Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
S2 Getaran hati


__ADS_3

Hari kian sore, waktu sudah menunjukan jam empat dan keempat sahabat itu baru saja selesai mengerjakan tugas kelompoknya.


"Hati-hati ya!" Pesan Sena pada kedua sahabatnya yang baru menaiki kuda besinya.


"Iya. Lu juga!" Balas Jinjin. Hingga kuda besinya melesat terlebih dahulu meninggalkan parkiran.


Sena hendak mengambil helmnya, namun didahului Abi. Ia memakaikan helm tersebut pada kepala gadis didepannya. Sena kembali dibuat terpaku dengan perhatian pemuda didepannya. Jantungnya kembali dibuat berdegup kencang kala jarak keduanya kian terkikis.


Abi menarik satu sudut bibirnya. "Udah! Yuk!" Ajakan Abi sukses membuat Ia terkesiap.


'Gue kenapa sih?' Batinnya seraya menepuk-nepuk kepalanya yang terhalang helm.


"Naik!" Perintah dari pemuda yang membuatnya tak menentu itu, sukses membuatnya kembali terkesiap. Hingga Ia pun segera naik.


Seperti biasa Abi dengan sengaja menancap gasnya sedikit kencang. Hingga Sena memeluk erat perutnya. Sungguh pelukan hangat itu begitu menenangkan hatinya. Ia begitu menikmati degup jantung gadis dibelakangnya yang begitu bersahutan dengan jantungnya.


'Apa kau merasakan hal yang sama? Sensen?' Batinnya.


**


"Kok berenti disini? Ada yang mau lu beli" Tanya Sena heran ketika motor terparkir didepan indojuni.


Abi mengangguk seraya membuka helmnya. Diikuti Sena pula. Keduanya pun memasuki mini market itu beriringan.


Abi tengah memilih beberapa keperluannya, Sena ikut membantu memilihkan apa yang sepupunya itu butuhkan. Hingga sapaan seseorang membuatnya menoleh.


"Haii de. Lu disini?" Tanyanya membuat keduanya menoleh.


Seorang pemuda dan seorang gadis yang menempel manja dilengannya, dengan mengenakan seragam yang sama tengah berdiri disampingnya. Sepertinya mereka juga tengah berbelanja disana.


"Kak Deril?!" Sapa Sena dengan senyum yang Ia paksakan.


"Lagi beli apa?" Tanyanya basa basi.


Terlihat jelas raut wajah tak bersahabat dari gadis disamping sahabat kakanya itu yang kian bergelayut mesra.


Sena sedikit tersenyum sinis melihat rangkulan tangan itu. Lalu Ia kembali menatap wajah tampan yang begitu Ia kagumi dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin.


"Iya! Lagi antar Abi nih!" Balasnya dan dijawab anggukan Deril.


"Udah yuk yang! Aku udah kegerahan nih!" Rengek Sisil pada keaksihnya itu membuat Sena kembali tersenyum sinis melihat itu.

__ADS_1


"Ya udah de kakak duluan ya!" Pamitnya dan dijawab anggukan oleh Sena disertai senyum yang sangat Ia paksakan.


Setelah kepergian sepasang sejoli itu, Sena menjadi uring-uringan tak jelas. "Dasar mak lampir! Centil! Gue sumpahin kalian cepat putus. Ngeselin emang." Gerutunya.


Abi yang mendengar gerutuan itu menghembuskan nafasnya panjang. Ia genggam tangan mulus itu menuju stand makanan. Hingga mereka sampai disebuah freezer. Ia ambil eskrim dalam cone dengan toping slai stroberi diatasnya dan menempelkanna dipipi sang gadis.


Sena merasa shok, namun tak ayal tersenyum juga. Lalu Ia ambil eskrim itu untuk dimakannya.


"Udah sejuk?" Tanya Abi dan dijawab anggukan Sena seraya memakan es krimnya.


Abi menarik satu sudut bibirnya dan megusek pucuk kepalanya. Sena kembali dibuat tersipu dengan perlakuan itu. Namun Ia berusaha tak menunjukannya. Dirasa cukup Abi kembali menarik tangannya menuju kasir.


Diparkiran Sena masih belum selesai memakan eskrimnya. Hingga mereka memutuskan untuk duduk sejenak disebuah bangku dekat parkiran itu.


"Lu masih suka dia?" Tanya Abi. Ia yang tau gadis disampingnya itu menyukai pemuda yang barusan keduanya temui didalam itu dari sejak kecil, tentu tak aneh lagi untuk bertanya.


Sena menghembuskan nafasnya panjang. "Entahlah! Gue juga bingung. Gue cuma merasa iri aja sama Sisil." Ucapnya.


"Dia yang baru kenal beberpa tahun sama kak Deril, bisa pacaran sama dia. Sedangkan gue, yang udah kenal dari orok. Gak pernah ada kesempatan buat deket apalagi pacaran sama dia." Lanjutnya.


"Karena itu hanya sekedar kagum yang akan berakhir menjadi obsesi." Balas Abi.


Sena menoleh pada sepupunya. "Oh ya?" Tanyanya tak percaya dan dijawab anggukan oleh Abi.


"Rasa suka dan kagum itu bisa dirasain sama siapapun. Dan hanya pada satu orang, hati lu bisa bergetar." Ucapnya dengan menatap dalam mata gadis diepannya. "Dan itu cinta." Jelasnya.


Tatapan keduanya kembali terkunci. Hingga Sena terus mencerna ucapan pemuda didepannya dan menyadari satu hal, hatinya bergetar hebat.


Begitupun yang dirasa Abi. Ibu jarinya terulur menyentuh bibir atas gadis dedepannya, menghapus jejak eskrim yang menempel disana.


Sena kian terpaku akan perlakuan itu. Apa ini? Perasaan ini? Batinnya terus berperang mencari jawaban akan hal yang mustahil untuknya itu.


Jarak keduanya kian dekat, hingga kedua benda kenyal itu hampir bertemu. Namun suara klakson mobil menyadarkan mereka. Keduanya gelagapan seraya berdehem keras.


"Kita pulang!" Abi menggandeng tangan Sena dan membawanya berdiri. Keduanya pun menaiki kuda besinya dan berlalu pulang.


**


Aska menatap kesal pada sepasang manusia yang baru saja pulang. Sudah dari satu jam yang lalu, Ia menduduki kursi teras untuk menunggu sang adik. Hingga keduanya mendekat, Ia pun segera berdiri dan mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


"Ini udah terlalu sore. Kalian dari mana? Kenapa gak langsung pulang?" Cecarnya.

__ADS_1


Ia yang tau acara mengerjakan tugas sudah selesai dibuat meradang, membayangkan sang adik yang dibawa tak jelas satu sepupunya itu.


"Kita dari indojuni dulu kak. Beli keperluan Abi." Balas Sena.


"Kenapa Hp nya gak aktif?" Tanyanya lagi.


Sena mengambil layar pipih itu dari saku roknya dan memperlihatkan layar itu padanya. "Mati!"


Abi tak menanggapi apapun. Ia berlenggang begitu saja dari hadapan kakak sepupunya. Aska menghembuskan nafasnya panjang. Ternyata kedatangan sepupunya itu, sungguh membuatnya rutin menarik dan membuang nafas panjang dan beraturan.


"Ngapain disini sih kak! Yuk kedalam!" Ajak Sena dan dijawab anggukan Aska, meski hati yang masih dongkol.


**


Ceklek!


Pintu terbuka dan nampaklah seorang pemuda yang tengah menggosok rambutnya yang basah. Sepertinya Ia baru selesai melaksanakan ritual mandinya.


"Apa gak bisa ketuk pintu dulu?" Tanyanya.


Aska tersenyum mendapati pertanyaan itu. Tentu Ia sedikit tak terima kamar yang biasa Ia tempati menjadi kamar sepupunya. "Biasanya gue masuk kesini tanpa ketuk pintu." Jawabnya.


"Ini kamar Aka?" Tanya Abi.


"Ya begitulah. Tapi itu sebelum ada penghuni barunya." Timpalnya.


"Gue akan keluar." balasnya hendak keluar, namun tangan Aska menahannya.


"Gak perlu! Gue juga harus pulang. Mungkin lain kali jika perlu, kita bisa berbagi kamar ini." Balas Aska.


Abi menarik satu sudut bibirnya mendengar itu. Ia mendekat mengikis jarak dengan kakak sepupunya. Hingga tatapan mereka kembali beradu. ia mendekatkan wajahnya pada telinga sepupunya itu seraya menepuk dadanya.


"Dan gue, gak suka berbagi." Ucapnya pelan, namun penuh penekanan.


********************


Jangan lupakan jejaknya yašŸ˜ Janga tanya kenapa up nya gak tentu waktu, yang penting up aja yaa🤭 Yuk ramaikan!



__ADS_1



__ADS_2