
Tatapan keduanya terkunci. Hembusan napas beraroma mint dari pemuda dihadapannya begitu memekat di indera penciuman sang gadis. Jantungnya berdebar tak beraturan menyelami dalamnya mata indah yang mampu menghipnotisnya itu.
Abi menarik satu sudut bibirnya tanpa diketahui Sena. Melihat wajah cantik sang gadis dari sedekat itu, membuatnya ingin menjeda waktu lebih lama untuk menyusuri keindahan dari ciptaan-Nya yang begitu sempurna dimatanya itu. Mata indah yang kian menggetarkan hatinya. Bibir baby pink nan ranum begitu menarik perhatiannya, hingga ingin rasanyan Ia mencicipi bibir manisnya. Namun segera Ia tersadar dan menepis pemikiran itu.
Hufhhh~
Tiupan dari Abi sukses membuat Sena terkesiap dengan gelagapan. Ia mengembang kempiskan mulutnya kala pipinya yang tiba-tiba saja terasa terbakar.
"Lu ngapain disini?" Tanyanya mengalihkan perhatian.
"Lu juga disini? Kenapa gue nggak?" Bukan menjawab Ia malah kembali bertanya.
Sena menghembuskan nafasnya panjang. Kenapa juga Ia begitu mengagumi sosok yang sudah jelas-jelas begitu menyebalkan itu?
"Ck! Lu tu ngeselin banget sih! Ya udah gue pergi." Kesalnya hendak berdiri, namun Abi segera memegang kedua bahunya dan mendudukannya kembali.
Sena kembali duduk dengan wajah yang sedikit ditekuk. Abi mendudukan diri disisi Sena, dan dengan reflek Sena bergeser. Hingga keduanya duduk di ayunan kayu dengan tali yang mengait pada dahan besar dari pohon besar didekatnya yang muat dua orang itu.
"Apa lu sering disini?" Tanya Abi.
"Emm iya. Ini tempat gue semedi." Kekehnya membuat Abi menoleh.
"Oh ya, lu belum tau ya, gue suka menulis. Jadi disini gue selalu menyempatkan diri untuk menggerakan jempol gue." Lanjutnya tertawa kecil.
"Penulis?" Tanya Abi.
"Pemula. Hanya sekedar menyalurkan hobi aja!" Balasnya. "Lu sendiri masih suka menggambar?" Tanyanya.
"Hem!" Jawbmya mengangguk.
"Bisa gambar gue dong? Gue pengen lukisan, eh bukan. Sketsa gitu. Buatin ya! Ya!" pintanya seraya merengek.
"Oke! Ada harganya?"
"Ck! Lu mah perhitungan banget deh. Sama gue juga." Protesnya dan dijawab gedikan bahu oleh Abi.
Lama Sena bergulat dengan otaknya, ingin Ia mendapatkan sketsa itu, namun Ia juga tak dapat membayar sepupunya. Mengingat uang jajannya tengah diskip sang Mama, karena si kang kurir yang tiap hari membobol dompet wanita tercintanya. Membuatnya harus mendadak menjadi rakyat jelata karena ulahnya. Belanja online yang dilakukan Sena seolah menjadi candu yang mendarah daging didirinya. Sampai Ia kalap dan dihukum sang Mama dengan mengirit uang jajannya.
"Emm, gimana kalo gue gak bayar pake duit?" Tanya Sena menaikan turunkan alisnya. "Pake apa gitu? Misal lu mau jadiin gue pelayan lu, atau apa lah. Gak papa deh, asal gue dapet sketsa gue." Tawarnya.
__ADS_1
Abi kembali menarik satu sudut bibirnya. "Oke! Bisa gu pikirin!" Ucapnya.
"Gitu dong! Jangan pelit sama cewek cantik." Kekeh Sena membuat lengkung senyum sedikit terukir dari bibir manis pemuda disampingnya.
"Kurang lebar tuh senyumnya!" Ledek Sena, namun Abi tak mempedulikannya.
"Lagi dong? Lebih manis gitu?" Goda Sena menjewel kedua pipi sepupunya itu seraya senyum yang menghiasi wajah cantiknya.
"Nggak!" Tolaknya.
"Lagi! Ayo!" Sena menggerakan bibir sexy itu hingga terbentuk senyuman dan sukses membuat Sena tertawa.
Sekilas Abi menyunggingkan senyumnya melihat tawa sang gadis. Ia menggerakan kakinya pelan, hingga ayunan itu pun bergerak.
Dan hal itu membuat Sena terkejut dan reflek memeluk tubuh tegap disampingnya. "Ihh! Abi.. Gue kan- Aaaa!!!"
Belum selesai Sena berkomentar Abi kembali menggerakan ayunan itu sedikit keras. Hingga Sena pun memekik terkejut dan semakin erat memeluknya. Dengan kedua tangan Abi memegang kedua talinya. Hingga gelak tawa begitu renyah terdengar dari bibir manis itu. Senyum tipis pun terus terukir dari pria dingin yang sepertinya mulai menghangat itu.
Seseorang dari sebrang sana terus memperhatikan keduanya. Aska yang hendak kembali menemui adik kesayangannya, mengurungkan niatnya. Ia berdiri mematung diatas teras sekolah kala mendengar gelak tawa dengan suara yang tak asing di indera pendengarannya. Hingga atensinya tertuju pada dua insan yang asyik berdua diatas ayunan yang terlihat begitu mesra dimatanya. Dan sayangnya begitu menyayat bagian dadanya.
Ia pegang dadanya yang begitu sesak. Ia tarik dasi yang terasa mencekik lehernya. Hingga dasi yang tadinya bertengger rapih, kini berantakan seketika. Ia menarik dan membuang nafasnya kasar seraya memejamkan matanya.
Namun baru saja satu langkah, Ia menghentikan pergerakannya dan berdecak kesal seraya mengusap wajahnya kasar.
Dengan tangan yang berkacak pinggang Ia menoleh sebentar melirik keduanya, lalu kembali menghembuskan nafanya kasar. Tak ingin lebih lama melihat pemandangan itu, Ia pun memilih pergi dari tempat itu.
**
"Ck! Apa-apan sih?" Omel seorang gadis yang sedikit terkejut dengan membalikan badannya. Mendapati seorang pemuda yang tiba-tiba saja menarik pergelangan tangannya dari belakang.
"Ikut gue!" Ajaknya sedikit memaksa dan hendak menyeretnya.
"Nggak! Paan sih?" Sang gadis masih mempertahankan dirinya agar tak bergerak.
"Kita harus ngomong." Balasnya membuat sang gadis menarik satu sudut bibirnya.
"Gak ada yang perlu diomongin lagi. Dan ingat, sekarang gak ada kita. Antara lu sama gue." Timpal sang gadis.
Namun sepertinya Ia masih enggan melepasnya. Hingga tangan seorang pemuda menghentikan tarikan tangannya.
__ADS_1
"Lepas!" Ucapnya dengan tatapan tajam.
"Shaka? Gue rasa kita gak ada urusan." Balasnya.
"Tentu ada. Lu gak nyadar? Lu lagi nyentuh milik gue." Balas Shaka.
Ia tersenyum sinis mendengar penuturan Shaka. "Jadi, Jingga milik lu gitu?" Tanyanya.
"Apa perlu gue perjelas?" Bukan menjawab Shaka malah balik bertanya.
"Dan urusan gue masih belum selesai sama dia." Balasnya.
Shaka tertawa sumbang mendengar penuturan pemuda pengecut didepannya itu. "Radit! Radit! Belum selesai lu bilang?" Tanyanya.
Shaka memisahkan tangan Radit dari sang gadis dan menarik tubuhnya kedalam rangkulannya, lalu memeluk pinggangnya posesif.
"Urusan lu udah selesai sama cewek gue, hari itu juga." Tutur Shaka. "Bukan begitu sayang?" Tanyanya pada Jingga dan dijawab senyuman manis Jingga seraya merangkul leher Shaka.
"Tentu! Dan aku gak memiliki urusan sama siapapun." Ucapnya mendekatkan wajah kearah Shaka hingga mata keduanya terkunci. "Kecuali kamu." Lanjutnya menoel hidung Shaka dengan senyum yang menghiasi wajah cantiknya dan disambut senyum manis oleh pemuda didepannya.
Radit tersenyum sinis melihat itu dengam menggulirkan bola matanya malas. Ia berlenggang meninggalkan pasangan yang terlihat begitu bucin dimatanya itu.
Jingga menghembuskan nafasnya panjang kala Radit berlenggang meninggalkan mereka. "Udah lepas! Dia udah pergi." Titahnya.
"Kenapa harus dilepas?" Tanya Shaka dengan tatapan yang masih mengarah padanya.
"Panggungnya udah selesai." Ucap Jingga.
"Kalo gue masih pengen kek gini gimana?" Tanyanya membuat Jingga menautkan satu alisnya heran. "Gue pengen, ini bukan hanya sekedar panggung!" Tegasnya.
***************
Ayo ramaikan lagiš udah mulai bikin Aka patah hati yaaš¤ Maaf yaa kak disini mak othor harus jahatd padamuš
Maaf visual aka Sha diganti, yang kemarin lupa namanya𤣠Agak miriplah sama bapaknyaš¤
__ADS_1
Ini Jinjin reingkarnasi emaknya yaa! Jangan tanya kenapa? Yang jelas sangat sosok sama katakter Jinjinš¤