Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 81


__ADS_3

Setelah melakukan sarapan bang Ar membawa sang istri ke klinik untuk diperiksa. Bu Titin tak ikut mengantar, karena Ia harus bekerja. Jadi hanya mereka berdua yang pergi. Dan benar saja asam lambungnya naik. Itu penyebab Ia muntah-muntah hari ini.


Setelah drama meminum obat tablet, yang seperti biasa harus dari mulut sang suami. Akhirnya Ayra pun tertidur. Bang Ar tak meninggalkan sang istri barang sedikitpun. Ia terus menemaninya diatas kasur, sampai membawa laptopnya juga disana.


Ia mulai mengotak atik laptopnya, melihat laporan yang masuk dari perusahaan. Ketika Ia tengah fokus, tiba-tiba suara ketukan pintu terdengar dari luar rumah.


Bang Ar meninggalkan laptopnya dan berjalan keluar kamar untuk mengetahui siapa yang berkunjung. Ia membuka kunci pintu, dan saat pintu terbuka alangkah terkejotnya Ia, melihat siapa yang datang.


"Surprisee!!!!"


Ternyata yang berkunjung adalah Sang kakak ipar dan juga kedua sahabatnya.


"Kalian?" Bang Ar begitu shok, melihat mereka diambang pintu.


"Iya, kita kesini tu kangen sama kalian." Timpal bang Agung.


"Iya. Ay juga jarang kasih kabar, jadi kita khawatir sama kalian." Timpal Agel.


"Kok kalian cuma bertiga, yang lain kemana?" Tanya bang Ar.


"Si Devan gak bisa ikut soalnya Rilanya sakit. Terus si Rio masih belom diizinin bokapnya Feby buat ketemu anaknya. Jadi kagak ngikut." Timpal Juna.


"Iya. Jangankan sama Rio, sama kita aja sulit ketemu dia. Kek nya, permasalahan mereka cukup rumit deh." Timpal Agel.


"Ya udah kita biarin aja dulu. Mungkin ayahnya Feby pengen memastikan sampai mana perjuangan Rio buat dapatin anaknya. Karena pada dasarnya semua orangtua ingin yang terbaik untuk anaknya." Timpal bang Ar dan dijawab anggukan sepasang kekasih itu.


"Udah lah tar lagi curhatnya. Pegel nih kaki gue, kagak mau dikasih masuk gitu?" Tanya bang Agung membuat mereka tertawa.


Mereka pun berlenggang masuk dan duduk disofa.


"Bang, kakak ipar gak ikut?" Tanya bang Ar yang baru datang mengambilkan minuman untuk ketiganya.


"Gak. Dia gak enak badan. Biasa bawaan hamil." Timpal bang Agung. "Kok lu yang ambilin minum, si Ay kemana?" Tanyanya.


"Ay sakit bang. Dia lagi istirahat." Timpal bang Ar.


"Ya ampun, gue kira dia lagi mandi. Gue lihat ya bang?" Agel akan pergi namun tangannya segera dicekal sang kekasih.


"Jangan yang. Katanya dia lagi sakit. Biarin dia istirahat!" Titah Juna dan Agel pun akhirnya pasrah dan kembali duduk.


"Tuh anak pasti asam lambungnya naik lagi kan?" Tanya bang Agung.


"Iya bang. Susah banget buat nyuruh berhenti makan pedes. Ngeyel banget dibilanginnya." Timpal bang Ar.


"Gak sekalian aja, ganti tu nasi pake cabe. Gak ada kapok-kapoknya tu anak." Omel bang Agung yang tau kebiasaan sang adik, yang tak bisa hengkang dari pedas. Membuat mereka tertawa.

__ADS_1


"Oh iya bang, gimana urusan disini?" Tanya Juna.


"Emm..masih proses sih. Kemarin percobaan bibit tomat dan lainnya udah bagus, gak ada keluhan. Sekarang tinggal nunggu bibit cabenya aja. Rencananya siang ini mau cek, tapi karena Ay sakit, mungkin besok aja dicek nya." Timpal bang Ar.


"Kalo semua udah bagus, apa mereka gak akan kasih toleran?" Tanya bang Agung.


"Gak tau juga sih bang. Gue gak mau terlalu berharap lah. Gue lagi mencoba buat pemasaran. Smoga aja berhasil." Timpal bang Ar.


"Lu tenang aja. Kita bantu buat pemasaran." Timpal bang Agung.


"Iya. Dijaman sekarang gak akan susah buat dapat banyak konsumen. Apalagi sekarang banyak para petani muda yang saling melebarkan sayapnya." Timpal Juna.


"Dengan ini!" Agel menyodorkan Hp nya "Kita bisa promosi diberbagai tempat. Bang Ar tenang aja. Folowers ku hampir setara dengan artis papan atas! Jadi akan lebih mudah." Timpal Agel.


Bang Ar tersenyum, Ia begitu bersyukur memiliki sahabat dan keluarga seperti mereka, yang siap mensupportnya.


"Makasih ya semuanya!"


Ketika mereka tengah asyik berbincang, Ayra terbangun mendengar begitu ramainya diluar. Ia bangun dan menghampiri mereka.


"Agel!" Teriaknya shok melihat sang sahabat ada dirumah itu.


"Ay!" Agel bangun dan buru-buru menyambar tubuh sahabatnya. Aksi peluk-pelukan pun tak dapat dihindari. Yang biasanya mereka selalu bertemu setiap hari, melakukan apapun bersama, sekarang terpisah oleh keadaan.


"Sama gue juga!" Ayra memablasnya tak kalah erat, bahkan sampai tubuh keduanya, berleok sana sini.


"Udah deh gak usah pada lebay!" Sindir bang Agung membuat keduanya memicingkan mata kearahnya. "Kenapa? Kenapa?" Tanyanya tanpa dosa.


Kedua sahabat ini tak memedulikan tanggapan bang Agung. Mereka terlihat asyik sendiri dengan duduk dikursi depan tv. Mode ghibahnya on. Apapun mereka ceritakan, tanpa memedulikan ketiga cowok disofa.


"Eh Ay! Gue laper. Lu masakin makanan gih!" Titah sang abang dengan entengnya.


"Paan lu bang. Dateng-dateng minta makan. Udah tau juga gue gak bisa masak." Timpalnya.


"Terus kalo lu gak bisa masak, kalian makan apa?"


"Aku makan pisang." Timpalnya cekikikan.


"Wah parah lu, terus yang masak suami lu gitu?" Tanyanya lagi.


"Iya!"


"Terus lu bisanya apa?"


"Bikin part ngamer!" Timpalnya membuat mereka tergelak.

__ADS_1


"Dasar lu yah! Gue bilangin Mamih, anak kesayangannya udah durhaka sama suaminya. Biarin suaminya cape-cape masak." Ancam bang Agung.


"Eh bang gue gak durhaka ya. Gue tu sholehah! Gue juga sama capenya." Protes Ayra


"Sholehah apanya lu. Cape ngapain coba?" Tanyanya lagi.


"Sholehah dong. Diajak cari pahala sama suami aku nurut kok, gak pantang cape." Timpal Ayra membuat mereka kembali tergelak.


"Serah deh. Bucin lu!" Pungkas bang Agung.


"Kenapa bang kalah ya?" Sindirnya.


"Au ah. Cape gue!" Timpalnya lagi.


"Yess!! Akhirnya setelah sekian purnama, gue menang juga." Ayra bersorak girang setelah bisa mengalahkan ucapan sang abang yang baru pertama kali bisa Ia kalahkan.


Mereka terus tertawa dengan perang kata yang keduanya keluarkan. Bang Ar yang baru mengetahui tingkah keduanya tersenyum. Ternyata seperti ini rasanya memiliki saudara? Ia yang hidup menjadi putra tunggal tentu tak pernah merasakan itu. Namun Ia sudah cukup bahagia dikelilingi orang-orang yang sayang dan peduli dengannya.


Ditengah kebisingan itu, tiba-tiba seseorang membuka pintu tanpa mengetuknya. "Assalamualaikum!"


"Waalikumsalam!" Jawab mereka serempak.


"Haii kakak! Wah lagi kumpul-kumpul nih!"


"Kamu tau kita tinggal disini Sis?" Tanya Ayra.


"Iya kak. Tadi ibu udah cerita kakak tinggal disini, dan katanya kakak sakit ya?" Tanyanya dengan nyelonong masuk menuju kursi depan tv.


"Iya, tapi udah mendingan kok!" Timpal Ayra.


"Syukur deh kalo gitu. Nih aku bawain makan siang buatan ibu." Siska menyodorkan makanannya dimeja dan ikut duduk.


"Mana makanannya? Gue mau dong laper nih!" Bang Agung ikut nimbrung disana.


Siska yang baru ngeuh ternyata ada cowok baru disana, membolakan matanya. Mulutnya sampai menganga melihat cowok tampan didepannya.


"Astagfirulloh! MasyaAlloh!"


"Ada apa Sis?" Tanya Ayra kaget.


"Ganteng banget!" Gumamnya pelan dan nyaris tak terngar yang lainnya, dengan menatap lekat wajah sang pria.


**************


Mari-mari merapat, tinggalkan jejakmu disinišŸ¤—

__ADS_1


__ADS_2