
Ayra berhambur kedekapan sang suami menyembunyikan tangisannya disana. Bang Ar mendekapnya, mengelus rambutnya dan mencoba menenangkannya. Walaupun Ia tak tau dimana letak kesedihanya.
"Udah! Udah! Jangan nangis!" Ucap bang Ar menenangkannya.
"Gimana bang? Gimana ini?" Tanyanya dengan isak tangis yang tak henti dari bibirnya.
"Gimana apanya?" Tanya bang Ar heran.
"Ini aku hamil lagi, gimana?" Tanyanya lagi.
"Ya gak gimana-gimana. Emang kenapa?
"Tapi kan aku." Ayra tak meneruskan ucapannya dan seamkin mengeratkan pelukannya.
"Kenapa hem?" Tanya bang Ar lagi namun Ayra hanya diam tak membalas ucapan suaminya. Bang Ar menghela nafasnya dengan terus mengelus rambutnya sayang.
Ia melerai pelukannya, memegang kedua bahu sang istri dan menatapnya intens. "Apa yang kamu khawatirkan?" Tanyanya, namun Ayra hanya diam dan menunduk.
Bang Ar mencondongkan wajahnya, mengangkat dagu sang istri untuk menatapnya. Ibu jarinya menghapus jejak kebasahan dipipinya. "Dengerin abang!"
Bang Ar mengusap perut sang istri lembut. "Disini kehidupan baru tengah tumbuh. Ini rezeki untuk kita. Banyak diluaran sana yang menginginkannya dan terkadang belum Tuhan beri kesempatan. Dan sekarang kita dikasih lagi kesempatan itu. Dan tak sepantasnya kita menolak untuk bersyukur." Tutur bang Ar.
Ayra berhambur kembali kepelukan sang suami, air matanya kembali luruh. "Maafin aku bang! Bukan maksudku menolaknya, hanya saja aku memikirkan bagaimana dengan dede Shaka. Dia masih butuh mimi, aku bingung harus gimana bang?"
Bang Ar mengelus rambutnya kembali dan menciumi pucuknya bertubi-tubi. "Kamu tenang ya! Besok kita periksakan ke dokter, dan meminta solusinya!" Timpal bang Ar dan dijawab anggukan sang istri.
Bang Ar melerai pelukannya dan kembali menghapus lelehan air mata dipipi sang istri. "Udah jangan nangis lagi! Kasihan dede bayinya." Ucap bang Ar dan dijawab anggukan istrinya.
"Kamu tenang aja! Abang tanggung jawab kok." Tutur bang Ar dengan nada candaan.
"Isshhh abang mah!" Rajuk Ayra memukul dada sang suami dan membuatnya tergelak.
"Ya lagian kamu sih. Pake nangis segala. Udah kaya korban hamidun tau gak!" Timpal bang Ar disela tawanya. Membuat Ayra semakin mengerucutkan bibirnya.
"Udah tuh bibir jangan terus digituin minta disamber ya?" Godanya lagi hingga mendapat pukulan bertubi-tubi dari sang istri dan semakin membuatnya tergelak.
__ADS_1
"Iya! Iya ampun-ampun!" Bang Ar mencekal kedua tangan sang istri yang masih cemberut.
"Kamu tenang aja! Abang siap mencukupi semua kebutuhan keluaga kita. Bahkan kalo kamu melahirkan anak kita lagi, lagi dan lagi. Abang rela bekerja keras untuk anak-anak kita." Tutur bang Ar.
"Ishh gak gitu juga kali bang. Masa lagi, lagi, dan lagi. Dikira aku kucing apa?" Timpal Ayra yang masih memberenggut membuat bang Ar tergelak lagi.
"Itu artinya bibit abang ini berkualitas tinggi. Buktinya, dikasih benteng aja tetep jebol. High quality tu namanya." Tutur bang Ar dengan bangganya.
Ayra tersenyum mendengar penuturan suaminya. Rasanya semakin hari, suaminya ini sudah tertular virus somplaknya.
"Tapi ni ya bang. Aku masih belum ngerti, kok bisa ampe jebol? Gimana ceritanya?" Tanya Ayra heran.
Bang Ar melebarkan senyumnya hingga nampak semua deretan gigi depanya, membuat Ayra mengerenyitkan dahinya heran.
"Sebenarnya, abang pernah beberapa kali gak pake tuh si kokom." Ucapnya membuat Ayra melongo dan membolakan matanya.
"Hah?! Kenapa gak pake?"
"Soalnya gak enak! Si pisang gak leluasa nyapa si nonanya." Timpal bang Ar dengan entengnya.
"Ya ampun bang! Pantes aja kalo gitu mah." Ucap Ayra dengan geregetnya. Bisa-bisanya suaminya itu tak menggunakan pengaman saat mereka bikin part. Pantes bisa langsung tekdung juga, mainnya kan tak ada jeda tiap malam terus lagi XXXP nya itu. Coba hitung readers berapa bibit bang Ar yang masuk dirahim Ayra?
Bang Ar hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia memang melakukan itu. Tapi kok ya sang istri tak menyadarinya. Apa mungkin tak bisa membedakan mana yang pake mana yang enggak? pikirnya.
"Tapi kok aku gak bisa bedain ya? Pake atau nggaknya?" Tanya Ayra heran.
"Itu karena kamu terlalu menikmati. Ampe gak sadar kan?" Timpal bang Ar hingga kembali mendapat pukulan dari sang istri.
"Gak usah diperjelas kali bang!" Protes Ayra.
"Kenapa emang?"
"Malu tuh sama emak-emak readers!"
Bang Ar tergelak mendengar penuturan sang istri. "Udah biarin aja! Tiap kali kan kita diwasitin" Timpalnya.
__ADS_1
"Bang kasihan dede Shaka kalo harus berhenti mimi dari aku." Tutur Ayra kembali menunduk dan mengusap perut ratanya.
Bang Ar berjongkok dihadapan sang istri. Ia singkap bajunya dan mencium dalam perut ratanya dan mengelusnya lembut. Ia kembali berdiri dan menggengam kedua tangan sang istri.
"Kita serahkan semuanya pada keputusan dokter nanti, syukur-syukur masih bisa mimi sama kamu. Kalaupun nggak, masih banyak susu supor untuk dede Shaka." Timpal bang Ar membuat keduanya tersenyum dan dijawab anggukan sang istri.
"Sekarang panggilannya jadi ganti dong, bukan dede Shaka lagi. Sekarang jadi Aka Shaka ya." Ucap bang Ar membuat keduanya tertawa kecil.
"Ya udah kamu istirahat aja dulu. Jangan banyak pikiran! Kasihan kan dede bayinya dari tadi dengerin Mama nya yang ngedumel terus." Tutur bang Ar dan dijawab pukulan manja dari sang istri, namun tak ayal dengan senyumnya juga.
"Kamu istirahat ya! Abang mandi dulu." Bang Ar mencium keningnya, sebelum akhirnya berlenggang ke kamar mandi.
Ayra membaringkan tubuhnya yang serasa remuk. Biarpun Ia sudah mendapatkan pijitan di spa tadi, namun insiden hari ini membuatnya benar-benar lelah. Kenyataan yang Ia hadapi bukan membuat tubuhnya saja yang lelah, namun hati dan otaknya juga.
Ayra terus menghela dan membuang nafasnya panjang berulang kali untuk menenangkan dirinya. Ia usap perut ratanya dan tersenyum bahagia. "Makasih sayang udah hadir di rahim Mama. Mama janji akan menjaga kamu dengan baik! Maafin Mama udah sempat meragukanmu! Mama sayang kamu juga Aka Shaka."
Bang Ar yang ingin kembali mengambil handuknya, berhenti diambang pintu kala mendengar penuturan istrinya itu. Ia bahkan tersenyum bahagia. 'Aku akan berusaha membahagiakan kalian. Hartaku!' Batinnya.
**
Setelah membersihkan diri dan makan malam yang masih sore, keduanya kini tengah menonton tv didalam kamar. Seperti biasa baby Shaka sudah tertidur dengan antengnya.
"Bang kalo dedenya ntar lahir, apa Aka mau berbagi ya? Dia kan masih terlalu kecil?" Tanya Ayra yang tengah menyenderkan kepalanya didada sang suami.
"Emmm, pasti mau. Kita harus lebih memberikan pengertian dan perhatian kita pada keduanya." Timpal bang Ar merangkul pundak sang istri dan dijawab anggukan olehnya.
"Emm.. Kita Otewe yuk!" Ajak bang Ar membuat Ayra mendongak dan menaikan sebelah alisnya.
"Kemana?"
"Nengok dede bayi!"
***************
Seperti biasa jangan lupakan untuk meninggalkan jejak kalean yaa! Ayo komen, apapun itu. Ramaikan kolom komentarnya! Kasih like dan vote nya! Yang mau ngasih hadiah juga boleh😊**
__ADS_1