
"Ayo cepetan!" Feby menyeret tangan Ayra menuju kamarnya dan diikuti kedua sahabatnya.
"Paan sii? Ini ada apa coba?" Tanya Ayra semakin bingung.
Ketiganya mendudukan Ayra didepan meja rias. Membuatnya semakin bingung melihat ada perias juga dikamarnya.
"Nih mba, dandanin sahabat saya secantik mungkin!" Titah Rila pada sang makeover.
"Eh..tungu! Tunggu! Ini sebenarnya ada acara apa sii?" Ayra menghentikan sang make over yang sudah siap untuk meriasnya.
Semua sahabatnya menghela nafasnya panjang.
"Dan kalian? Napa pada pulang duluan coba?" Tanya Ayra lagi.
"Ini semua ide laki lu. Kita disuruh pulang duluan buat bantu Mamih lu nyiapin semua ini." Timpal Feby.
Ayra semakin membolakan matanya shok.
"Bang Ar? Mamih?"
"Iya. Ternyata orang tua lu sama orang tua bang Ar udah bertemu dari kemaren. Dan udah ngerencanain ini semua." Timpal Agel.
"Jadi lu harus siap!" Timpal Rila.
"Tar dulu. Gue siap ngapain?" Tanyanya semakin dagdigdug tak karuan.
"Malam ini kalian tunangan!" Ucap serentak ketiganya.
Ayra sampai menganga merasa tak percaya. Tunangan? Ia hampir saja pingsan. Berarti lamaran bang Ar dimobil itu tak main-main?
"Udah lu jan pingsan dulu, acaranya sebentar lagi dimulai." Ucap Agel "Mba cepetan ya!" Titahnya pada sang makeover.
Ayra pun mulai dirias. Dengan make up natural yang memancarkan kecantikannya, rambutnya ditata sedemikian rupa, gaun moca selutut yang membalut tubuh langsingnya, begitu pas.
Setelah kejadian di pagi itu Ibu Anita, Ibunya bang Ar. Memutuskan untuk segera menemui keluarga Ayra. Membahas hubungan keduanya. Kedua orang tua bang Ar mengunjungi kediaman Ayra dan disambut baik niat dan tujuannya oleh kedua orang tua Ayra. Awalnya mereka akan langsung menikahkan keduanya, namun Ibu ingin memeprsiapakannya terlebih dahulu.
__ADS_1
Berhubung bang Ar adalah putra satu-satunya Ia ingin menggelar pesta pernikahan yang meriah. Tidak grasak grusuk seperti acara tunangan hari ini yang hanya dihadiri keluarga inti saja. Namun itu ide bang Ar untuk memberi kejutan pada gadisnya.
Hanya ada pak RT dan seperangkatnya serta kedua orang tua bang Ar sebagai perwakilan dari keluarga bang Ar. Dan dari keluarga Ayra Ada bang Agung dan istri, orang tuanya, dan paman yang kebetulan rumahnya dekat. Dan jangan lupakan ke enam sahabatnya.
**
Semua mata tertuju pada sang gadis yang akan segera dipinang. Begitupun bang Ar yang sudah berganti pakaiannya, Ia begitu terpana menatap gadisnya yang tengah berjalan ke arahnya dengan didampingi ketiga sahabatnya.
"Cantik!" Gumamnya seraya menyunggingkan senyumnya.
Keduanya sudah berdiri berdampingan dengan bang Ar yang senantiasa menoleh memandangi wajah cantik kekasihnya itu.
Serentet acara dimulai, dari pembukaan sampai sambutan-sambutan dari wakil keluarga keduanya.
"Sekarang tinggal acara intinya. Silahkan nak Ardi memkaikan cincin dijari manisnya nak Ayra!" Perintah pak RT selaku pembawa acara.
Bang Ar mengambil cincin dalam kotak merah yang telah dipersiapkan sang Ibu. Meraih tangan kiri Ayra menyematkan cincin sederhana bertahtakan berlian kecil namun begitu elegan.
Suara riuh tepuk tangan terdengar. Kini giliran Ayra pula menyematkan cincin polos kejari manis bang Ar dan kembali mendapat riuh tepuk tangan.
Semua tamu memberi ucapan kepada keduanya dan dipersilahkan untuk makan-makan mencicipi jamuan yang telah disediakan.
Kini sesi foto-foto. Semua ikut berfoto disana. Temasuk sahabat Gerup Reseh nya tak mau tertinggal. Mereka senantiasa mengabadikan moment berharga itu bahkan tak lupa mempostingnya. Gelak tawa menambah kebahagiaan keduanya.
**
"Apa kamu bahagia?" Tanya bang Ar ketika keduanya duduk di kursi santai teras rumah.
Semua tamu sudah pulang, tinggal bang Ar dan kedua orang tuanya yang tengah mengobrol didalam rumah saja yang masih disana. Bahkan bang Agung dan istrinyapun sudah pulang.
"Tentu saja. Sangat!" Balas Ayra dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.
Bang Ar menggenggam tangan Ayra. "Tetaplah disampingku, bagaimanapun keadaanya!" Titahnya dan dijawab anggukan kepala Ayra.
"Uhh so sweet!" Ucap Mamih membuat keduanya tersipu. "Udah kita makan malam bersama dulu yuk!" Ajak Mamih pada keduanya.
__ADS_1
Keduanya berjalan dengan terus bergandengan tangan seraya tak ingin terpisah sampai meja makan. Tentu saja hal itu membuat kedua orang tua mereka tersenyum ikut merasakan kebahagiaan keduanya.
"Sepertinya ini gak bisa ditunda terlalu lama?" Celetuk Papih.
"Iya. Mereka udah seperti magnet." Timpal Ayah terkekeh.
"Ya udah kita percepat aja pernikahannya. Gimana?" Tanya Mamih seraya duduk. Diikuti juga kedua manusia yang tengah bahagia itu.
"Boleh itu, Ibu setuju. Gimana Ar, Ay?" Tanya Ibu pada keduanya.
"Aku terserah bang Ar aja bu!" Jawab Ayra tertunduk. Ia masih segan dengan Ayah yang belum Ia kenal.
"Menurutmu Ar?" Tanya Ibu lagi.
"Emm... Lebih cepat, lebih baik!" Jawab bang Ar tersenyum seraya menoleh menatap sang pujaan yang semakin menunduk malu.
Tentu jawaban bang Ar membuat riuh dari kedua orang tua mereka.
Rencana tanggal dan segala persiapan pun mengiringi obrolan mereka, disela makan malam keluaraga yang begitu hangat ini.
'Bahagiaku adalah kamu!' Batinnya.
***************
Yang sukses bikin kejutan😂
Yang sukses dibuat terkejoot😂
Acieee yang dilamar🤭
Selangakah lagi menuju halal ya😊
__ADS_1
*Ayo vote, like dan komennya!