Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 21


__ADS_3

"Kita mau kemana bang?" Tanya Ayra mensejajarkan langakahnya.


"Kita lihat-lihat yang lagi metik, mau gak?" Tawar bang Ar.


"Emm..boleh bang. Hayu lah!" Ajaknya dengan menautkan tangannya ke tangan bang Ar.


Bang Ar terdiam melihat tautan tangan mereka, Ia tersenyum merasakan halusnya tangan sang gadis.


Ayra yang sadar bang Ar tak bergerak, kembali menoleh kebelakang. Ia melihat tangan nya dan tersadar. Buru-bu Ia melepaskan tautan tangan mereka.


Namun dengan cepat bang Ar menautkan kembali tangan keduanya dan berjalan. Ayra hanya mampu mengulum senyum dan mengikuti bang Ar.


Begitu nyaman. Keduanya berjalan beriringan dengan saling menggenggam erat, seolah tengah menyalurkan perasaannya masing-masing.


Menyusuri jalan setapak, melihat para pekerja yang tengah memetik teh. Canda tawa keduanya mengiringi perjalanannya.


"Abang sering kesini?" Tanya Ayra.


"Emm..gak sering sih. Cuma kalo lagi pengen aja." Jawabnya.


"Pasti pacarnya sering dibawa kesini ya?" Tanya Ayra lagi. Entah kenapa Ia sangat kepo dengan kisah cintanya bang Ar.


Bang Ar berhenti dan membuat Ayra juga berhenti.


"Abang belum pernah ajak siapapun kesini. Cuma kamu." Bang Ar melihat ke arah Ayra.


Ayra mengulum senyumnya. "Masa? Trus selama ini pacaran kemana aja? Sayang banget kan tempat enak kek gini dilewatin" tuturnya.


Bang Ar tersenyum. "Paling nyampe mall aja. Mana mau dia diajak jalan ketempat kek gini." Jawabnya.


Ayra menganggukan kepalanya mengerti. Mungkin mantan pacarnya bang Ar ini manja. Pikirnya.


"Oh ya bang. Emmm kalo boleh tau, kenapa kalian bisa putus?" Tanyanya penasaran.


Bang Ar terdiam. Ayra yang mengerti merasa tak enak hati sudah terlalu ikut campur.


"Yuk bang jalan lagi!" Ajak Ayra mengalihkan perhatian.


Bang Ar menahan tangan Ayra. Ayra pun kembali menatap ke arah Bang Ar.


"Dia lebih memilih impiannya." tutur bang Ar tersenyum miris.


"Lebih tepatnya sudah tidak ada lagi kecocokan diantara kami. Dari beberapa bulan sebelumnya memang hubungan kita sudah terasa hambar. Entah apa penyebabnya." Ayra menggenggam kedua tangan bang Ar, mencoba menguatkannya.


"Kelihatan banget ya patah hatinya?" Tanya bang Ar tersenyum jahil.

__ADS_1


"Isshh abang ini! Aku tuh prihatin tau. Pengen nyemangatin." Ayra melepaskan genggamannya dan mengerucutkan bibirnya.


Membuat bang Ar tertawa. "Mau jadi penyemangat apa penawar?" Goda bang Ar.


"Abang ih!" Ayra memukul lengan bang Ar dan semakin membuatnya ketawa kencang.


"Iya..iya ampun!" Bang Ar kembali meraih tangan Ayra. Menautkan kembali jari mereka.


"Yang jelas aku sama dia belom berjodoh, Mungkin Tuhan tengah memepersiapkan jodoh lain untuk abang." Jawabnya dengan terus menatap mata Ayra dan jangan lupakan senyuman yang begitu manis.


Ayra membalas tatapan itu dan ikut tersenyum. Rasanya Ia takan pernah melupakan satu detikpun kebersamaannya bersama sang pujaan.


Mereka kembali berjalan dengan tangan yang masih terus bertautan.


"Duduk disitu yuk bang!" Ajak Ayra menunjuk sebuah bangku.


Mereka berjalan menuju bangku yang ditunjuk Ayra dan duduk disana.


"Cape ya?" Tanya bang Ar.


"Gak. cuma pegel aja, pengen duduk." Jawabnya dengan cengiran kuda.


"Kamu tuh yah? Sama aja." Timpal bang Ar terkekeh.


Ayra memunggungi bang Ar menyandarkan dirinya dipunggung ternyaman itu saat lagu lawas dari Roulette yang dicover oleh Nabila Suaka. Berjudul "Aku jatuh cinta". Terputar.


*Awalnya ku tak mengerti apa yang sedang kurasakan


Segalanya berubah dan rasa rindu itupun ada


Sejak kau hadir disetiap malam ditidurku


Aku tau sesuatu sedang terjadi padaku...


Sudah sekian lama kualami pedih putus cinta


Dan mulai terbiasa hidup sendiri tanpa asmara


Dan hadirmu membawa cinta sembuhkan lukaku


Kau berbeda dari yang kukira...


Aku jatuh cinta...kepada dirinya


Sungguh-sungguh cinta, oh apa adanya

__ADS_1


Tak pernah ku ragu


Namun tetap slalu menunggu


Sungguh aku


Jatuh cinta kepadanya*...


Liriknya pas ngena dihati keduanya. Akankah mereka saling mengungkapkan?


Semilir angin menambah sejuk dihati mereka. Dengan mata terpejam, merasakan kenyamanan.


Saking nyamannya Ayra sampai tertidur dipunggung bang Ar.


"Ay?" panggil bang Ar.


Tak ada sahutan dari belakang, membuat bang Ar menolehkan wajahnya.


"Ay, kita pulang yuk!" Ajaknya.


Masih tak ada jawaban. Rasa beban dipunggungnya terasa berbeda, apakah dia tidur? pikir bang Ar.


Bang Ar membalikkan badannya pelan-pelan. Dan terlihatlah wajah yang tengah tertidur pulas dengan begitu tenang.


Bang Ar memindahkan kepala Ayra kebahunya. Mencopot headset dari telinga mereka.


Dipandanginya wajah cantik yang begitu damai kala tidur. Bang Ar tersenyum membenahi anak rambut yang menutupi wajah cantik itu. 'Bolehkah aku memperjuangkanmu?' batinnya.


"Ay..!!" Panggilnya pelan pada sang gadis.


Belum ada pergerakkan.


"Ay...bangun! Kita pulang!" Panggilnya lagi. Kali ini bang Ar memberanikan diri mengusap pipi mulusnya.


Ayra mengerjapkan matanya, Ia terkesiap. Ia pikir semuanya hanya mimpi namun ini benar-benar terjadi.


Ia berdehem menetralkn kegugupannya.


"Kita pulang bang?" Tanyanya.


"Iyaa. Udah sore. Yuk!" Ajak bang Ar.


Bang Ar menuntun Ayra untuk berjalan pulang dengan kembali benggenggam tangannya.


************

__ADS_1


__ADS_2