Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 57


__ADS_3

Obrolan yang awalnya dingin kian menghangat. Rendi menyadari semua kesalahannya. Meluruskan kesalah pahaman antara dirinya dan bang Ar.


"Gue harap kalian selalu bahagia!" Tutur Rendi.


"Iya. Lu juga harus bahagia biarpun tanpa Anna!" Timpal bang Ar.


"Ya udah gue cabut dulu. Sekali lagi abang minta maaf ya, Ay!"


"Iya bang. Aku maafin!" Timpal Ayra.


Tanpa diduga, setelah berdiri Rendi mencium pipi Ayra sekilas. Membuat Ayra melongo, bahkam bang Ar sampai bangun dari kursinya hendak menarik baju Rendi.


"Mao mati lu ya!"


Rendi tergelak dan berlenggang pergi. Ayra mencekal lengan bang Ar yang hendak mengejarnya.


Bang Ar tak jadi mengejar Rendi, namun Ia benar-benar kesal dengan mantan sahabatnya ini. Baru saja dia meminta maaf, sudah bikin gedek lagi.


Sebelum menjauh, Rendi menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Anggap aja itu sebagai salam perpisahan!" Teriaknya dan kembali melangkahkan kakinya seraya memberi hormat jauh.


Bang Ar begitu kesal, Ia ingin sekali lagi menghajar pria gak ada akhlak itu. Namun tanganya terus ditahan Ayra. Ia melihat kearah Ayra, dan Ayra mengegelengkan kepalanya tanda jangan!


Bang Ar menghela nafasnya kasar hingga menyugar rambutnya kebelakang.


"Kenapa kamu tahan abang? Kamu seneng dicium cowok bajingan itu?" Todong bang Ar dengan nada kesal setengah membentak.


"Gak bang! Siapa juga yang seneng? Aku tuh gak pengen ada acara adu jotos lagi kek kemaren. Mening kalo abang gak kena tonjok, kalo kena kan gak lucu. Masa calon mempelai prianya babak belur? Kan gak etis." Mode cerewetnya on lagi.


Bang Ar hanya menghela nafasnya berulang-ulang mentralkan amarahnya agar tal meledak.


"Ada tisue basah gak?" Tanya bang Ar.


"Ada."


"Sin!" Bang Ar menadahkan tangannya.


Tanpa protes Ayra mengambil barang itu dari tasnya.


"Buat apa sih bang?"


Bang Ar mengambil satu lembar tissue dan mengusapkannya dipipi Ayra.


"Biar ilang bekasnya!" Ucap bang Ar dengan ketus. Ayra tersenyum melihatnya. 'Ternyata gini ya rasanya dicemburuin' batinnya.


Setelah dirasa cukup menghapus jejak bibir Rendi. Bang Ar justru melayangkan kecupan lama dipipi bekas Ia lap tadi.


"Dah! Mulai sekarang gak ada yang boleh sentuh kamu kecuali abang!" Titahnya tegas.


"Iya. Abang sayang iya! Aku hanya milik abang." Timpal Ayra mencubit kedua pipi bang Ar gemas.

__ADS_1


"Aww..aww! Sakit yang!" Membuat Ayra melepaskan tangannya.


"Sakit ya bang? Maaf!" Tanya Ayra panik, Ia elus pipi bang Ar lembut.


Bang Ar meraih satu tangan Ayra menahannya dipipinya dengan memejamkan mata.


"Lebih sakit lagi hati abang melihat kamu disentuh cowok lain." Tuturnya.


Ayra mengangkat satu tangannya lagi ke pipi bang Ar sebelahnya.


"Maafin aku ya bang! Aku terlalu kaget, terus itu juga sekilas, aku gak sempet buat ngelak. Tapi abang harus percaya sama aku. Hatiku, cintaku, bahkan seluruh hidupku hanya untuk abang." Tutur Ayra, dan sukses membuat bang Ar membuka matanya.


Bang Ar tersenyum mendengar penuturan kekasihnya.


"Udah, sekarang kita kan mau menghabiskan waktu kencan kita. Jalan yuk!" Ajak Ayra dan dijawab anggukan oleh bang Ar.


keduanya keluar resto dan kembali memasuki mobil. Rencananya mereka akan menonton. Selama pacaran ini pertama kalinya mereka menonton.


Setelah membeli minuman dan popcorn, keduanya masuk. Film yang dipilih bergenre komedi romantis.


Mereka duduk paling belakang. kedunya senantiasa saling menggenggam erat tangannya.


"Akhirnya bang kita bisa nonton!" Ayra begitu bahagia dan menyenderkan kepalanya dibahu bang Ar.


Bang Ar mengusap surai hitam itu lembut. Keduanya begitu menikmati kebersamaannya.


Setelah selesai nonton, mereka masuk ke area playground. Memainkan berbagai macam permainan.


Gelak tawa dari keduanya menandakan kebahagiaan mereka.


"Kek anak. kecil." Ejeknya. "Mau rasa apa?" Namun tak ayal dibelikan juga.


"Emm..campur, yang gede ya bang!" Pintanya dengan cengiran kuda dan dijawab usekan dipucuk kepalanya.


Setelah mendapatkan es krim mereka keluar dan duduk di bangku taman sebrang mall itu.


Suasana yang begitu romantis dengan lampu-lampu taman yang dihiasi sedemikian rupa membuat siapa saja betah disana, apalagi bagi sepasang kekasih seperti mereka.


Keduanya sudah duduk dibangku. "Mau bang?" Tanya Ayra menyodorkam eskrim yang hampir tandas.


Bang Ar menghadapkan tubuhnya kearah Ayra. "Boleh." Jawabnya.


"Nih!" Ayra menyodorkan sisa eskrim ditangnnya.


Namun bang Ar mengarahkan tangan Ayra kearah mulutnya dan dengan reflek Ayra memakannya.


Setelah eskrim masuk kemulut Ayra, dengan tiba-tiba bang Ar menyambar mulutnya yang penuh dengan eskrim. Mengambilnya langsung dari mulut Ayra dengan bibirnya.


"Emmm... Manis!" Ucap bang Ar menjilati bibirnya.


"Ihh..abang jorok!" protes Ayra.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Emang gak enek itu."


"Nggak. Malah pengen lagi."


"Ihh..abang! Ini tu tempat umum, malu lah dilihat orang." Protesnya memukul lengan bang Ar memmbuatnya tergelak.


"Dingin bang, pulang yuk!" Ajak Ayra.


"Sini, mau abang angetin?" Tawar bang Ar merentangkan kedua tangannya.


"Ihh abang! Banyak orang malu!"


"Ya udah yuk kita cari tempat yang gak ada orangnya!" Ajaknya dengan tertawa dan membuat Ayra memukul dadanya.


**


Kini keduanya sudah memasuki mobil. Tapi bang Ar enggan untuk menyalakan mobilnya.


"Napa gak jalan bang?" Tanya Ayra heran.


"Abang masih pengen kek gini. Kalo aja tau besok udah mulai dipingit, dari pagi kita habisin waktu berdua." Ucap bang Ar dengan tak semangat.


Ayra tersenyum. "Ya ampun bang! cuma empat hari doang kita gak ketemu. Dihari kelima, setiap hari kita ketemu bahkan bersama." Timpalnya.


"Ya udah, sini!" Titah bang Ar menepuk pahanya. Membuat Ayra mengerenyit heran.


"Ngapain?"


"Untuk mengisi daya selama empat hari."


Ayra tergelak mendengar penuturannya. Ia buka sabuk pengamannya, dan beralih duduk dipangkuan calon suaminya.


Membuat bang Ar tersenyum dan menarik tengkuk gadisnya. Meraup bibir yang akan jadi dayanya itu, disesapnya lembut, melesakan lidahnya kedalam rongga mulut gadisnya menyecap penuh perasaan hingga terdengar suara riuh decapan didalam mobil itu.


Tangan Ayra sudah bertengger di leher bang Ar, begitupun tangan bang Ar yang sudah bertengger di dua gunung kembar favoritnya.


Satu tangan bang Ar menahan pinggangnya, Merapatkan sejoli yang sebentar lagi akan bersilaturahmi.


"Udah ya bang, kita tunda untuk malam pertama kita!" Ayra mengerti apa yang diinginkan calon suaminya ini.


Bang Ar mengangguk. "love you!"


"Love you too."


Bang Ar mencium sekilas bibir yang sudah menebal karena ulahnya itu. "Tetaplah bersamaku sampai Tuhan memisahkan kita karena usia!" Tuturnya.


****************


*Kasih votenya buat besok ngehalalin😁

__ADS_1




__ADS_2