
Me📞
Pokoknya gue mau cimol bi Eem. Lu harus bawain!
Feby📞
Duh ay! Lu tau sendiri, dari rumah gue ke bi Eem jauh. Lu suruh Agel deh!
Me📞
Gak! Gue mao lu yang beliin!
Feby📞
Ribet banget dah lu. Keburu siang ini mao berangkat kesana. Rio juga dah nungguin dari tadi tuh.
Me📞
Pokoknya lu harus beliin. Titik.
Feby📞
Napa sih lu aneh banget deh. Lagian ini weekend bi Eem mana buka juga!
Me📞
Lu coba lihat dulu, siapa tau buka. Gue lagi pengen banget!
Feby📞
Ya udah iya. Gue lihat dulu! Udah yah, gue tutup!
Pagi ini Ayra mendadak menginginkan cimol langganannya itu. Hingga membuat sahabat sekaligus mantan kang ojek nya itu naik darah.
Mana baru pertama juga dapat lampu ijo dari sang Ayah untuk bisa jalan dengan sang kekasih, terus bangun kesiangan karena semalam vc dengannya hingga lupa waktu. Eh sekarang malah disuruh beliin dulu cimol.
Gak tau saja ini sahabatnya. Sebulan lebih dipingit, gak di kasih izin bertemu dengan sang kekasih. Membuatnya seperti kehilangan setengah nyawanya. Bahkan ingin bertemu secara diam-diampun tak pernah berhasil.
Dan sekarang sang Ayah sudah mengizinkannya untuk bertemu, bahkan jalan. Eh ini sahabat ngeribetin banget. Tapi ya sudahlah Feby pun pasrah, asal bersama sang kekasih. Ia siap dibawa kemanapun. Apalagi ke KUA ya Feb?
Kini Ayra tengah bersiap menyambut keluarga dan para sahabatnya. Ia juga mengajak Siska dan bu Titin untuk ikut gabung dan membantunya memasak.
"Kak! Apa semua bakal datang kesini?" Tanya Siska yang duduk di kursi meja makan tengah memotong wortel.
"Iya. Kecuali bang Agung sama kak Icha. Mereka gak bisa kesini." Timpal Ayra yang juga tengah duduk mengupas bawang.
"Kenapa?"
"Katanya kak Icha lagi sakit. Gak tau juga sih, selama kehamilan ini kak Icha sering banget sakit." Timpal Ayra sendu
__ADS_1
"Kasihan. Smoga cepet sembuh ya kak!" Timpal Siska dan dijawab anggukan Ayra.
Siska menyimpan pisaunya dan beralih menepuk bahu Ayra. "Udah kak jangan nangis, kita doain aja smoga istrinya bang Agung cepet sembuh!"
"Siapa? Gue gak nangis?"
"Ituh kaka nangis juga?"
"Gue gak nangis, pedih mata gue kena bawang ini!" Timpal Ayra menguceuk matanya menggunakan lengan.
Siska menghela nafasnya kasar. "Ck. Aku kira kakak nangis! Bikin khawatir aja." Ucap Siska kembali mengambil pisau dan wortelnya dengan bibir yang semakin kedepan.
Ayra tertawa menyimpan pisau dan bawangnya. "Njirrr... gue dikhawatirin adek imut ini." Timpal Ayra menyubit kedua pipi Siska.
"Kakak! Bau ihh jorok! Pipi gue...." Jerit Siska membuat Ayra semakin tergelak.
Tingkah keduanya tentu tak luput dari perhatian bu Titin yang tengah bergulat dengan wajan dan spatulanya. Ia begitu bahagia melihat putrinya yang dapat bercanda ria dengan gadis yang Ia klam sudah menjadi putrinya juga.
Ditengah Siska yang tak memiliki saudara bahkan keluarga lain, bu Titin bersyukur mengenal bang Ar dan Ayra yang mau menerima mereka menjadi bagian keluarganya.
Bahkan selama lebih dari satu bulan keduanya tinggal disana, bu Titin memperlakukan keduanya layaknya anaknya sendiri.
Ditengah canda tawanya, tiba-tiba Ayra berlari menuju washtaple.
Uweekkk!!!
Ia muntahkan semua isi perutnya disana. Siska yang khawatir, menyusulnya. Ia mencoba memijit tengkuknya perlahan. Bu Titin buru-buru mengambil air hangat dan menyodorkannya kedepan Ayra.
"Kakak kenapa?" Tanya Siska.
"Perutku sakit. Kek nya asam lambungnya naik lagi deh. Gara-gara seblak kita kemaren!" Timpal Ayra lemas.
Kemarin Ia dan Siska membuat seblak super pedas berdua. Bahkan tanpa sepengetahuan bang Ar. Karena kalo sampai sang suami tau, sudah dipastikan Ia akan dapat ceramahan tujuh hari tujuh malam. Dan pada saat bang Ar pergi ke greenhouse, Ia mencari kesempatan datang kerumah Siska dan mengajaknya nyeblak.
"Kakak sih. Gak kira-kira ngasih cabenya. Aku aja tadi pagi ampe bolak-balik wc tau." Protes Siska.
"Yaudah pada diem ya! Jangan ampe bang Ar tau, kalo tau bisa berabe!" Titahnya dan dijawab anggukan Siska dan bu Titin hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Ya udah neng Ay istirahat aja dulu. Biar Ibu yang beresin masaknya!" Timpal bu Titin.
"Gak papa bu. Aku ambil obat dulu. Tar abis minum obat juga pasti enakan!" Timpalnya dan dijawab anggukan bu Titin dan Siska.
Ayra berlenggang kekamarnya untuk mengambil obat, begitupun bu Titin dan Siska yang kembali pada kegiatan mereka masing-masing.
Saat baru keluar kamar, tiba-tiba pintu depan diketuk begitu keras. Tanpa ada salam pintu terus digedor dengan tak sabaran. " Ya tunggu!" Teriak Ayra.
Ayra menghampiri pintu dengan terus menggerutu. Ia buka pintu dan mengerenyitkan alisnya sebelah melihat seseorang yang sudah lama baru menunjukkan batang hidungya itu.
Seorang wanita dengan berpenampilan menor tengah bertolak pinggang dengan satu tangannya mengibaskan kipas.
__ADS_1
"Mbak Euis? Ada apa?" Tanya Ayra heran.
"Aku mau cari a Asep. Mana?" Tanyanya dengan sinis.
"Mang Asep lagi kekebun, lagi metik sayur. Ada yang mau disampein?" Tanyanya lagi.
"Gak perlu. Aku mau tunggu didalam!" Timpalnya jutek dan tanpa tau malu nyeloning begitu saja sampai menubruk bahu Ayra. Dan duduk disofa dengan sombongnya.
Ayra tertawa remeh. Gak habis pikir dengan tante-tante yang selalu bikkn rusuh itu. Ia kembali menutup pintu dan hendak menuju dapur.
"Eh..kamu itu gak sopan!" Euis menghentikan langkah Ayra membuatnya menangkat alisnya sebelah.
"Kenapa?"
"Saya itu tamu loh disini. Gak kamu tawarin minum gitu?" Tanyanya sinis.
Ayra tertawa membuat mbak Euis keheranan. "Kenapa kamu ketawa?"
"Mbak disni tamu?"
"Iya!"
"Tamu siapa?" Tanya Ayra, membuat mbak Euis melongo.
"Maaf ya mbak! Aku gak pernah menerima tamu apalagi mengundangnya!" Timpalnya dengan senyumnya dan berlenggang kedapur.
Mbak Euis melongo. Sebenarnya makhluk apa yang Ia hadapi, kenapa selalu membuatnya naik darah?
Ia pun menyusul Ayra kedapur. " Kamu tuh ngeselin banget ya!" Teriaknya membuat atensi bu Titin dan Siska tertuju padanya.
"Kamu apa-apaan sih Euis? Dateng-dateng teriak-teriak. Ini rumah bukan kebon!" Timpal bu Titin.
Euis yang merasa malu, diam tak meneruskan kata-katanya. Ia hanya mencebikkan bibirnya dan ikut duduk dimeja makan. Ayra dan Siska hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
"Sayang, nih sayurnya!" Bang Ar dan mang Asep datang membawa sayur didalam bakul.
Ayra langsung berdiri dan menarik tangan sang suami meninggalkan dapur.
"Kenapa sih yang?" Tanyanya heran.
"Cepetan abang mandi!" Titahnya.
"Kenapa?"
"Tadi abang ditatap mbak Euis!" Timpalnya membuat bang Ar mengernyitkan dahinya tak mengerti.
"Terus?"
"Takut gatal-gatal." Seketika penuturan Ayra sukses membuat suaminya melongo.
__ADS_1
***************
Mari-mari ditunggu jejaknya readerss😘😘