Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 107


__ADS_3

Dua hari sudah Ayra dan baby nya dirumah sakit. Selama itu pula banyak yang datang menjenguknya terutama sahabatnya Gerup Reseh. Setiap hari mereka berkunjung untuk melihat baby gembul yang menggemaskan, keponakan baru mereka itu. Sudah banyak kado berjejer juga untuk baby Shaka. Termasuk dari para readers (Hayo! siapa yang kirim hadiah?).


Hari ini Ayra dan baby nya akan keluar dari rumah sakit. Setelah melakukan berbagai pemeriksaan dan dinyatakan normal, keduanya diizinkan untuk pulang.


Papih dan Mamih tak ikut menjemput, hanya Ayah dan Ibu saja yang menjemput mereka. Setelah selesai membereskan barang-barang dan mengambil obat mereka pun keluar dan memasuki mobil, Baby Shaka digendongan sang nenek duduk didepan dengan sang kakek yang menyetir. Sedangkan sepasang orangtua baru itu duduk dibelakang.


**


Tak berselang lama mereka pun sampai dirumah dan sudah disambut sahabat gerup reseh, ada bang Agung dan Siska juga disana. Ternyata Papih dan Mamih tak ikut menjemput karena ikut menyambut disana.


"Welcome baby Shaka!"


Penyambutan begitu meriah, dengan terompet dan segala pernak pernik. Bahkan mereka menyulap kamar yang sudah mereka tentukan untuk sang baby, dengan berbagai macam hiasan ala baby boy.


"Ya ampun gumush sekali. Ini kalian yang buat!" Ayra dibuat takjub dengan hiasan dikamar bayinya. Kamar yang letaknya sebelah kamar keduanya, yang pernah mereka singgahi saat urgent membuat part.


"Iya dong! Kita yang bikin." Timpal Siska dengan bangganya.


"Bikin apanya? Lu gak bikin apa-apa juga dari tadi!" Protes Feby.


"Ihh kakak mah gitu, itu yang niup balon siapa? Aku sampai mangap-mangap kehabisan oksigen loh itu." Elak Siska tak terima.


"Lagian sih kamu. Balonnya kan pake gas, eh malah ditiup. Salah siapa coba?" Timpal Agel. Membuat mereka tergelak.


Baby Shaka sudah ditidurkan dibox bayinya oleh Ibu. Keempat orang tua itu berlalu meninggalkan mereka yang tengah duduk di sofa luar kamar. Meninggalkan baby Shaka yang tengah tertidur.


"Aka Aska sini!" Ayra merentangkan tangannya kala bang Agung datang membawa baby Aska digendongannya.


Baby Aska tak menanggapi Mamanya, dengan mata berbinar Ia malah merentangkan tangannya pada Siska. Ternyata dalam tiga hari ini baby Aska begitu nempel pada Siska. Si onty nya itu sangat bisa meluluhkannya.


"Uhhh..Dede mau sama onty ya? Sini-sini!" Siska mengambil alih baby Aska dari Papihnya dan menggendongnya seraya mendaratkan ciumannya di wajah gembil baby Aska.


Ternyata dalam waktu empat bulan lebih ini, baby Aska tumbuh seperti bayi normal lainnya, bahkan tanpa diduga tubuhnya berkemang dengan sangat baik. Bayi yang tadinya begitu mungil, kini begitu gemoy dan chuby. Ia juga sangat aktif, kadang membuat mereka yang merawatnya kewalahan.

__ADS_1


"Sis baby Aska kayanya nurut banget ya sama kamu?" Tanya Rila.


"Iya nih. Udah jadi pawangnya." Timpal Siska membuat mereka tertawa.


Ayra menghampiri baby Aska, menoel pipinya. "Aka kenapa gak mau sama Mama? Gak kangen sama Mama?" Tanyanya.


"Gak Mama, kan punya onty imut." Timpal Siska dengan suara dibuat kecil dan menggerakkan tangan baby Aska membuat mereka tertawa kembali.


"Udah pantes tu jadi Mama Sis!" Sindir Feby.


"Aku masih sekolah ya, kakak tu yang udah mateng. Pacaran mulu. Kapan halalnya coba?" Timpal Siska ikut menyindir.


"Tuh halalin-halalin!" Sindir Juna pada Rio dan disambut senyum oleh Rio.


"Pengennya sih sekarang juga boleh, tapi sinyal ijo nya belom dikasih komandan!" Timpal Rio membuat mereka terdiam.


"Emang bener Feb. Ayah lu belom merestui kalian?" Tanya Agel penasaran.


"Kalian yang sabar ya! Gue yakin, semuanya akan indah pada waktunya!" Ucap Ayra menyemangati keduanya dan diangguki juga yang lainnya.


"Bang Agung juga, gimana? belom ada gitu calon Mama buat baby Aska?" Tanya Devan.


"Paan sih lu. Lu denger ya! Buat gue, gak ada yang bisa gantiin Icha dihati gue." Timpal bang Agung yang begitu bucin terhadap mediang sang istri.


Siska yang mendengarnya terdiam. Entah kenapa ada rasa ngilu diujung hatinya. Apakah benar tak ada kesempatan untuknya dihati si abang duda ini? Jawabannya di.....(penasaran ya?)


"Gak papa lah bang cari lagi. Bukan untuk menggantikan almarhumah kak Icha, karena sampai kapanpun dia takan terganti. Tapi untuk melanjutkan hidup abang sama baby Aska." Timpal Agel.


"Iya bang. Baby Aska butuh sosok Ibu. Dia butuh kasih sayangnya." Timpal Rila. Dan dijawab anggukan yang lainnya, namun tidak dengan Siska. Ia masih menyelami pikiran dan perasaannya.


Bang Agung hanya mengedikkan bahunya acuh membuat mereka menghela nafasnya panjang.


"Sayang! Ayo kamu harus istirahat. Mumpung dede nya lagi tidur!" Ajak bang Ar pada sang istri dan diiyakan Ayra. Keduanya berlenggang kekamar baby Shaka untuk istirahat disana.

__ADS_1


Lepas kepergian keduanya. Mamih datang mengajak mereka makan. "Ayo kita makan siang bersama!" Ajaknya dan diiyakan oleh mereka.


Mereka berlenggang turun menuju meja makan yang sudah tersedia berbagai macam makanan buatan Mamih dan Bu Titin.


"Sini Aka sama Mimih dulu ya, biar onty nya makan dulu!" Ajak Mamih mengulurkan tangannya untuk mengambil alih baby Aska dari gendongan Siska.


Namun Baby Aska tak mau berpindah dari gendongannya. Hingga bang Agung ikut membujuknya, namun baby Aska tetap tak mau dan akhirnya menangis.


"Udah Mih gak papa, kalian makan aja dulu! Tar aku nyusul. Belum laper juga." Timpal Siska.


Ia membawa baby Aska keluar menuju gazebo dihalaman samping rumah. Ia senderkan baby Aska dipundaknya, mengusap kepalanya sayang seraya menenangkannya. "Tenang ya de, cup! cup! Bobo ya ganteng."


Ia terus mengelus-elus kepalanya hingga tangisnya mereda, sampai celotehannya pun tak terdengar. 'Pasti udah tidur.' Batinnya.


Bang Agung yang merasa tak tega akhirnya mengikuti Siska keluar. Ia melihat sang putra yang terlelap dibahu gadis yang Ia klam adek imutnya itu. Ia pun berhenti sedikit jauh darinya.


Ia tersenyum melihat pemandangan didepannya. Entah kenapa ada rasa bahagia dihatinya kala sang putra begitu dekat dengan adek imutnya itu.


Mamih yang ikut menyusul, berhenti dibelakang putra sulungnya. Ia melihat apa yang putranya lihat. Ia pun ikut tersenyum, kala melihat pemandangan itu.


Mamih menepuk pundak bang Agung membuatnya terlonjak kaget. "Mamih!" Ia sampai mengusap dadanya.


"Kelihatannya Siska gadis yang peka terhadap anak-anak." Ucap Mamih seraya melihat kearah Siska dan cucunya, membuat bang Agung melakukan hal yang sama. "Jika kamu sudah siap. Carilah yang seperti dia!" lanjutnya menepuk pundak sang putra dan berlenggang pergi.


Bang Agung terdiam sejenak mencerna ucapan sang Mamih. Apakah Mamihnya menginginkan Ia menikah lagi?


'Apakah aku bisa?' Batinnya.


************


Seperti biasa, jangan lupakan vote, like dan komennya ya readerss!!!


Sayang kaleaaannn😘😘

__ADS_1


__ADS_2