
Kini pasangan pengantin baru itu tengah makan siang didalam kamar, duduk di sofa dengan tv menyala didedapanya.
Setelah melaksankan dua rakaat kewajibannya, keduanya benar-benar istirahat. Keduanya tidur sampai matahari berada ditengah garis khatulistiwa.
Saking cape dan ngantuknya, keduanya melupakan sarapannya. Sampai saat sekarang keduanya makan, sang istri begitu lahap memakan makanannya.
"Pelan-pelan yang, abang gak bakalan minta kok!" Bang Ar mengingatkan istrinya yang memasukan berbagai macam makanan kemulutnya, sampe mengembung penuh.
"Awu wapaw baw!"
Bang Ar tertawa melihat tingkah sang istri yang tengah kalap. "Udah makan aja, jangan ngomong dulu tar keslek!"
"hapi abaw-"
Uhuk..uhukk!!
"Tuh kan baru juga dibilangin jangan ngomong dulu!" Omel bang Ar menepuk-nepuk pundak sang istri dan segera memberinya gelas berisi air putih didekatnya.
Ayra meneguk air minum yang disodorkan sang suami. "Hah! Abang sih ngajak ngomong terus." Omelnya.
"Abang kan ngingetin kamu, sayang!" Bang Ar sampai mencubit hidung sang istri gemas.
"Aduh bang sakit! Lama-lama kek pinockio ini." Ayra mengelus idungnya yang memerah.
Bang Ar tergelak dan mengusek pucuk kepala sang istri gemas.
"Kamu tuh gemesin banget. Jadi pengen makan deh!" Bang Ar sampai menggigit pipinya pelan.
"Ihh.. Abang ini KDRT, akunya disakiti mulu." Bang ar semakin tergelak seraya membawa istri kesayangnya kedekepan.
"Abang kan KDRT nya bikin enak, gak nyakitin." Timpal bang Ar melerai pelukannya.
"Paan? Nih idung sama pipi aku sakit, bahkan yang ini juga sakit!" Timpal Ayra menunjuk ke bagian bawah.
"Tapi enak kan?" Goda bang Ar dan sukses membuatnya kena geplakan kencang dilengannya.
"Ini siapa coba yang KDRT, perasaan dari tadi subuh abang deh yang sering kena timpuk?"
__ADS_1
"Lagian abang tuh ngeselin banget. Udah ah, ngajak ngobrol mulu. Aku laper ini mau makan lagi." Omelnya seraya akan meraih sendok dipiring namun dengan segera disambar sang suami. Dan menyendokkan nasi dan kawannya.
"Aaa!" Bang Ar menyodorkannya ke depan mulut istrinya.
Ayra menerima suapannya. "Abang juga makan dong!" Titahnya setelah menelan kunyahannya.
"Kamu aja dulu nih! Aaaa!" Bang Ar kembali menyuapi sang istri dan disambut lagi.
"Udah bang kenyang. Sini gantian biar abang aku suapin!" Ayra meraih piring ditangan suaminya. Dan mulai menyendokan makanannya.
"Aaaa!" Dengan senang hati bang Ar menerima suapan itu.
Saat tengah sibuk suap-suapan suara notif pesan masuk mengalihkan perhatian keduanya. Bang Ar meraih Hp nya mengechek siapa yang mengganggu mereka. Pesan dari sang Ibu yang masuk.
Ibuš¤
Ar langsung pulang ya. Jangan nginep lagi! Anterin ke rumah sakit, asam urat Ayah kambuh lagi.
**
Bang Ar menghela nafasnya pasrah, padahal Ia masih ingin menginap, menghabiskan malam lagi bersama sang istri disana.
"Kenapa?" Tanya Ayra heran.
"Ibu nyuruh abang nganterin Ayah kerumah sakit." Ayra berhenti menyendok makanan dan mendongak shok.
"Ayah kenapa? Ayah sakit?" Tanya Ayra panik.
"Biasa asam uratnya kambuh." Timpal bang Ar.
"Ya udah ayo kita pulang sekarang!" Ayra segera menyimpan piring ke meja dari pangkuannya. Dan berdiri, Namun bang Ar mencekal tangannya.
"Mau kemana?" Tanya bang Ar.
"Pulang lah bang. Katanya Ayah sakit? Abang harus cepet bawa Ayah kerumah sakit." Timpalnya.
Bang Ar tersenyum, ternyata istrinya ini begitu perhatian pada orang tuanya. Cita-citanya untuk mendapatkan istri yang menyayangi dan perhatian pada dua orang terpenting didalam hidupnya itu terlaksana.
__ADS_1
Seorang gadis yang sekarang sudah tak gadis lagi karena ulahnya, begitu cantik. Bukan parasnya saja, namun hatinya juga. Dan dia menjadi pria beruntung yang memilikinya.
Bang Ar ikut berdiri mendekap sang istri dengan senyum bangga kepada sang istri. "Makasih sayang! Kamu wanita terhebat bagiku, dan aku pria beruntung memiliki sosok sempurna sepertimu."
Ayra membalas pelukan suaminya tak kalah erat dengan senyum bahagia menghiasi wajah cantiknya. Hatinya begitu menghangat mendengar penuturan sang imam hidupnya.
**
"Assalamualaikum!" Sapa keduanya, saat masuk kedalam rumah sang Ibu.
"Waalaikumsalam!" Timpal Ibu. Keduanya menyalimi takzim punggung tangan Ibu bergantian.
"Ayah mana bu?" Tanya bang Ar.
"Ayah lagi dikamar. Mau berangkat sekarang?" Tanya Ibu.
"Iya bu. Sekarang aja, keburu sore juga." Timpal bang Ar dan diiyakan oleh Ibu.
Ibu memasuki kamarnya diikuti bang Ar dan Ayra. "Yah?" Sapa bang Ar menyalami Ayah takzim diikuti sang istri.
"Kalian kok pulang. Bukannya nginep lagi?" Tanya Ayah yang tengah berbaring bersandar di kepala ranjang.
"Kan mau anter Ayah ke rumah sakit." Timpal bang Ar.
"Ayah gak apa-apa kok. Palingan besok juga sembuh lagi." Timpal Ayah.
"Ayah harus diperiksa biar cepet sembuh. Kerumah sakit ya yah, biar bang Ar antar!" Pinta Ayra.
Hal itu sukses membuat ketiga orang disana tersenyum. Meski ini pertama untuk gadis yang sudah tak perawan ini mengobrol bareng sekeluarga, namun Ia tak sungkan lagi untuk bicara.
"Denger tuh yah. Mantu Ayah! Kalo Ayah gak mau kerumah sakit mana bisa cepet sembuh. Tar gak bisa gendong cucu lagi." Tutur Ibu pada lelaki paruh baya, yang usianya sudah memasuki setengah abad itu.
Ayra tersipu. Siapkah dirinya mendapatkan momongan? Menjadi seorang ibu?
"Iya deh. Ayah mau kerumah sakit. Ayah juga mau cepet gendong cucu." Timpal Ayah.
"Iya. Ayah sama Ibu doain yang terbaik aja buat kita. Kita juga gak ada rencana melakukan program apapun. Biar Tuhan yang berkehendak." Ucap bang Ar merangkul bahu sang istri.
__ADS_1
Kedua orang tuanya ikut bahagia melihat cinta dan kebahagiaan dari keduanya. "Smoga kebahagiaan selalu mengiringi kalian!" Doanya.
*************