
Hari ini kelas dua belas tengah mengadakan ujian nasional. Kelas sepuluh dan sebelas pun turut diliburkan. Sena yang mengingat hari ini libur, sengaja enggan turun dari tempat tidurnya. Bahkan teriakan sang Mama untuk mengajaknya sarapan tak Ia gubris sama sekali. Ia masih anteng menutup diri dengan kain tebal hingga membalut seluruh tubuhnya.
"Ya ampun! Ni anak, mentang-mentang libur gak bisa apa bangun pagi." Dumel sang Mama didepan pintu kamar seraya berkacak pinggang.
Tok! Tok!
"Sen! Cepet bangun!" Teriaknya lagi.
Abi yang baru keluar dari kamarnya, berhenti didepan pintu kala melihat wanita yang sudah seperti mama nya sendiri itu tengah misuh-misuh didepan kamar putrinya.
"Ma!" Sapanya.
Mama Ay menoleh mendengar sapaan seseorang disampingnya. "Nah ada kamu bi. Tolong bangunin Sensen ya! Dari tadi mama bangunin gak mau juga bangun. Mama lagi masak sayur tuh didapur takut gosong. Tolongin mama ya!" Cerocosnya dan hanya diangguki Abi sebagai jawaban.
Mama Ay tersenyum lalu berlenggang pergi setelah memerintahkan kembali ponakannya itu untuk berhasil membangunkan putrinya.
Abi menghembuskan napasnya panjang. Ia tatap benda persegi didepannya. Ia mencoba mengetuk pintunya berulang kali, namun nyatanya tak ada jawaban apapun dari dalam sana. Ia mencoba memanggilnya namun nyatanya juga nihil. Akhirnya Ia memutuskan kembali kedalam kamarnya, mengambil sesuatu dari dalam laci nakas.
Abi menarik satu sudut bibirnya kala benda yang Ia butuhkan ada didalam sana. Ia kembali keluar dan berdiri didepan pintu kamar yang penghuninya entah tengah melakukan apa. Ia gunakan benda yang tadi diambilnya untuk membobol benda didepannya. Hingga pintu itu pun terbuka.
Semenjak tau sang gadis yang sulit dibangunkan, Ia pun berinisiatif untuk membuat kunci duplikat seperti yang kakak sepupunya lakukan. Tak ingin membiarkan sang kakak yang terus membangunkan gadisnya, Ia mulai berencana akan menjadi orang pertama yang akan melakukannya.
Bibirnya tertarik sempurna kala melihat gadisnya yang masih meringkuk didalam selimutnya. Ia mendekat dan mendudukan diri ditepi ranjang. Membuka sedikit kain tebal itu hingga wajah cantik itu terlihat.
Fiuhhh~
__ADS_1
Ia tiup wajah dengan mata tertutup sang gadis hingga terdengar gumaman kecil dari bibir tipisnya. Sekali lagi Abi melakukan hal yang sama, hingga gumamannya mulai terdengar keras.
"Ck! Aka gak usah ganggu, aku masih nagantuk! Aku izin aja udah." Ucapnya dengan mata yang enggan terbuka.
Seketika gerutuan dari sang gadis membuat senyuman dari wajah tampan itu pudar. Terlihat raut wajahnya kembali datar. Ia mendekatkan kembali wajahnya dan berbisik ditelinga sang gadis.
"Segera bangun? Atau aku paksa?"
Mendengar suara yang tak asing dengan hembusan napas hangat yang mengenai telinganya, perlahan mata Sena pun terbuka. Hingga pemandangan pertama yang Ia lihat adalah wajah tampan yang selalu menggetarkan hatinya.
Ia tersenyum merasa semua itu hanyalah mimpi yang tadi malam tersambung kembali. Ia tangkup kedua pipi pemuda didepannya hingga Abi sedikit terlonjak dibuatnya.
"Kamu tau? Kenapa setiap malam kamu selalu hadir dimimpiku?" Tanyanya. "Kamu tuh buat aki gila bi. Dekatmu, jantungku berdetak lebih cepat. Hatiku bergetar kala menatap matamu ini." Lanjutnya.
Abi menarik satu sudut bibirnya mendapati penjelasan dari gadisnya itu. Ia hanya diam membiarkan sang gadis mengeluarkan uneg-unegnya.
"Cinta." Balas Abi.
Sena tertegun mendengar satu kata yang jelas dari bibir sepupunya itu. 'Ini bukan mimpi?' Batinnya bertanya-tanya.
"I love you Sena."
Penuturan Abi membuat Sena terpaku. Ia baru menyadari bahwa semua itu adalah nyata. Hingga benda kenyal yang menyapa bibirnya, sukses menyadarkannya. Ia memejamkan matanya, merasakan gerakan lembut dari benda tersebut. Menikmati degupan jantung dari keduanya yang saling bersahutan.
Hingga Abi mengakhirinya dan menghapus jejak kebasahan dibibir ranum itu seraya tersenyum manis. Sena pun ikut tersenyum dengan menundukan matanya merasa malu dengan apa yang sudah terjadi.
__ADS_1
"Mulai sekarang, hanya aku yang akan menjadi alarm untukmu. Jangan pernah mencoba bangun, saat aku tak melakukannya. Paham!" Peringat Abi dan dijawab anggukan sang gadis seraya kembali menatapnya.
Abi merapihkan anak rambut yang berantakan dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya. "Bangunlah! Kita akan kesuatu tempat." Ajaknya.
Sena mengerutkan dahinya penasaran. "Kemana?" Tanyanya.
"Segera bersihakan dirimu dan kau akan tau!" Balasnya hingga Sena berdecak kesal, karena tak dapat jawaban.
"Ck! Iya, iya."
Sena bangkit dari tidurnya hingga Abi pun sedikit menjauh, kakinya bergerak hendak berdiri seraya mencepol rambutnya tinggi-tinggi. Hingga pergerakannya terhenti kala mendengar intruksi dari pemuda dibelakangnya.
"Berhenti!" Titah Abi.
******************
Maaf yaa, Sensen baru up lagiš¤ Banyak urusan dunia nyatanya iniš
Jangan lupa jejaknya yaaš¤
Ini yang jadi alarm baruš
__ADS_1
Ini yang butuh alarmš