Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 75


__ADS_3

Ayra yang mendengar suara teriakan dari luar, segera mendekap sang suami. Menarik selimut yang hampir melorot, sampai menutupi tubuh keduanya.


Seseorang diambang pintu terpaku, melihat keduanya. Tak ada suara yang Ia keluarkan, bahkan mang Asep yang mengomelinya bagai tak Ia dengar. Ayra hanya menatap tajam kearahnya dengan nafas yang masih senen kemis.


"Aduh atuh Euis, kamu tuh gak sopan. Ayo pergi!" Mang Asep menarik lengan sang adik, yang terpaku bagaikan patung.


"Maaf ya den, neng! Maafin sudah ganggu!" Mang Asep menunduk meminta maaf, tak ingin melihat pemandangan didepannya, menarik lengaan sang adik dan segera menutup pintunya kembali.


Ayra menghembuskan nafasnya lega. Ia menangkup wajah sang suami diceruk lehernya, melihat keadaanya yang tak bersuara dan tak gerak pula. Bahkan nafasnya serasa tak terdengar.


"Bang? Kamu gak papa?" Tanyanya melihat mata sang suami yang terpejam.


Bang Ar perlahan membuka matanya, menghembuskan nafasnya panjang. Ia tenggelamkan lagi wajahnya diceruk sang istri.


"Ambyar!!!" lirihnya.


Ayra tersenyum. Mengusap keapalanya sayang. "Mau ngulang?" Tanyanya.


Bang Ar menarik dirinya dan berguling kesisi sang istri dan mendekapnya erat.


"Bentar, gini aja dulu!" Timpalnya merasakan lemas dan kaget bersamaan.


Ayra pun mengeratkan pelukannya. Menciumi dada sang suami, menguseuknya manja. Membuat bang Ar kembali terpancing. Ia melepaskan dekapannya dan berdiri membuat Ayra keheranan.


"Abang mau kemana?" Tanyanya ikut terbangun.


Bang Ar tak menjawab Ia berlenggang menuju pintu. Diputarnya kunci pintu, dan kembali menghampiri sang istri bahkan Ayra melihat jelas si pisang yang berdiri tegak. Bang Ar menarik selimut dari tubuh sang istri dan melemparnya.


Ia kukung kembali sang istri. Menyerang kembali bibir yang sudah menebal karena ulahnya itu. "Gak ada yang akan ganggu buat kita bikin banyak part!" Ucapnya menyeringai.


Ayra menelan salivanya susah payah. Namun Ia hanya bisa pasrah dan menikmati setiap perlakuan yang suaminya berikan. Melupakan waktu makan siang dan empat rakaat kewajibannya.


**


Waktu sudah menunjukan pukul empat lima belas menit, namun sepasang pengantin baru itu masih terlelap dibalik selimutnya. Pengulangan berkali-kali membuat keduanya kelelahan dan tertidur.


Ayra terbangun dan mendapati sang suami yang masih terlelap. Ia bangun untuk membersihkan diri terlebih dahulu. Menyelimuti tubuh sang suami sampai dadanya.


Ayra sudah menyelesaikan ritual mandinya. Ia keluar dan mendapati sang suami yang sudah bangun dan tengah duduk di sisi ranjang.


"Udah bangun bang?" Tanya Ayra yang tengah menggosok rambutnya sambil berjalan menghampirinya.


"Mandi gih!" Titahnya seraya mengacak rambut suaminya yang memang sudah acakadul.

__ADS_1


Bang Ar menarik lengan sang istri sampai duduk dipangkuannya. "Kenapa gak bangunin abang hemm?" Tanyanya dengan memeluk pinggang sang istri, mencium rambut basahnya.


"Kan bisa mandi berjamaah." Lanjutnya yang akan mulai menyelami ceruknya. Namun ditahan sang istri.


"Udah berjamaahnya sholat ashar aja. Sana cepetan mandi. Udah laper juga." Timpal Ayra.


Bang Ar yang mendengar sang istri kelaparan segera bergerak. "Ya udah abang mandi dulu ya!" Ia kecup kening sang istri membangunkan sang istri dan juga dirinya, lalu berlenggang ke kamar mandi.


**


Kini keduanya berjalan menuju meja makan. Setelah mebersihkan diri dan melaksanakan kewajibannya berjamaah, keduanya memutuskan untuk makan.


"Ini kok udah ada makanan? Siapa yang masak bang?" Tanya Ayra heran. Apalagi mensapati mang Asep yang sudah pulang.


"Entahlah. Mana mungkin juga mang Asep yang masak?" Timpal bang Ar dan menyomot goreng balabala.


"Jangan dimakan bang!" Ayra menahan tangan bang Ar, menghentikan gorengan yang hampir mendarat dibibirnya.


"Kenapa?" Tanya bang Ar heran.


"Takut ada peletnya." Timpal Ayra membuat sang suami tergelak.


"Mana mungkin!" Timpalnya namun tak ayal menyimpan gorengannya kembali.


Bang Ar tersenyum dan mengikuti sang istri kedapur. Menyenderkan dirinya dimeja dapur dengan memasukkan tangan disaku celananya.


"Emangnya bisa masak?" Godanya.


"Wah ngeremehin!" Ayra mengambil celemek, memakainya dan mencepol rambutnya asal. Membuat bang Ar tertawa.


Ayra mulai mencari bahan dikulkas, mengambil beberapa telur dan menggorengnya.


"Nih!" Ayra menyodorkan dua telor ceplok berbalut kecap yang hampir gosong kedepan sang suami.


Bang Ar melongo, Ia kira akan dibuatkan makanan apa oleh sang istri.


"Udah gak usah gitu ngelihatnya! Ini makanan spesial yang pertama aku buat, khusus untuk abang!" Tutur Ayra dan disambut senyuman oleh suaminya.


"Ayo!" Ayra menuntun suaminya untuk duduk. "Gak papa kali ya, nasinya kita makan?" Tanya Ayra membuat bang Ar tergelak. Dia sendiri yang melarang, dia pula yang mau makan.


"Gak lah. Gak papa kita makan aja!" Timpal bang Ar.


"Ya udah nasinya aja. Lauknya buatan aku aja!" Timpalnya membuat bang Ar geleng-geleng kepala melihat tingkah sang istri.

__ADS_1


Ayra menyendok nasi dan telur buatannya keatas piring. Mulai menyendokkannya dan menyuapi suaminya.


"Aaaa!" Bang Ar menerimanya, mengunyahnya pelan.


"Gimana? Enak gak bang?" Tanyanya penasaran. Bang Ar masih terus mengunyhnya tanpa mengeluarkan komentar.


"Bang?" Tanyanya lagi.


"Enak! Banget!" Jawab bang Ar dan tersenyum. Ia mengambil alih sendok ditangan sang istri dan mulai makan.


Ayra yang penasaran, mengambil lagi sendok dan mulai mencoba masakannya. Dan..


Uheeekk!


Ayra berlari ke westapel dan membuang makanan dari mulutnya.


"Jangan dimakan bang ini keasinan!" Ia mencegah suminya yang akan makan.


"Gak papa ini enak kok." Timpal bang Ar dan kembali memakannya.


"Bohong! Ini asin bang." Protesnya dan kembali duduk di kursinya.


"Emang asin, tapi enak!"


"Enak dari mana coba?"


"Enak, karena abang makannya dengan perasaan bersyukur, istri abang mau memasakan makanan buat abang. Apalagi makannya sambil lihat bidadari kek gini. Nikmat warbiyasaa!" Ucapnya seraya memasukan kembali makanan kemulutnya dan menatap teduh sang istri, disertai senyum yang melelehkan hati Ayra.


Ayra ikut tersenyum, Ia tangkup pipi suaminya dan mengecup bibir yang selalu memujanya dengan kata-kata manisnya itu.


"Sayang abang! Jangan bohong lagi ya bang! Ini gak enak. Kita cari makan diluar aja ya!" Ajaknya.


"Kamu pengen makan diluar ya?" Tanya bang Ar menangkup kedua pipi sang istri dan dijawab anggukan olehnya.


"Ya udah, kita cari makan yuk!" Bang Ar menggandeng tangan sang istri dan keluar dari rumah.


"Mau pake mobil apa jalan kaki?" Tanyanya.


"Jalan kaki aja bang. Sekalian jalan-jalan sore!" Timpalnya dan dijawab anggukan oleh sang suami.


Keduanya berjalan menyusuri jalan kecil menuju alun-alun desa. Rencananya mereka akan mencari warung pecel disana. Dengan bertautan jemari tangan keduanya berjalan diiringi dengan obrolan dan canda tawa hinngga tiba di tempat yang dituju. Dan benar saja ternyata ada warung pecel juga disini.


******************

__ADS_1


__ADS_2