
Pagi ini Ayra bangun pagi-pagi sekali. Tidak ada drama bangun kesiangan lagi. Ia memutuskan untuk lebih rajin, membiasakan bangun lebih awal. Mencoba belajar untuk jadi calon istri yang baik. Eaaaak!
Setelah membersihkan diri, Ia ikut membuat sarapan bersama sang Mamih didapur.
"Mih. Aku bantu yah!" Ayra mengambil alih pisau dari tangan sang Mamih yang tengah mengiris bawang merah.
"Nah gitu dong pagi-pagi tuh cepet bangun. Dibiasain dari sekarang!" Ucap Mamih.
"Iya Mamih cantik." Timpal Ayra tersenyum.
Mamih hanya terkekeh dan menggelengkan kepalanya.
Kedua wanita cantik berbeda generasi itu terus bergulat dengan spatula dan wajannya. Diselingi canda tawa dari keduanya.
"Asslamualaikum!" Seseorang masuk dan menghampiri keduanya di dapur.
"Waalaikumsalam!" Timpal keduanya.
"Widih wangi banget nih!" Bang Agung menengok wajan yang mengepul diatas kompor.
"Tumben pagi-pagi udah disini? Di usir lu ya bang?" Tanya Ayra meledek.
"Enak aja. Mana ada orang ganteng di usir. Kakak lu itu bucin berat sama gue, mana bisa ngusir gue." Timpalnya dengan bangga.
"Idihhh kepedean banget. Yang ada abang tuh yang bucin akut sama kak Icha." Ledeknya lagi.
"Bucin sama istri sendiri gak papalah. Lah lu? Bucin sama pacar orang." Ledek balik bang Agung.
Sebelum masuk bang Agung sudah mengobrol terlebih dahulu dengan sang Papih. Papih menceritakan tentang adik bungsunya itu.
"Paan sih bang. Siapa juga yang bucin sama pacar orang?" Timpal Ayra tak terima.
"Lu lah. Siapa coba yang kemaren jalan sama cowok orang?" Tanyanya lagi.
"Eh bang Ar bukan cowok orang ya. Dia itu gak punya pacar." Timpalnya lagi.
"Tapi lu tetep bucin kan?" Tanyanya memancing Ayra.
"Ya.. Gak gitu juga." Timpal Ayra gelagapan.
__ADS_1
Bang Agung dan Mamih tersenyum melihat ekspresi gadis yang tengah mati-matian menyembunyikan rona merah dipipinya.
"Udah ngaku aja. Lu suka kan sama Ardi?" Goda bang Agung.
"Paan sih bang. Gak!" Elaknya. Namun ekspersinya tidak menunjukkan hal itu.
"Udah lu ngaku aja. Kelihatan banget tuh muka lu." Desak bang Agung.
"Emang kelihatan banget ya?" Tanya Ayra polos.
Tawa bang Agung pun pecah. Ternyata adiknya ini bener-bener tengah bucin. Hingga hilang sudah kepintaraannya.
Mamih yang melihat interaksi keduanya pun ikut tertawa.
Ayra yang sadar sudah terpancing sang Abang hanya mengerucutkan bibirnya. Kenapa coba otaknya selalu oleng kalo menyangkut tentang bang Ar?
"Isshhh.. Udah deh bang berisik. Ngapain sih pagi-pagi udah kesini? Bikin rusuh lagi." Gerutunya.
Bang Agung masih tetap dengan tawanya. "Yaelah sensi amat yang lagi bucin. Gakpapa kali ngaku juga. Tar lu jerawatan." Ledeknya.
Ayra hanya mendengus kesal. Pasalnya tiap berdua kek gini selalu ada aja hal yang membuat mereka ribut. Dan hasilnya Ayra tak pernah menang melawan sang abang.
"Emang mao ngapain?" Tanya Ayra kepo.
"Kakakmu minta diantar belanja sama Mamih. Pengen shopping berdua katanya." Mamih yang menjawab.
"Diihh...napa bukan weekend coba? Kan aku bisa ikut!" protes Ayra.
"Weekend paan? Lu nya aja sibuk pacaran." Timpal bang Agung.
"Issshh...gue gak pacaran ya bang. Gue cuma" Ayra tak meneruskan ucapannya. Bingung harus bilang apa. Bisakah dikatakan mereka tengah berpacaran? Namun tak ada status yang jelas antara kedunya.
Bang Agung kembali tergelak dan Ayra hanya mencebikkan bibirnya. Ternyata ngomong sama abangnya ini harus punya beribu suku kosakata untuk menimpali omongannya.
Bang Agung pun ikut sarapan dengan adik dan kedua orangtuanya.
"Assalamuaikum!" Suara cempreng dari depan rumah menghentikan sejenak kunyahan mereka.
"Waalikumsalam!" Jawab Mamih.
__ADS_1
Seorang gadis dengan tak tau malunya nyelonong masuk menghampiri keempat orang dimeja makan.
"Alhamdulillah rezeki nih!" Feby yang datang langsung duduk dikursi dekat Ayra.
"Paan? Datang-datang langsung Alhamdulilah. Mau numpang makan lu ya." Ledek bang Agung.
Bang Agung memang dekat dengan ketiga adiknya ini.
"Hehe Iya bang. Buru-buru tadi belom sempet sarapan." Jawabnya cengengesan.
Keempat sahabat ini sudah tidak sungkan lagi dengan keluarga mereka masing-masing.
"Ya udah nih kamu sarapan juga!" ucap Mamih menyodorkan piring berisi nasi goreng ke hadapan Feby.
Setelah berterima kasih, Feby pun memakan makanannya. Mereka menikmati sarapannya diselingi obrolan-obrolan ringan.
.
.
"Lah ngapain dulu. Kok berenti disini?" Tanya Ayra ketika motor yang mereka tumpangi berhenti didepan minimarket.
"Ada yang mau gue beli." Jawab Feby sambil membuka helm dan menuruni motornya.
"Ya tau. maksud gue mau beli apa?" Tanyanya lagi.
"Gue pen beli roti dulu bentar." Jawab Feby.
"Baru juga sarapan lu, dah mau beli roti lagi." Protes Ayra namun tak ayal ikut turun juga.
"Ck. Bukan roti itu, roti buat nampung si merah." Jawabnya dengan terus berjalan dan diikuti Ayra.
Ayra menoyor kepala Feby dan tergelak. Sahabatnya ini paling bisa buat orang ketawa.
Mereka masuk minimarket dengan terus bercanda ria.
Tiba-tiba Feby berhenti dan membuat Ayra juga berhenti.
"Eh bukannya itu?"
__ADS_1
*Jangan lupa like dan komennya yaa sayang-sayangnya aku! Boleh vote nya juga.. Biar bang Ar cepet nembak neneng Ay😁