Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 114


__ADS_3

"Feby!"


Feby berhambur memeluk sahabatnya itu. Dengan isak tangis yang memilukan Ia melesakkn wajahnya dibahu sahabatnya. Ayra mengusap rambutnya memberi kenyamanan untuknya.


Ayra membawanya duduk di sofa depan kamarnya. Dan mencoba melerai pelukannya. "Lu kenapa Feb? Ada apa?" Tanya Ayra khawatir.


"Ba-bantuin gue Ay!" Timpalnya terbata.


"Bantu apa?" Tanya Ayra namun Feby tak menjawab.


"Udah sekarang tenangin diri lu dulu. Gue mau ambil minum dulu. Oke!" Ucap Ayra menepuk pundaknya dan berlalu meninggalkan Feby disana.


Ayra kembali membawakan segelas air putih dan memberikannya pada sahabatnya itu. Dan Feby pun meminumnya.


Dirasa sudah lebih tenang Ayra menanyakan apa yang terjadi pada sahabatnya itu. "Sekarang jelasin sama gue. Ada apa?" Tanya Ayra.


Feby menarik nafasnya dalam-dalam sebelum memulai ceritanya. "Gue harus gimana Ay?"


"Ceritain dulu dari awal biar gue ngerti!" Titah Ayra.


"Gue! Gue!" Tangis Feby kembali pecah.


Ayra semakin dibuat bingung dengan sahabatnya ini. Ia menarik tubuh sahabatnya kedalam dekapannya. Membiarkannya menumpahkan semua rasa sesaknya dibahunya.


"Menangislah! Keluarkan semuanya!" Titah Ayra dengan menepuk-nepuk punggungnya. Sepertinya Ia harus membiarkan sahabatnya ini terlebih dahulu.


Setelah dirasa tangis Feby semakin mereda, Ayra pun melepas dekapannya. Ia hapus sisa kebasahan dipipi sahabatnya itu.


"Gimana? Udah merasa baikan? Mau cerita sekarang? Apa mau makan dulu? Atau kita shoping dulu aja?" Cecar Ayra membuat Feby berdecak kesal. Bisa-bisanya sahabatnya ini mengajaknya bercanda kala dirinya tengah bersedih.


"Diem lu! Gue lagi bingung. Bukan bantuin juga!" Omel Feby membuat Ayra tertawa kecil.


"Ya lagian lu sih. Kan gue udah nanya dari tadi. Gimana gue kasih solusi coba, kalo lu nya gak cerita? Coba lu ceritain deh biar gue ngerti!" Tutur Ayra.


Feby kembali menghela nafasnya panjang. "Gue! Gue!" Feby sampai menggigit biwir bawahnya. Ayra semakin menarik alisnya sebelah kala Feby tak kunjung juga cerita.


"Gue hamil!"


"Whaaat???"


Ayra sampai menganga dengan bola mata yang hampir keluar. Feby menunduk memijit pelipisnya yang terasa berdenyut.


"Bagus kalo gitu!" Timpal Ayra membuat Feby mendongak menatap tak percaya sahabatnya.


"Kok bagus?" Tanya Feby heran.


"Ya bagus. Bukannya hubungan lu belom juga direstuin Ayah lu?" Tanya Ayra dan dijawab anggukan olehnya.

__ADS_1


"Nah pas ini! Kalo hubungan tak kunjung direstui, saham pun bertindak!" Timpal Ayra membuat Feby terdiam mencerna ucapan sahabatnya.


Feby menghela nafasnya kasar. " Gak gitu juga kali Ay!" Protes Feby.


"Ya terus?"


"Kok lu gak ngerti-ngerti sih Ay? Terus gimana caranya gue bilang sama orangtua gue? Gue gak mau buat orangtua gue kecewa, Ay!" Tutur Feby kembali menumpahkan air matanya.


Ayra ikut menghela nafasnya pasrah. Ia juga ikut bingung dengan situasi sahabatnya ini. "Apa Rio udah tau?" Tanya Ayra dan dijawab gelengan kepala olehnya.


"Ya udah lu hubungi aja dulu si Rio biar kita omongin ini bareng-bareng!" Titah Ayra.


"Tapi dia lagi kerja!"


"Udah bilangin aja sama Ayah, kalo bang Ar lagi butuh bantunnya gitu. Biar diizinin kesini!" Timpal Ayra.


Semenjak menjadi sales dadakan waktu itu, ketiga pria yang dulu bekerja dikota sebrang sekarang bekerja diperusahaan Ayah Arshad.


"Ya udah gue coba telepon dulu." Feby mencoba menghubungi kekasihnya. Dan Ayra berlenggang ke kamarnya untuk mengambil Hp nya.


Ketika masuk Ia melihat sang suami yang terbaring dengan posisi tengkurap. Sepertinya suaminya tengah tertidur. Ia menyelimutinya, mengambil Hp nya diatas nakas dan kembali keluar kamar.


"Gimana?" Tanya Ayra seraya mendudukkan diri kembali disisi bestienya itu.


Feby mengangguk. "Dia otw kesini!"


Ayra mengirim pesan pada kedua sahabatnya untuk datang kerumahnya. Untuk menyelesaikan masalah ini, harus mendengar setiap masukan dari mereka.


"Sebenarnya ini gak sengaja kami lakuin. Dan itu hanya sekali." Timpal Feby.


"Ya tetep aja sekali juga pasti jadi." Timpal Ayra. "Tapi ya, yang gak habis gue pikir. Lu bisa ya lakuin itu sama Rio?" Tanya Ayra membuat Feby berdecak.


"Ck! Lu mah. Bisa lah! Lu aja sama bang Ar bisa." Protes Feby membuat Ayra tergelak.


"Tapi enak ya Feb?" Goda Ayra.


"Au ah!" Feby tak habis pikir dengan bestienya ini, semenjak menikah kek nya semakin somplak, otaknya ngamer mulu.


"Tapi ni yah, gue masih inget loh. Waktu kita lagi ngomongin cowok yang agresif itu. Ternyata bener yah si Rio diam-diam menghanyutkan, sekali tancep langsung jadi." Tutur Ayra kembali tergelak membuat Feby kembali berdecak.


Ditengah perbincangan keduanya. Rio datang dengan tergesa. Ia yang mendengar sang kekasih menangis tentu begitu panik, hingga tancap gas membawa motornya ala Marc Marques.


"Feby?" Teriaknya diambang pintu depan.


Ayra dan Feby yang mendengar teriakan Rio langsung turun menghampirinya.


Rio berhambur mendekap kekasihnya. "Kamu gak papa? Apa yang terjadi?" Tanyanya melerai pelukannya.

__ADS_1


"Udah kalian duduk dulu." Ayra menuntun mereka agar duduk disofa. "Kalian bicara dulu. Gue mau panggil dulu bang Ar." Ayra berlenggang kembali naik meninggalkan keduanya.


"Sayang! Kamu kenapa? Ada masalah?" Tanya Rio khawatir menggenggm kedua tangannya.


"Ada yang harus kita bicarakan." Tutur Feby membuat Rio mengangkat alisnya sebelah.


"Aku! Aku!" Feby ragu untuk mengucapkannya hingga membuat Rio semakin penasaran.


"Aku hamil yo!"


Rio tampak shok. Sama seperti ekspresi Ayra tadi. Merasa tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Kamu serius? Kita ngelakuinnya cuma sekali?" Timpal Rio membuat Feby menghempaskan tangan yang tengah digenggamannya.


"Jadi maksudmu, aku ngelakuinnya dengan pria lain juga gitu?" Tanya Feby merasa tak terima.


"Gak sayang bukan gitu maksudnya!" Rio kelabakan melihat sorot mata sang kekasih yang menajam.


"Maksud aku tuh-" belum juga selesai ucapannya, Agel datang. Ia hanya sendiri karena Rila gak bisa ikut.


"Ada apa?" Tanya Agel yang melihat suasana begitu tegang. Ia duduk dihadapan keduanya.


Feby hendak berdiri namun segera dicegah Rio. "Yang dengerin dulu. Please!"


Feby kembali duduk dengan perasaannya yang begitu sakit mendengar penuturan kekasihnya itu. Menghepaskan tangan Rio dan melipat tangannya didada.


"Maafin aku, ya aku salah! Gak seharusnya aku ngomong kek gitu." Rio meraih tangan kekasihnya itu dan menggenggamnya.


"Kamu harus tenang! Kamu harus percaya sama aku. Kalo perlu hari ini juga kita menikah." Tuturnya membuat Agel melongo.


"Bentar-bentar! Ini sebenarnya ada apa?" Tanya Agel heran. "Kenapa tiba-tiba kalian mau nikah?"


"Feby hamil!" Ayra yang menjawab seraya menuruni anak tangga.


Ayra dan bang Ar mendekat dan ikut duduk disana. Ternyata ekspresi Agel tak seperti Ayra dan Rio sebelumnya.


"Kok lu gak terkejut sih gel?" Tanya Ayra heran.


"Karena gue udah prediksi kalo ini pasti terjadi." Timpalnya.


"Kok bisa?"


"Gue tau dari Juna, mereka udah ngelakuin itu. Dan gue tau pasti itu jadi."


"Kok lu bisa yakin?"


"Karena ini." Ucapnya menunjukan sebuah benda hingga Ayra membelakak.

__ADS_1


***********


Gak bosen-bosen buat ngingetin supaya ninggalin jejak disinišŸ˜™ Dukungan kaleann begitu berharga buat mak othor ini, biar tambah semangat gitu😊


__ADS_2