
"Gue gak nyangka si Rendi bisa ngelakuin hal kek gitu sama lu Ay!" Tutur Feby.
Kini mereka tengah makan siang di foodcourt di mall itu. Sepasang calon pengantin dan juga Rio sudah bergabung dengan ketiganya disana.
Bang Ar menceritakan tentang apa yang menimpa Ayra kepada ketignya. Tidak lupa Ia juga menceritakan tentang masalalunya dengan Rendi kepada mereka semua.
"Iya. Si Rendi memang cocok tuh dengan julukannya si pleboy cap ucing garong. Bisa-bisanya dia buntingin anak orang?" Timpal Devan greget.
"Woy! Sadar lu juga buntingin anak orang noh." Timpal Feby menunjuk Rila.
Skak! Devan hanya nyengir kuda dan menggaruk tengkuknya kikuk.
"Iya lu. Katanya mau jagain? Gak akan ngerusak. Buktinya?" Cibir Ayra.
"Iya itu beda lagi. Ini tu efek gue terlalu cinta sama ayang Rila. Jadi gue gak bisa ngendaliin nya." Timpal Devan merangkul pundak Rila.
Membuat mereka menggeleng-gelengkan kepala.
"Emang si cinta sama nafsu tu beda tipis." Ucap bang Ar.
"Udah kerasa sekarang ya bang?" Goda Devan membuat bang Ar tersenyum dengan gelengan kepala.
"Tapi ya Ay, gue gak bisa bayangin kalo jadi lu. Direbutin sama dua cowok cakep sekaligus! Duh so sweet banget.." Ucap Rila dramatis.
"Isshh kamu tu ya!" Devan menarik hidung Rila sampai membuatnya menjerit kesakitan. Calon istrinya ini suka sekali jujur.
"Jadi pengen direbutin nih, gak mao sama aku?" Tanya Devan pura-pura merajuk.
"Ihh gak dong. Kamu yang terbaik!" Timpal Rila menangkup kedua pipi calon suaminya, bahkan mengecup sekilas bibirnya. Membuatnya tersenyum dan mengacak pucuk kepala sang kekasih.
Mereka hanya geleng-geleng kepala melihat drama sepasang calon pengantin ini.
"Gue gak habis fikir si Rendi segitu terobsesinya sama lu Ay?" Tanya Feby.
"Dih lu gak nyadar! Lu juga kek gitu sama bang Ivan." Timpal Ayra
"Paan? Gak lah gue gak gitu." Elaknya.
"Kalo emang lu nyadar. Lu bakal liat mana cinta mana obsesi." Timpal Rio.
"Isshh tau apa lu tentang cinta? Lu aja jomblo." Timpal Feby.
"Biar gue jomblo. Bukan berarti gue gak tau." Jawabnya.
__ADS_1
"Terus apa yang lu tau tentang cinta?" Tanya Feby.
"Cinta itu gak harus memiliki, gak cuma merhatiin, gak cuma memuja." Timpalnya mentap tajam kearah Feby.
Keduanya saling mengunci pandangannya. "Coba lu rasain cinta disekitar lu. Lepasin obsesi lu itu!" Lanjutnya.
Kempatnya melihat kedua orang yang tengah saling mengunci tatapan itu, mereka saling lirik dan tersenyum penuh arti.
Keduanya masih terus menatap dengan perasannya yang entahlah. Hingga Feby memutuskan tatapan keduanya.
"Kemana mereka?" Feby sampai tak sadar keempat sahabatnya telah meninggalkan kedunya.
Feby tengok sana tengok sini mencari keempatnya.
"Mereka udah pergi dari tadi." Timpal Rio santai.
"Kok lu gak ngomong sih." Protesnya. Feby mengambil tasnya dan berdiri "Lu tu ya, nyebelin tau gak!" Feby hendak pergi namun lengannya dicekal Rio.
Rio menyeret Feby membawanya kesebuah taman dekat mall itu.
"Paan sih lu? Lepasin tangan gue!" Sentaknya. Ingin melepas cekalan lengannya.
Rio tak menghiraukan terus menuntunnya menuju bawah pohon ditaman itu.
Tanpa kata apapun Ia menundukkan wajahnya menempelkan bibirnya dibibir Feby.
Deg
Feby mematung membolakan matanya. Ia seperti terhipnotis. Tanpa pergerakan hanya menempel. Namun itu begitu Rio nikmati sampai Ia memejamkan mata.
satu detik, dua detik, sampai sepuluh detik Rio menjauhkan wajahnya.
"Sekarang lu rasain mana cinta? Mana obsesi?!" Perintahnya dan berlalu pergi.
Feby masih terdiam mencerna apa yang terjadi. Tangannya terulur menyentuh bibirnya. Tiba-tiba pipinya terasa terbakar, jantungnya berdetak tak karuan.
"Gue kenapa?" Tanya Feby terus mengibaskan tangan ke wajahnya dan sesekali memegang dadanya yang seakan meledak.
Tanpa Ia sadari seseorang tengah memeperhatikannya dengan tersenyum lebar.
"Gimana sukses gak?" Tanya Devan menepuk pundak Rio yang tengah memperhatikan Feby.
Rio hanya tersenyum menanggapinya.
__ADS_1
"Udah buang tuh gengsi. Kalo ampe dia beneran jadi sama Ivan. Lu gak bisa berkutik." Timpal bang Ar merangkul pundak Rio. Sampai ketiganya tertawa kecil.
Rio memang memberitahu teman-temannya tentang perasaannya dan meminta solusi kepada mereka.
Rio type cowok yang teramat cuek. Tidak romantis, kurang peka, dan tak mudah mengungkapkan perasaannya.
Namun dengan dukungn teman-temannya Ia mencoba mengungkapkannya, walau hasilnya masih entahlah.
**
"Jadi Rio beneran suka sama Feby?" Tanya Ayra pada bang Ar, ketika mereka tengah duduk berdua dikursi taman.
"Iya. Tapi ya gitu. Gengsinya terlalu tinggi." Timpal bang Ar.
"Hmm...moga aja mereka bisa bersatu. Kasian juga aku sama Feby, terus berharap yang tak pasti." Timpal Ayra.
"Iya." Bang Ar merebahkan dirinya dipangkuan Ayra.
"Emm..bang aku mau tanya sesuatu?" Tanyanya menundukkan wajahnya.
"Apa?" Tanyanya menatap wajah cantik keksihnya.
"Emm.." Ayra kembali menatap kedepan.
"Sejak kapan abang punya perasaan sama aku?" Tanyanya.
"Emm.. Entahlah! Sejak pertama kita bertemu di kafe waktu itu, ada hal aneh dalam diri abang. Ada sesuatu yang mendorong abang buat tau segala hal tentang kamu." Jawabnya jujur.
"Padahal ya waktu itu abang masih punya pacar. Gak setia dong?" Celetuk Ayra.
"Itu kan abang lagi diambang perpisahan. Cari calon lagi boleh lah." Balas bang Ar membuat keduanya tergelak.
"Jadi pelarian nih?" Goda Ayra.
"Bukan." Sangkalnya.
"Apa dong?" Tanyanya.
"Perjalanan menuju kebahagiaan sesungguhnya!" Balas bang Ar.
***************
*Yuk gaisss kencengin vote, like dan komennyaš
__ADS_1