Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 62


__ADS_3

Pagi ini dikediaman mempelai wanita, semua orang tengah bersiap untuk acara resepsi yang akan diadakan dihotel. Semua sudah tampak rapi dan siap untuk berangkat, namun tidak dengan sepasang pengantin yang tengah dimabuk cinta ini.


Keduanya masih bergulat didalam selimut. Tak ada yang berani membangunkan keduanya, bahkan sang Mamih yang slalu menjadi alarm putrinya itu, tak berani meski hanya sekedar mengetuk pintu kamarnya.


"Gimana mereka udah bangun belom?" Tanya Papih Alan kepada istrinya.


"Kek nya belom deh masih sepi." Timpal Mamih.


"Namanya juga malam pertama pasti gadang lah." Timpal bang Agung.


"Kek nya gak malam pertama deh." Sahut tante Asmi membuat semua orang mengerenyitkan dahinya.


"Yang ada tu sore pertama. Kemarin tuh tante lewat kamarnya. Kedenger suara-suara yang aduh jadi panas dingin." Lanjutnya membuat mereka tertawa.


"Ya udah deh biarin aja mereka. Kita duluan aja yuk!" Ajak bang Agung.


"Lah terus mereka gimana? Kan mereka pemeran utamanya?" Tanya Mamih.


"Biarin aja! Mamih chat aja mereka suruh nyusul. Lagian para tamu juga bakalan ngarti." Timpal Papih dan dijawab anggukan yang lainnya.


Akhirnya merekapun memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu meninggalkan sepasang pengantin yang entah tengah melakukan apa.


**


Sementara itu disebuah kamar yang terlihat begitu berantakan, guling dan bantal berserakan dilantai, pakaian yang berhamburan dimana-mana bagai tersapu tsunami. Sepasang manusia masih terlelap dengan posisi saling memeluk.


Ayra mengerjapkan matanya kala sinar mentari memasuki kamarnya. Ia bergeliyat dan merasakan perih dibagian intinya. Entah sampai jam berapa mereka menyelesaikan ritual mencari pahala itu.


Ayra tersenyum kala bayangan-bayangan tadi malam melintas dikepalanya, apalagi saat Ia mendongakkan wajahnya melihat wajah seseorang yang selama ini Ia nanti, seseorang yang tak pernah membuatnya berpaling dan kini benar-benar sudah menjadi miliknya.


Ia sentuh pipi suaminya, turun ke rahangnya dan Grepp!!


Tangannya dicekal seseorang yang baru membuka matanya. Ayra tersenyum lebar menatapnya.


"Selamat pagi abang suami?" Tanyanya.

__ADS_1


"Pagi sayang istri!" Timpal bang Ar dengan senyumnya, membuat Ayra tergelak.


"Udah siang bang. Bangun yuk! Kita pasti udah ditungguin." Tuturnya.


"Bentar lagi. Abang masih pengen kek gini!" Timpal bang Ar dengan mengeratkan pelukannya.


Tring! Terdengar suara notif pesan dari Hp Ayra.


"Bang ada pesan masuk tuh!" Ayra hendak melepaskan diri, namun bang Ar semakin mengeratkannya.


"Bang liat dulu takut penting!"


Dengn terpaksa bang Ar melepaskan istrinya dan mengambil Hp nya di nakas. Bang Ar membuka Hpnya, membaca pesan masuk yang ternyata pesan dari sang Mamih untuk menyusul mereka yang sudah berangkat. Bang Ar menyeringai melirik ke arah istrinya.


Ayra yang dilirik mengerutkan dahinya. seolah bertanya kenapa?


Bang Ar meletakkan kembali Hp nya dinakas, dan naik keatas sang istri dengan menumpu kedua tangannya. "Kek nya kita bisa lanjut bikin part deh!"


"Part apa?" Tanya Ayra heran.


Tanpa menunggu persetujuan sang istri, bang Ar sudah terlebih dahulu menyambar bibirnya. Kembali melayangkan kecupan-kecupan di seluruh tubuh gadis halalnya. Meninggalkan banyak maha karyanya disana sini. Tangannya tak berhenti memainkan bongkahan yang pas digenggamannya itu.


Perlakuan lembut sang suami membuatnya selalu terbang, ingin mencapai nirwana bersama. Rasa perih yang sempat Ia rasa berganti dengan denyutan ingin dimanjakan.


"Lepaskan sayang jangan ditahan!"


"Abanghh!!"


"Yess baby!!"


De sa han dan erangan silih besahutan didalam ruang kamar menandakan betapa luar biasanya aktifitas yang menjadi candu baru untuk keduanya.


Setelah lama menggali kenikmatannya, keduanya tumbang bersama. Bang Ar tak segera mengeluarkan miliknya, Ia biarkan bibit-bibit penerusnya masuk dirahim sang istri.


Diusapnya dahi yang bercucuran keringat itu lembut.

__ADS_1


"Makasih sayang!" diciumnya kening itu lama.


Bang Ar bangun dari tubuh istrinya, Ia raba perut sang istri dan membelainya lembut.


"Cepet tumbuh ya! Tar Papa tengok lagi."


Hal itu sukses membuat Ayra tergelak. Suaminya ini benar-benar absurd. Baru juga masuk udah diajak ngobrol aja. Itu masih cebong bang bukan baby!


**


"Abang udah pengen punya baby ya?" Tanya Ayra ketika keduanya tengah mandi bersama.


"Gimana dikasihnya aja. Kenapa? Kamu belum siap?" Timpal bang Ar yang tengah menggosok punggung sang istri.


"Emmm... Aku siap kok! Cuma kalo Tuhan berkehendak, jangan dikasih terlalu cepat." Timpalnya.


"Kenapa?" Tanya bang Ar, sampai berhenti menggosok punggungnya.


Ayra membalikkan tubuhnya menghadap sang suami. Ia peluk leher imamnya itu dan tersenyum.


"Masih betah berdua kek gini, menghabiskan waktu berdua seperti ini."


Bang Ar tersenyum dan memeluk pinggang istrinya posesif, hingga mengikis jarak.


"Biarpun kita segera dikasih, tapi kita akan tetep kek gini."


"Iya bang. Aku pengen kita gak program atau rencana apapun. Biarlah mengalir seadanya. Kita nikmati aja segala prosesnya."


Bang Ar semakin melebarkan senyumnya, gadisnya ini ternyata sudah dewasa. Ini memang terlalu awal untuk merencanakan apapun, biarlah Tuhan yang berkehendak.


Bang Ar menyatukan keningnya dengan kening istrinya, menyalakam shower dan membiarkan air mengguyur tubuh keduanya.


Dibawah guyuran itu, mereka mengulang candu yang tak bisa keduanya tolak.


**************

__ADS_1


Dedeuieun laahh🤣🤣🤣


__ADS_2