hembusan nafas bang Ar menerpa telinganya membuat bulu kuduknya berdiri.
"U-untuk apa bang?" Tanyanya semakin gugup.
"Untuk yang tadi." Jawab bang Ar lagi masih dengan posisi yang sama.
"I-iya bang gak papa." Ia menarik tangannya, buru-buru pergi, sambil berteriak.
"Aku gak kuat bang!"
****************
Ini yang nyesel tapi menikmati ya bang😂😂
Ini yang udah gak kuat😂😂
__ADS_1