Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 76


__ADS_3

Kedua orang yang tidak bisa makan dirumahnya akibat makanan yang takut dikasih pelet itu, tengah makan diwarung tenda yang berjejer dialun-alun desa. Menikmati makanan favorit keduanya. Bahkan bang Ar tak segan menyuapi sang istri di depan banyaknya pengunjung.


"Eleuh-eleuh romantis pisan!" Komentar seorang Ibu-ibu yang tengah memesan makanan.


"Romantis apanya? Didepan umum kaya gitu, dasar pacarannya jaman sekarang gak tau etika!" Komentar pedas dari ibu satunya lagi.


"Ih si ibu mah, itu tuh namanya romantis. Biarin aja! Lagian cuma suap-suapan makan lewat bibir atas. Bukan bibir bawah!" Ucap si ibu pertama cekikikan. Membuat si ibu kedua memutar bola matanya malas.


"Ya karena ini tempat umum, coba kalo ditempat sepi? Mungkin bibir bawahnya tuh." Komentarnya lagi.


"Suutt jangan kaya gitu, kamu juga punya anak perawan. Lagian kamu juga gak tau apa yang dia lakuin sama pacarnya kan?" Timpal si ibu pertama.


"Saya gak akan biarin anak saya kaya gitu. Anak saya terhormat gak murahan!" Timpalnya.


Bang Ar geram mendengar omongan pedas si ibu yang seolah memojokkan istrinya, mereka tak tau aja, mereka bukan pasangan pacaran lagi. Akhirnya Ia berbalik melihat pada kedua ibu-ibu itu.


"Ada yang ingin Ibu bicarakan sama saya?" Tanya bang Ar dingin. Membuat si ibu pertama melengos, tapi tidak dengan si ibu kedua.


"Cih. Kesindir kamu?" Timpal si ibu kedua tak kalah sinis.


Ayra meriah pipi sang suami, membuat bang Ar menoleh kearahnya. Ayra menggelengkan kepalanya untuk tak mengucapkan kata-kata kasar pada orang yang lebih tua.


"Jadi perawan gak jual mahal banget!" Sinisnya.


Bang Ar yang akan mengucapkan kata ditahan bibirnya oleh Ayra.


"Maaf apa Ibu membicarakan saya?" Tanya Ayra setenang mungkin dengan senyum dibibirnya.


"Kenapa? Kesindir?"


"Gak sih bu!" Timpal Ayra masih dengan senyumnya membuat si ibu geram.


"Cih. Benar-benar tak tau malu."


"Malu kenapa ya bu? Ada yang salah dengan saya?" Tanyanya lagi santai.


"Kamu jadi anak perawan gampangan banget." Timpalnya.


"Maaf bu saya bukan perawan!" Sontak saja penuturan Ayra membuat kedua Ibu-ibu membelakakkan matanya.


"Tuh kan, kamu perempuan gak bener. Murahan, gak bisa jual mahal." Timpalnya dengan nada remeh.


Tentu perdebatan ini menjadi tontonan gratis dari semua pengunjung disana.


"Aduh ibu, buat apa juga saya jual mahal?" Ayra tertawa dan geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Ibu itu semakin naik pitam. "Kamu bener-bener-" Belum sempat si ibu memakinya. Ayra berdiri menggandeng suaminya.


"Saya bukan perawan! Saya gak akan jual mahal, bahkan saya akan murahan pada lelaki disamping saya. Jangankan tubuh saya, jiwa dan hati saya saja saya berikan untuknya. Karena apa?" Ayra menjeda ucapannya dan menatap sang suami. "Karena dia suami saya!" Ayra tersenyum memandang suaminya.


Bang Ar ikut tersenyum, meraih kepala sang istri mencium pucuk kepalanya lama. Sorak sorai dari pengunjung disana begitu riuh membuat si ibu semakin geram.


"Jadi Ibu yang terhormat. Bukankah lebih baik bertanya terlebih dahulu, daripada menyimpulkan opini yang bahkan itu bukan sebuah fakta. Dan kesannya itu adalah fitnah." Ucap Ayra menyunggingkan senyum termanisnya. "Ini!" Ayra memegang lengan suaminya dan memamerkan cincin kawin miliknya dan sang suami.


"Takut dikira cuma settingan. Kalo buku nikahnya gak kita bawa, ada dirumah. Kalo masih gak percaya? Cek langsung ke KUA." Timpalnya.


"Saya hanya menyarankan Ibu untuk menjaga anak perawan terhormat ibu, takut-takut dapat karma dari ucapan ibunya sendiri." Tuturnya.


Si ibu merasa geram sekaligus malu. Ia tinggalkan tempat itu, tanpa memedulikan pesenannya. "Ehh..bu! Bu Ningsih, gimana ini pesanannya?" Teriak si ibu pertama.


"Maafin bu Ningsih ya neng. Dia mah suka gitu, seneng banget ngomentari hidup orang." Ucap Ibu pertama meminta maaf pada Ayra.


"Gak papa bu. Lagian kami gak ngelakuin hal yang aneh-aneh. Dan lagi yang dia tuduhkan, gak sesuai fakta yang ada." Timpal Ayra.


Ibu itu mengangguk mengerti. "Oh iya! Kalian baru disini ya?" Tanyanya.


"Iya bu. Kita sedang ada urusan pekerjaan disini!" Timpal Ayra ramah.


"Oh gitu! Oh iya, Kenalin nama ibu, bu Titin! Ibu tinggal didekat sini. Tuh rumah Ibu sebelah situ. Kalian bisa mampir dulu kerumah ibu." Bu Titin menunjuk sebuah rumah tak jauh dari balai desa.


"Duh kalian ini serasi sekali. Pantas aja bikin iri tuh si Ningsih." Timpal bu Titin cekikikan. "Eh ngomong-ngomong kalian tinggal dimana?" Tanyanya.


"Kita tinggal diujung jalan ini bu, dekat perkebunan teh." Timpal bang Ar.


"Tunggu, tunggu! Itu rumah bukannya milik bu Anita ya? Pemilik seluruh perkebunan teh disini?" Timpal bu Titin shok.


"Iya bu. Saya putranya bu Anita." Timpal bang Ar tersenyum.


"Ya ampun den Ardi, maafin saya. Saya gak tau ini den Ardi anaknya bu Anita. Sekali lagi saya minta maaf gak ngenali aden." Bu Titin sampai terus menunduk meminta maaf.


Pasalnya semua warga disini begitu menghormati Ayah Arshad dan keluarganya, sebagai sosok yang memberi mereka lapangan pekerjaan untuk mereka, juga yang membantu menyediakan segala fasilitas disana. Namun tak banyak yang tau mengenai putra mereka, karena jarangnya bang Ar kesana. Hanya para pekerja khusus saja yang mengenali sosok putra pemilik perkebunan itu.


"Iya bu gak papa! Jangan nunduk kaya gitu, gak pantas! Ibu lebih tua dari saya. Lagian saya juga bukan artis, gak perlu harus dikenal." Ucapnya tertawa kecil. Membuat si ibu tersenyum.


"Ya udah kalo perlu apa-apa jangan sungkan ya, datang kerumah ibu. Pintu Ibu selalu terbuka buat den Ardi sama neng Ayra." Timpalnya.


"Iya bu. Makasih!" Jawab Ayra dengan senyum manisnya.


Setelah berpamitan si ibu pun pulang kerumahnya. Bang Ar dan Ayra juga memutuskan untuk pulang.


"Bang beli cilok dulu ya, Sekalian cilor juga!" Ajak Ayra ketika keduanya keluar dari warung pecel.

__ADS_1


"Gak sekalian cimol, cilung, cimin juga!" Timpal bang Ar membuat Ayra tergelak.


"Aku kira abang gak tau makanan kek gitu?" Tanya Ayra disela gelak tawanya.


"Tau lah, jajanan favorit itu." Timpalnya.


"Ya udah kita beli aja semua."


"Emang kamu sanggup ngabisinnya?" Tanya bang Ar heran.


"Nggak."


"Terus?"


"Aku yang cicipi, abang yang abisin!" Timpal Ayra dan keduanya tergelak.


"Janganlah yang mubazir itu namanya!" Bang Ar menasehati sang istri.


"Ya deh nggak. Cilok aja sama cilor yaa? Tar besok bagian 3C yang lain." Timpal Ayra kembali tergelak.


Setelah keduanya mendapatkan jajanan yang diinginkan, keduanya pun pulang.


"Bang pelan-pelan dong aku cape!" Keluh Ayra.


Bang Ar berhenti dan berjongkok dihadapan sang istri. "Sini!" Ia menepuk pundaknya, menyuruh sang istri untuk naik.


"Gak bang! Aku berat."


"Ayo. Naik!"


"Beneran bang aku berat." Namun tak ayal Ia memeluk leher sang suami


"Tubuh kamu gak berat." Bang Ar mengangkat menggendong sang istri. "Kamu tau hanya satu yang berat."


"Apa?" Tanya Ayra


"Tanggung jawab abanh untuk menjadi imam yang baik untukmu dan membimbingmu menuju surga-Nya!" Balasnya.


***************


Kutunggu jejakmu readers😁



__ADS_1


__ADS_2