
"Ay...Nanti pulangnya bareng abang ya!" Ajak Rendi pada sang pujaan.
"Emm..maaf bang kek nya gak bisa!" tolak Ayra sambil melirik para sahabatnya.
"Habis dari sini kita ada acara lain. Ya gak gaiss?" sambungnya dengan memberi kode pada mereka.
"Hmm.. Ya udah gapapa. Laen waktu mau ya abang ajak jalan!" ajaknya lagi.
"Hmm.Iya." Hanya kata itu yang mampu diucapkan Ayra dengan terus memaksakan senyumnya.
"Kalo gitu abang pamit pulang duluan ya!" Pamitnya yang hanya dijawab anggukan oleh Ayra.
"Jun! Semuanya! Gue sama Ivan balik duluan ya. Bye!" pamitnya lagi pada mereka semua.
"Oke. Bye!" jawab separo dari mereka. separo nya hanya menganggukan kepala.
Setelah kedua pemuda itu berlalu, Feby mulai berkomentar.
"Setdah, tuh mulut manis bener!" ucap Feby dengan terus memperhatikan punggung keduanya.
"Untung ya lu tahan Ay, gak sampe jatuh ke pesonanya si playboy." Rila ikut menimpali.
Ayra dan yang lainnya hanya menggelengkan kepala mendengar celotehan kedua gadis itu.
"Boleh gabung?" Bang Ar yang datang tiba-tiba mengalihkan perhatian mereka.
"Eh..bang kuy duduk." jawab Juna.
"Kek nya seru banget nih. Lagi bahas apa?" tanyanya lagi sembari duduk dikursi bekas Rendi, tepatnya di samping Ayra lagi.
Ayra kembali dibuat berdebar karenanya.
"Tuh loh bang, ada yang lagi dideketin cogan. Eh malah ngehindar." Timpal Agel melirik ke arah Ayra.
semua mata melihat ke arah Ayra. Ayra yang merasa jadi perhatian hanya melirikkan matanya kemana saja sambil meminum minumannnya
"Tapi kalo yang ngedeketinnya bang Ar, kek nyaa bakal nempel deh." Goda Rila replek membuat Ayra menyemburkan minumannya.
Yang sialnya, pas mengenai wajah bang Ar. Ah sungguh memalukan.
__ADS_1
Semua membelakakkan mata melihat kelakuan Ayra.
Bang Ar yang kena semburan segera mengelap wajahnya dengan tissue yang disodorkan oleh Rio.
Semua nampak shok dan sebisa mungkin menahan tawanya agar tidak pecah.
Bagaimana dengan si pelaku? Tentu dia nampak bergeming. Terpaku dengan apa yang terjadi. Nafasnya serasa tercekat.
Wajahnya begitu pucat, shok dan malu datang bersamaan.
Hingga sebuah tissue mendarat dibibirnya.
"Nih.Lap juga bibirmu!" Suara bang Ar menyadarkannya dari keterkejutan.
"Ma-maaf bang. A-aku gak sengaja." ucapnya terbata dengan mengambil alih tissue dari tangan bang Ar yang disodorkan ke arah bibirnya.
Bukannya marah, bang Ar malah menyunggingkan senyumnya.
Membuat dirinya semakin tak menentu. Dia langsung berdiri dan berpamitan ketoilet dengan berjalan cepat.
Tawa merekapun pecah seketika, seiring menghilangnya Ayra.
Dia berulang kali menarik dan membuang nafasnya, mengatur detak jantung yang semakin menggila.
"Gimana ini? Gue beneran malu banget." Ayra terus bermonolog sendiri.
"Kalo gini caranya, bukannya suka, bang Ar malah makin ilfil sama gue."
"Aaaarrrrghhh." Erangnya prustasi.
Setelah beberapa menit berkeluh kesah sendiri didalam toilet, Ayra kembali bergabung dengan yang lain.
Tak ada yang berani bertanya pada Ayra, tau kalo gadis itu pasti tengah mati-matian menahan malu.
Hingga suara bang Ar memulai obrolan mereka.
"Udah santai aja. Abang gapapa kok. Kamu gak usah ngerasa bersalah gitu.hmm" ucap bang Ar memiringkan wajahnya melihat wajah Ayra yang menunduk.
"Maafin aku ya bang. beneran deh gak sengaja." ucapnya dengan mengangkat tangan membentukkan jarinya huruf v.
__ADS_1
"Iya. Kan abang udah bilang gapapa. Udah jangan murung lagi. Senyum dong!" titahnya dengan senyuman manisnya.
Ayra pun mendongakan wajahnya seketika tertular senyuman manis bang Ar.
"Nah kan cantik!" dengan reflek tangan bang Ar mengacak pucuk kepalanya gemas.
Meleleh aku bang. Ayra semakin terpaku dengan senyum yang terus mengembang. Jangan lupakan rona merah pipinya mengalahkan blush on yang mulai memudar.
Semua yang melihat adegan romantis itu tentu ikut tersenyum dan siap untuk menggoda keduanya.
"Njiirrr....gue kan jadi pengen." Celetuk Feby.
"Hadeuuuh..dunia serasa milik berdua." timpal Rio.
"Yang lain mah nyewa." balas Devan.
Mendengar godaan mereka membuat keduanya salah tingkah.
"Ar...kamu masih disini?" tiba-tiba datang seorang wanita paruh baya.
"Ibu!" bang Ar menjawab setelah menolehkan wajahnya.
Dia berdiri dan menyalami tangan Ibunya takzim.
"Ibu baru dateng?" tanyanya, karena memang Ia baru melihat sang Ibu.
"Iya. Tadi tetangga kita Mak Onah meninggal, Ibu sama Ayah melayat dulu. Jadi baru sempet kesini." Tutur sang Ibu.
"Inalilahi. Ntar deh habis dari sini aku melayat." timpal bang Ar, karena memang dia berangkat langsung dari mes dan tidak sempat pulang dulu kerumahnya.
"Eh..Ini siapa yang cantik-cantik?" Tanya sang Ibu yang melihat deretan gadis cantik bersama putranya.
para gadispun berdiri dan menyalami takzim lengan sang Ibu sambil memperkenalkan diri masing-masing.
"Aku Ayra bu. Senang bisa bertemu dengan Ibu." Ayra dengan sopan memperkenalkan dirinya.
Bahkan Ia tidak canggung memanggil Ibunya bang Ar dengan sebutan Ibu, bukan bibi atau tante.
Ibu begitu terpesona melihat kecantikan dan keramahan gadis ini. 'Bener-bener calon mantu idaman.' Batinnya.
__ADS_1
*************