
Empat bulan berlalu, namun baby Shaka masih tetap menjadi baby mager. Tidur seperti menjadi prioritas utamanya. Membuat sang Mama tentu memiliki banyak waktu yang begitu luang untuk dirinya sendiri. Apalagi adanya sang mertua yang begitu memanjakannya, Ia tak pernah membiarkannya bermain dengan sang putra. Karena Ia selalu membawanya pergi kerumah besannya, untuk bermain dengan baby Aska disana.
Seperti hari ini, baby Shaka sudah dijemput sang nenek pagi-pagi sekali. Ayra hanya bisa memandikannya dan menyusuinya. Setelah itu ibu mertuanya langsung pergi membawanya.
Ayra yang merasa bosan dirumah sendiri, akhirnya menghubungi para bestienya untuk mengajak mereka me time. Mereka pun memutuskan untuk pergi ke spa. Entah kenapa akhir-akhir ini Ayra merasa tubuhnya begitu lelah, padahal Ia tak banyak melakukan apapun dirumahnya. Hanya ritual malam untuk membuat part mencari pahala dengan sang suami, yang tak pernah terlewat setiap malamnya.
*
Lima belas menit kemudian Ayra sampai dengan menggunakan taxi online. Ia masuk kedalam tempat itu dan mencoba mencari para bestienya. Ternyata mereka sudah sampai terlebih dahulu disana. Tidak hanya ketiga bestie nya saja. Aysa juga ikut gabung disana.
"Sorry gue telat." Sapa Ayra dengan cengiran kuda.
"Lu yang ngajak, lu yang telat. Dasar emang!" Timpal Feby membuat mereka tertawa kecil.
"Ya deh iya. Kuy kita mulai!"
Mereka pun memulainya dengan berganti pakaian terlebih dahulu, membaringkan tubuh mereka diatas bad, melakukan perilex an di bagian tubuh-tubuhnya.
"Nyamannya! Badan gue serasa remuk semua dari kemaren." Tutur Ayra dengan memejamkan matanya.
"Emang lu abis ngapain? Bukannya baby Shaka mageran ya?" Tanya Rila.
"Gue bikin part tiap malam! Terus bang Ar selalu nagih XXXP lagi." Timpalnya membuat mereka tergelak.
"Gue gak nyangka bang Ar ternyata perkasa juga." Timpal Feby disela gelak tawanya.
"Itu gimana tu si Rio, dia kan diam-diam menghanyutkan. Makin agresif kek nya ya?" Tanya Agel.
"Awal pengantin sih iya. Tapi makin kesini nggak!" Timpal Feby.
"Kenapa?" Tanya mereka serempak.
"Guenya nolak. Abis perut gue suka kram kalo harus nambah." Timpal Feby membuat mereka kembali tertawa.
"Padahal masih pengen ya Feb?" Sindir Ayra dan diiyakan olehnya membuat mereka semakin tergelak.
"Oh iy Sa. Lu sendiri gimana? Si bang Rendi kan mantan pleboy, pasti udah pemain banget tuh!" Celetuk Rila membuat mereka terdiam.
"Eh bukan gitu Sa maksudnya. Si Rila kalo ngomong suka ngasal deh." Timpal Agel merasa tak enak hati pada teman barunya itu. Ia melirik para bestienya seraya bertanya dengan sorot matanya. Gimana?
Aysa tersenyum. Tentu Ia tau tentang masalalu suaminya itu. Namun Ia tak pernah ambil pusing. Toh sekarang suaminya miliknya, sudah bucin pula padanya.
__ADS_1
"Gak papa! Emang itu kenyataannya. Yang penting sekarang ada hal yang membuatnya takan seperti itu lagi." Timpalnya.
Semenjak sering kumpul seperti ini, Aysa jadi tak sungkan banyak berinteraksi dengan mereka.
"Apa?" Tanya mereka melihat kearahnya.
Aysa yang sudah duduk dari tidurnya, mengelus perutnya yang terbalut handuk. Membuat mereka melongo.
"Hah?! Serius?" Tanya Ayra dan dijawab anggukan Aysa.
"Aaa! Akhirnya gue ada temennya. Selamat ya Sa." Jerit Feby ikut bangun dan menggenggam tangannya.
"Lu gimana gel? Keduluan tuh!" Tutur Rila.
"Gue juga udah telat sii, tapi belum gue cek. Takut kek bulan kemarin, kena prank gue." Timpal Agel terkekeh.
"Ya udah tar lu cek, jangan lama-lama!" Titah Feby dan diiyakan olehnya.
Ayra tak menanggapi semua ocehan bestie nya. Ia baru mengingat sesuatu. 'Kek nya bulan ini gue belum dapet deh. Apa udah ya? Kok gue lupa sih?' Batinnya.
"Woy Ay!" Teriak Feby membuat Ayra terlonjak. "Lu napa sih?" Tanya Feby heran.
"Ah nggak! Gue lagi nikmatin aja pijatannya." Elaknya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya membuat mereka mengerenyitkan dahinya heran.
"Emang iya?" Tanyanya membuat mereka menghela nafas dan geleng-geleng kepala. "Gue terlalu meresapi." Lanjutnya.
"Kita lanjut kamana nih?" Tanya Rila.
"Gue mau pulang aja lah!" Timpal Ayra membuat mereka keheranan.
"Tumben? Biasanya lu ngajak main dulu, shoping dulu gitu?" Tanya Feby.
"Gak tau kenapa, gue cape banget pengen tidur aja!" Timpalnya dan dijawab anggukan mereka.
"Ya udah, gue pulang duluan ya! Kalo kalian mau main, main aja!" Pamitnya dan diiyakan mereka.
Ayra pun berlalu menggunakan bajunya kembali. Ia keluar saat taxi pesanannya sudah menunggu diluar.
Ia pun memasuki mobil itu. bukan langsung pulang, Ayra mampir dulu kesebuah apotek untuk membeli sesuatu. Setelah itu, Ia pun kembali ke mobil dan memutuskan untuk pulang.
**
__ADS_1
Tak berselang lama Ia pun sampai dikediamannya. Ia memasuki kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Melakukan sesuatu yang tiba-tiba membuatnya gugup. Detak jantungnya terasa begitu cepat.
Ia buka matanya dan melihat benda ditangannya. Matanya membola melihat sesuatu yang belum siap Ia ketahui.
"Dua garis?" Ayra sampai menutup mulutnya.
Meskipun Ia memginginkannya, karena sang baby yang tak bisa Ia ajak main, namun untuk dikasih lagi secepatnya seperti ini masih terasa belum siap untuknya. Apalagi mengingat baby Shaka yang masih kecil, usianya baru lima bulan lebih. Dan lagi Ia masih memberinya ASI.
"Gimana ini?" Tanyanya pada diri sendiri. Air matanya jatuh begitu saja. Rasa takut akan tak bisa memberi ASI pada putranya menjadi faktor untuknya menumpahkan air matanya.
Ia keluar dari kamar mandi dan duduk disisi ranjang. Mengambil segelas air putih dan meminumnya. Ia pijit pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut. Ia menunduk melihat perutnya sendiri. Diusapnya perut ratanya itu lembut.
"Maafin Mama ya sayang! Bukan maksud Mama tak menginginkanmu, tapi gimana dengan Aka Shaka? Apa dia masih bisa mimi sama Mama?" Tanyanya sendu.
Ia juga bingung bagaimana membicarakan semuanya dengan sang suami. Ia baringkan tubuhnya diatas kasur king size itu, mencoba memejamkan matanya untuk menghilangkan sedikit rasa sakit dibagian pelipisnya.
Namun baru juga akan menutup mata Ibu datang membawa baby Shaka yang menginginkan mimi. Ayra pun bangun dan menerima baby nya.
Ibu kembali keluar, memberi kesempatan untuk keduanya berinteraksi.
Setelah kepergian Ibu, Ayra memberi mimi pada sang putranya. Ia pandangi wajah sang putra yang tengah tertidur. Ada rasa bersalah pada putranya itu. "Maafin Mama ya sayang!" Ia ciumi pipi gembul sang putra sebelum menidurkannya didalam baby box.
"Asslamualaikum!"
Seseorang memberi salam dan membuka pintu kamarnya. Hingga nampaklah sosok pria yang sudah meninggalkan bibitnya lagi dirahimnya.
Tanpa membalas salamnya Ayra berhambur memeluk sang suami. Tangisnya tak dapat Ia sembunyikan. Bang Ar terkejut dan langsung melerai pelukannya, menangkup kedua pipi sang istri dengan perasaan khawatir.
"Sayang ada apa?"
"Abang! Aku..aku!" Ayra kembali menangis membuat bang Ar semakin bingung.
"Kamu kenapa? katakan ada apa?" Tanya bang Ar lagi.
"Aku hamil!"
"Kok bisa? Kan pake sikokom?"
"Bisalah kan tumpah!"
**************
__ADS_1
Ayo gaisss ramaikan komentarnya! Maaf hari ini hanya bisa up satu episodeš
Abis ikutan sholat tasbih dulu aku tuh! Nyambut Ramadhan yaaš**