
Hari pernikahan Devan dan Rila tiba. Ketiga sahabat Rila sudah siap dari kemaren. Mereka sengaja bermalam dirumah calon mempelai wanita ini.
Bukan hanya ketiga gadis itu saja, bahkan Tia istri Ian sekaligus tetangganya sudah hadir ikut serta bersama ketiganya.
"Ya, gimana rasanya nikah?" Tanya Ayra pada Tia, saat keempatnya tengah mempersiapkan gaun untuk mereka pakai.
Waktu masih terlalu malam. Namun mereka begitu antusias, hingga lupa untuk tidur.
"Emm..Enak!" Jawab Tia tersenyum.
"Hah? Gimana? Gimana?" Bukan Ayra yang begitu antusias melainkan Feby.
"Lu tu ya, giliran tentang nikah aja semangat bener." Timpal Agel menoyor bahu Feby.
"Iya nih. Urusin dulu noh calon suaminya." Timpal Ayra.
"Yey. Gakpapa kali, gue juga ikut belajar." Balas Feby membuat mereka tertawa.
"Nikah itu enak. Apalagi sama orang yang kita cinta. Tiap hari kita diperhatiin, disayang, semua kebutuhan kita dia yang mikirin, jadi kita gak susah-susah kerja. Kerjanya cuma malam aja." Tutur Tia.
"Hah? Ngapain kerja malam?" Tanya Feby dengan polosnya dan langsung mendapatkan toyoran dari kedua sahabatnya.
"Gak usah pura-pura polos lu, gue tau lu masih perawan, tapi otak lu udah janda." Timpal Agel diiringi gelak tawa mereka.
"Ya pokonya kek gitu lah." Timpal Tia. Dan ketignya hanya manggut-manggut dengan terus bercanda.
"Oh iya Ay, jadi lu beneran udah tunangan sama bang Ar?" Tanya Tia.
Postingan Agel didunia maya bener-bener jadi trending topik seantero tempat tinggal mereka. Apalagi di grup chat Alumni SMA nya.
Dulu mereka satu sekolah waktu SMA, Tia memang teman sekelas mereka namun tidak terlalu dekat dengan keempatnya.
Bahkan Tia sempat membenci Ayra, karena sudah dari sejak mereka SMA Ia menyukai Ian. Tapi Ian terus mengejar Ayra, sampai Ayra sudah berulang kali menolaknya pun Ian masih pantang menyerah.
__ADS_1
Sampai Ian merasa lelah dan memilih Tia yang setia menunggunya untuk menjadi pendampingnya.
"Emm..iya! Nih!" Jawab Ayra tersenyum bahkan menunjukn cincin dijari manisnya.
"Selamat deh, moga lu cepet nyusul." Timpal Tia. "Dan gak ganggu Ian lagi." Lanjutnya.
Penuturan Tia sukses membuat mereka yang tengah bercanda ria terdiam. Begitupun Ayra, Ia sampai berdecak.
"Lu denger ya, Ya. Dari dulu gue gak pernah punya perasaan apapun sama Ian. Gue juga gak pernah kasih dia harapan apapun. Kalo tentang sikap gue ke dia yang terlihat friendly. Itu hanya sebatas menghargai perasaan dia terhadap gue." Tutur Ayra panjang lebar.
"Dan lu harus tau cintanya Ayra mentok di bang Ar dari dulu." Timpal Feby. Membuat mereka tersenyum.
"Iya. Gue percaya kok sama lu. Lagian sekarang cinta Ian cuma buat gue." Timpal Tia ikut tersenyum, memegang bahu Ayra.
"Nah tu lu tau, lagian buat apa sii benci sama gue. Apalagi Ian juga udah jadi milik lu ini." Balas Ayra.
"Sejujurnya gue bukan benci, cuma iri aja. Kenapa semua cowok terlihat begitu respek sama lu. Sampai ketua osis yang begitu dingin aja luluh sama lu." Ucap Tia.
Semasa SMA Ayra memang begitu populer. Selain cantik dan body nya bak model, Ayra juga friendly dengan siapapun. Sikapnya yang cerewet, nyablak dan apa adanya membuat semua teman-temannya menyukainya. Bahkan semua most wanted sekolah menyukinya, termasuk si ketos yang dingin itu.
"Ck. Itu sih takdir gue udah cantik dari sononya." Timpal Ayra dengan percaya dirinya membuat Feby menoyornya dan disambut gelak tawa mereka.
**
Hari sudah menunjukkan waktu subuh, keempat gadis itu, lebih tepatnya tiga gadis dan satu orang istri itu sudah siap untuk ikut dirias sang make over.
Rencananya keempatnya akan menjadi bridesmaid nya sang mempelai wanita.
Mereka sudah didandani sedemikian rupa,dan sudah memakai gaun yang sama. Gaun panjang berwarna silver dengan lengan pendek dengan paduan barukat diatasnya. Gaun model duyung yang pas ditubuh keempatnya.
Seperti janji Rila kemaren, keempat cowok pun memakai setelan jas senada dengan para cewek. Disponsori langsung oleh bang Ar.
Rambut keempatnya sudah ditata sedemikian rupa. Mereka tak kalah cantik dengan sang mempelai wanita.
__ADS_1
Setelah serangkaian acara terlaksana, kini giliran acara pokok, yakni akad.
Semua nampak tegang menunggu mempelai wanita turun. Sang mempelai wanita pun tiba dengan menggunakan kebaya putih adat sunda, dengan siger dan bunga melati menghiasi kepalanya.
Rila begitu cantik dan anggun. Semua tampak terpesona melihat kecantikan calon pengantin ini.
Dengan diiring keempat bidesmaid yang juga sama cantiknya. Membuat mereka jadi pusat perhatian.
Begitupun sang mempelai pria, Ia begitu terpana melihat wanitanya. Ia terus menatap sang pujaan dengan senyum yang tak pernah pudar.
Rila sudah duduk disamping Devan. Didepannya sudah siap pak penghulu dan Ayahnya sebagai wali yang akan menikahkannya.
"Bagaimana nak Devan? Apa benar gadis disampingmu ini calon mempelai wanitanya?" Tanya pak penghulu menggodanya.
"Iya pak. Benar. Dia istriku!" Jawabnya dengan tatapan yang tak lepas dari wanitanya, membuat Rila tersipu.
"Calon Van calon." Timpal Ayah Rila memeperingati calon mantunya.
"Eh iya, Yah." Jawabnya dengan nyengir kuda dan dijawab gelengan kepalanya oleh calon mertuanya.
"Ya udah, lebih baik kita mulai saja. Bagaimana nak Devan apa sudah siap?" Tanya pak penghulu lagi.
"Sudah pak!" Jawab Devan tegas.
Seteleh glady resik dulu sebelum mengucap, kini ijab kabul siap dilaksanakan.
Ayah Rila sudah menjabat tangan Devan yang sudah keringat dingin. Dan siap mengucapkan ijab.
"Bismillahirahmannirohim Saudara Devan Mahendra bin Mahendra, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Rila Ayuningtiyas binti Riza hermawan, dengan maskawin uang sebesar 50 juta, perhiasan emas, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Rila Ayuningtiyas binti Riza hermawan dengan maskawinnya tersebut dibayar tunai."
"Bagaimana saksi sah?"
__ADS_1
"SAH!"
*************