
"Bang cepetan!"
"Iya bentar sayang sabar ya!"
"Tapi aku udah gak kuat, pengen cepet!"
"Kita pelan-pelan aja ya. Kasihan dedenya!"
"Gak! Pokoknya aku mau cepet!"
Bang Ar tak menggubris keinginan sang istri Ia tetap memelankan tempo laju kendaraannya.
Hari ini tiba-tiba si ibu hamil ini, ngidam suatu jajanan yang ada di depan sekolah dasar. Tepatnya sebrang sekolah menengahnya dulu. Bang Ar yang tengah berada dikantornya harus pulang dijam istirahatnya untuk mengantarnya.
Kini keduanya tengah berada diatas kuda besinya. Setelah melakukan drama perdebatan untuk menaiki apa, akhirnya Ayra lah yang memenangkannya. Ia yang ingin menaiki kuda besi kesayangannya tentu begitu senang kala sang suami menurutinya. Sebenarnya bang Ar terlalu khawatir jika harus mengendarai motor, namun karena takut kang dagangnya keburu pulang, dengan terpaksa Ia harus menggunakan motor.
Tak membutuhkan waktu yang lama keduanya sudah sampai didepan gerbang sekolah menengah atas yang pernah jadi tempat keduanya dulu menimba ilmu. Ternyata keduanya juga alumni sekolah yang sama.
Setelah memarkirkan motornya, keduanya berjalan menyebrang jalan untuk sampai didepan sekolah dasar. Ayra celingukan mencari sesuatu yang berjejer disana.
"Sebenarnya kamu cari apa sih yang?" Tanya bang Ar dengan menggandeng tangnnya.
"Pokoknya ada bang." Timpal Ayra yang masih sibuk mencari kang dagang yang Ia cari.
Ayra terus berjalan menyeret tangan suaminya. Membuat bang Ar pasrah dan mengikutinya. Keduanya berjalan menyusuri setiap dagangan yang berjejer disana. Hingga atensinya teralihkan pada satu kang dagang dan membuatnya tersenyum.
"Itu bang!" Ayra menunjuknya dan kembali menyeret sang suami.
"Mau beli berapa?" Tanya bang Ar. Setelah keduanya sampai didepan roda dagangan itu.
"Nggak!"
Bang Ar mengerenyitkan dahinya heran. "Kok nggak?" Tanyanya.
"Aku gak mau beli."
"Lah terus?"
"Aku cuma pengen denger bunyinya doang." Timpalnya enteng dengan cengiran kudanya.
Bang Ar melongo, merasa tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Hah?! Jadi kita kesini cuma mau denger bunyi kue putu doang?" Tanyanya.
Dan dijawab anggukan semangat istrinya itu dengan senyumnya yang begitu manis. Bang Ar menghela dan menghembusakn nafasnya panjang. Alih-alih Ia begitu terburu-buru mengedarai motornya, takut sang istri ingin segera memakannya. Eh ternyata cuma ingin dengar bunyi kue putu saja.
Kang dagang yang mendengar ocehan keduanya tersenyum. Tau pasti kalau wanita dideapnnya ini tengah ngidam.
__ADS_1
"Ya udah, sekalian aja beli. Ntar dirumah pengen lagi!" Titah bang Ar.
"Nggak bang! Lagian aku gak suka kue nya." Timpal Ayra.
"Terus? Masa kita kesini gak beli apa-apa?" Tanya bang Ar.
"Ya udah aku mau tiga C aja." Timpalnya.
"Apa tuh?"
"Cilok, cilung, cimin."
Bang Ar tersenyum dan geleng-geleng kepala. Tetap aja jajanan favoritnya itu peracian. Akhirnya mereka memesan tiga C tadi, sembari menunggu sang istri yang asyik mendengar bunyi dari panci kue hijau yang dikasih parutan kelapa diatasnya itu.
Tak lupa bang Ar juga membelinya untuk dirinya sendiri, merasa malu juga kalau hanya melihat tanpa membeli. Ya walaupun bukan melihat tapi mendengarnya, tetap saja Ia merasa tak tega dengan kang dagangnya.
Setelah jajanan sudah ditangan dan sang istri sudah merasa puas mendengar suara yang membuatnya penasaran itu, bang Ar kembali melajukan kendaraannya. Entah apa yang menarik dari bunyi itu, namun itu mungkin yang diinginkan baby didalam perutnya.
Kuda besi pun sampai, namun bukan didepan rumah melainkn disebuah taman. Keduanya turun, dengan bang Ar menggandeng tangannya.
Keduanya duduk disebuah bangku dengan cemilan yang mereka bawa tadi.
"Bang kira-kira baby nya cowok lagi apa cewek ya?" Tanya Ayra yang masih penasaran dengan jenis kelamin baby nya, yang masih belum juga terdeteksi.
"Mau cowok ataupun cewek sama aja. Yang penting sehat!" Timpal bang Ar mengelus perut sang istri. Bahkan bang Ar menciumi perut buncitnya berulang kali.
"Emang Papa mau ngidam juga?" Goda Ayra.
"Iya!"
"Mau ngidam apa?"
"Ngidam nengokin dedenya." Kekeh bang Ar membuat Ayra kembali tergelak.
"Itu mah sii bukan keinginan dedenya, tapi keinginan Papanya." Sangkal Ayra disela tawanya.
"Tapi dede juga pengen kan? Ya de ya, kangen yah sama si pisang?" Bang Ar kembali mengajak baby nya ngobrol dengan mengelus perutnya.
Ayra sampai menahan perutnya, saking lepasnya ketawa mendengar ocehan suaminya. "Udah bang udah! Aku gak kuat." Ucap Ayra dengan nafas yang sudah senen kemis.
"Ya udah yuk kita pulang! Langsung ngamer." Ajak bang Ar dan sukses mendapat tabokan dilengannya.
"Ya ampun bang! Bisa-bisa baby nya berojol duluan ini." Timpal Ayra.
"Ssuutt!!" Bang Ar menutup bibir sang istri dengan telunjuknya. "Jangan ngomong kek gitu. Pamali!" Tuturnya.
__ADS_1
Ayra langsung menutup bibirnya rapat-rapat. Dan langsung berhambur kedalam dekapan sang suami. "Maaf bang!" Sesalnya.
Bang Ar menghela nafasnya dan mengusap rambut istrinya sayang. "Jangan kek gitu lagi ya! Omongan itu bisa jadi doa. Abang gak mau sampe terjadi apa-apa sama kalian berdua. Abang gak akan maafin diri abang sendiri, kalo sesuatu menimpa kalian." Tuturnya dan dijawab anggukan sang istri.
Ayra semakin melesakkan wajahnya didada bidang suaminya, bahakan terus mengusek hidungnya disana. Membuat bang Ar harus memejamkan matanya, kala sesuatu bangkit dibawah sana.
"Yang jangan mancing deh!"
"Mancing paan? Aku mau tidur juga." Timpalnya.
"Ya udah yuk pulang aja!" Ajaknya.
Ayra yang memang merasa ngantuk menyetujuinya untuk pulang. Keduanya kembali menunggangi kuda besi itu. Hingga motorpun berlaju meninggalkan taman.
**
Selang beberapa menit keduanya sampai dirumah. Ayra benar-benar sudah tidak bisa menahan kantuknya. Hingga tertidur dipunggung sang suami. Bang Ar yang menyadarinya mencoba membangunkannya, namun sepertinya matanya benar-benar tak bisa dibuka.
Akhirnya bang Ar menggendongnya membawanya masuk dan menaiki anak tangga untuk menuju kamar keduanya.
Bang Ar merebahkan tubuh sang istri diatas kasur king size nya. Bahkan Ia sampai ikut merebahkan diri, dengan nafas ngos-ngosan. Tak dapat dipungkiri, sang istri memang semakin berat, seiring bertambahnya usia kandungannya.
Bang Ar menyangga satu tanggannya menyamping melihat wajah cantik sang istri dengan lengkung senyum dibibirnya. Semakin hari dirinyaa semakin tak bisa jauh dari sang istri, hingga setiap hari juga Ia jatuh cinta lagi, lagi dan lagi pada wanita terhebat disampingnya itu.
"Kamu tau? Abang gak tau lagi kalimat apa yang harus abang ungkapkan untuk mewakili perasaan abang padamu. Kalimat apa yang pantas untuk menyimpulkan sosok sempurna dirimu." Tuturnya dan menarik tubuh yang sudah tak berdaya itu kedalam dekapannya.
"Yang jelas, abang jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi setiap saat padamu!"
****************
Yang belum kasih jejak, yuk kasih jejak! Kasih like dan komennya!
Ramaikan kolom komentarnya, biar cuma kata next ya!
Yang punya vote, kasih vote nya lahh! Yang mau kasih hadiah jugaa mangga😉
Gak tau juga mak othor harus bilang apa, pokoknya makasih banyak-banyak untuk setiap dukungan kaleaann🙏 Tanpa kaleaann apalah diriku😙
.
.
Yang lagi nungguin vote dipojokan🤭
__ADS_1
Yang lagi ngidam cantik😂