Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 28


__ADS_3

Pagi ini Ayra tengah bersiap-siap untuk liburannya bersama sahabat-sahabatnya dan sang pacar tentunya.


Pacar? Ah rasanya Ayra masih belum percaya, benarkah Ia sudah punya pacar? Dan benarkah yang menjadi pacarnya itu bang Ar? Sang pujaan yang selama ini menghantui tidurnya, yang selalu menahannya untuk tidak meninggalkan rasa yang sulit Ia artikan.


Tapi kini semua terjawab sudah. Ia percaya pada waktu yang membuatnya menjadi indah. Waktu yang mengkokohkan hatinya tanpa ingin sedikitpun berpaling. Dan itu hanya untuk Bang Ar.


Selesai menghias diri Ia bergegas keluar kamar dikala klakson mobil terdengar. Digendongnya tas punggung yang lumayan berisi menuju ruang tamu.


"Pih, Mih, bang Ar dah jemput tuh. Aku berangkat ya." Izinnya pada kedua orangtuanya.


Ayra sudah menceritakan semuanya kepada kedua orangtuanya tentang kejadian semalam kala para sahabatnya memeberi surprise ulang tahun padanya, dan sangat disayangkan kedua orangtuanya pun lupa, jadi mereka memberi ucapan dadakan disertai do'a tentunya. Tak lupa tentang keberangkatannya bersama sahabat-sahabatnya, dan hubungannya juga dengan bang Ar.


"Eh, tar dulu! Biarin Ardi masuk dulu. Gak sopan kamu tuh." komen sang Mamih.


Ayra mengehela nafasnya. Pasalnya pasti akan ada acara interogasi antara calon mantu dan calon mertua.


Ayra memang terlalu jujur kepada kedua orang tuanya, tak pernah ada hal yang Ia sembunyikan dari kedunya. Terkecuali perasaannya pada bang Ar selama ini dan ciuman semalam tentunya.


Mungkin dikarenakan Ia anak bungsu, jadi sifat manja dan dekat dengan keduanya mendominasi dikala mereka bersama. Dapat dikatakan Mamih dan Papihnya tuh bagai teman curhat, atau lebih tepatnya teman berghibah. Jadi apapun itu pasti Ia ceritakan.


"Assalamualikum!" Sapa bang Ar.


"Walaikumsalam!" Balas ketiganya.


Bang Ar masuk dan menyalami takzim kedua orang tua gadisnya.


"Ayo duduk dulu Ar!" Mamih mempersilahkan bang Ar duduk disofa.


"Iya. Tante." Balas bang Ar dan mendaratkan bokongnya di sofa. Diikuti Ayra juga disebelahnya.

__ADS_1


Mamih berlalu ke dapur untuk mengambil minuman untuk calon mantunya. Sejak tau hubungan Ayra dan bang Ar, si Mamih sudah mengklam bahwa bang Ar akan jadi calon mantunya.


"Ada yang ingin om bicarakan, Ar." Ucap Papih serius. Membuat suasan menjadi tegang.


"Iya om. Ada apa?" Tanya bang Ar sesantai mungkin. Padahal mah hatinya sudah ketar ketir tak karuan.


Papih menghela nafasnya sejenak, "Apa bener kalian pacaran?" Tanya Papih.


Bang Ar menghela nafasnya, Ia sudah memprediksi hal ini pasti terjadi. Karena sebelumnya Ayra sudah memberitahunya kalo hubungan mereka sudah diketahui orang tuanya Ayra. Lebih tepatnya sengaja dikasih tau.


"Iya. Om. Aku ingin minta izin sama om untuk mengenal Ayra lebih dekat lagi." Balasnya.


Ayra terbengong, seserius itukah bang Ar? Sampe Ia meminta izin kepada sang Papih, padahal hubungn mereka belum genep 24jam.


"Om izinin. Tapi satu hal, tolong jaga putri om ini, sayangi dia, bahagiakan dia. Jangan sampe-" Belum selesai wejangan dari sang Papih sudah dipotong Ayra.


"Issshhh kamu tu, Papih cuma mau yang terbaik buat kamu. Biarpun kalian baru pacaran tapi kalian juga harus bisa mempertahankan hubungan kalian sampe jenjang serius. Trus pacarannya yang sehat jangan macem-macem!" Pesan sang Papih.


"Iya om. Om tenang aja. Aku akan sayangi dan jaga Ayra sepenuh jiwa dan ragaku. Dan soal pacaran om percaya sama aku. Kami akan macem-macem tapi tar setelah halal." Timpal bang Ar diakhiri kekehannya.


Papih tersenyum mendengar nya, begitupun Ayra sudah dipastikan rona dipipinya kembali muncul.


"Oke. Om percaya sama kamu." Timpal Papih tersenyum.


"Nih Ar minum dulu." Ucap Mamih datang dengan menyuguhkan secangkir kopi dan kawan-kawannya.


"Atau sekalian mau sarapan dulu!" Tawarnya.


"Gak usah tante. Ini aja cukup. Aku udah sarapan kok tadi." Balas bang Ar.

__ADS_1


Sembari ngopi dan mengobrol, bang Ar dan Ayra juga menunggu yang lainnya untuk berkumpul dulu di rumah Ayra.


Selang beberapa menit, yang ditunggu pun tiba. Mereka berpamitan terlebih dahulu pada kedua orangtua Ayra.


"Eh Ay gue nebeng ya! Perjalanannya jauh gue takut bawa motor sendiri." Pinta Feby.


"Mao jadi obt nyamuk lu?" Sindir Rio.


"Paan sih lu, nimbrung aja. Suka-suka gue lah." Balas Feby sengit.


"Emang yah lu jomblo gak peka. Mereka tuh baru aja jadian, pastinya butuh waktu berdua. Udah lu bareng gue!" Tutur Rio membuat semua temannya saling lirik, kemudian senyum penuh arti.


"Ogah! Tar gue dibawa nyungseub lagi." Tolak Feby. Ya Feby memang pernah dibawa nyungseub sama Rio, pas diantar malam itu.


"Gak bakalan, kali ini gue lebih ati-ati. Buruan naik!" Ajak Rio lagi.


Feby hanya berdecak dan msih enggan untuk naik motor Rio.


"Udah Feb buruan naik! Gue juga pen berduaan tau sama bang Ar." Titah Ayra dengan memberi kode pada yang lainnya.


"Iya, lu naik aja.. Lagian tuh kursi penumpang juga udah penuh sama barang kita." Timpal Agel menunjuk kursi belakang mobil.


Feby menengok kursi belakang mobil sebentar lalu dengan pasrah Ia pun mendekati motor Rio.


"Ya udah deh gue naik." Ucapnya seraya mendudukkan diri di belakang Rio.


Semua tersenyum melihatnya, lalu bersiap untuk berangkat.


***********

__ADS_1


__ADS_2