
Kuda besi yang ditumpamgi sepasang anak manusia itu sampai didepan rumah. Setelah menolak ajakan kakak idolanya, Sena pulang bersama cowok yang dengan tegas tak ingin Ia jauhi. Keduanya turun dan melepas helmnya.
"Apa ada masalah?" Tanya Abi seraya menahan lengan sang gadis yang hendak berlenggang pergi.
Selama perjalanan mendadak suasana menjadi hening. Abi tak mendengar satu patah pun kata dari gadis cerewet yang selalu menggetarkan hatinya itu. Lidahnya sudah gatal ingin bertanya sedari tadi. Hingga sekaranglah waktu yang tepat untuknya bertanya.
"Hmm nggak!" Elak Sena dengan wajah yang tak dapat dibohongi.
Abi tersenyum tipis melihat itu. "Kalau mau mengelak, wajahnya dikondisikan!" Celetuknya.
Dan hal itu sukses membuat Sena berdecak kesal. Ia menarik lengannya dan berlenggang menuju gazebo samping. Abi menghembuskan napasnya panjang seraya mengikutinya dari belakang.
"Mau cerita?" Tanya Abi seraya mendudukan diri disamping sang gadis yang sudah lebih dulu duduk.
"Gue lagi kesel aja sama Aka." Tutur Sena mulai mengeluarkan kata-kata, setelah sejak tadi hanya terdiam.
"Karena gue?" Tanya Abi dan sukses membuat Sena menoleh.
"Iya kan?" Tanyanya lagi yang ikut menoleh.
"Cih! Pede banget." Balas Sena seraya tersenyum, setelah baru menyadari cowok disampingnya tersenyum tipis padanya.
"Terus?" Tanya Abi memastikan.
"Isshh.. Udah lah! Lu itu kepo banget jadi cowok." Ucap Sena dengan ledekannya.
Abi menarik satu sudut bibirnya menanggapi itu. "Semenjak gue pergi. Masih banyak yang suka bully?" Tanyanya.
"Menurut lu, cewek secantik gue bakal lepas dari bullyan?" Tanya Sena diringi decakan kesal. Abi terkekeh mendengar itu dan mendaratkan tangannya dikepala sang gadis seraya menguseknya gemas.
"Untung aja ada yang selalu jagain gue-"
"Kak Aska." Selak Abi dan dijawab anggukan serta senyum oleh sang gadis.
"Sebenarnya bukan lebih ke bully sih. Gue udah gak takut lagi, ngadepin para nenek sihir kek gitu. Cuma lebih ke menjaga dari mata jelalatan kaum buaya aja." Kekeh Sena.
"Dan gue yang akan menggantikan itu." Ucap Abi, hingga keduanya menoleh serentak dengan tatapan saling menyapa. Ia mendekatkan wajahnya pada sang gadis, hingga reflek membuatnya sedikit mundur.
"Because you're mine!"
__ADS_1
Ucapnya lembut, namun penuh penekanan dengan menarik satu sudut bibirnya. Lalu berlenggang pergi meninggalkan Sena yang masih terpaku disana.
'Tatapan itu?' Batinnya, seraya menahan debaran dibagian dadanya yang kian bergemuruh. Sena menarik dan membuang nafasnya berulang kali untuk menetralkan perasaannya yang kian tak menentu jika berada didekat sepupunya itu.
Abi memutuskan pergi setelah melihat seorang wanita tengah memperhatikan keduanya. Tak ingin ada masalah, Ia lebih baik menghindar terlebih dahulu, sebelum Ia kebablasan dan kembali menyerang sang gadis seperti kemarin malam. Berada diposisi seperti itu, tentu dengan mudah menggoyahkan imannya.
**
Sementara itu, Mama Ay yang melihat keduanya dari pintu belakang merasa aneh dengan tingkah keduanya. Bukan sekali Ia meliaht interaksi keduanya yang terasa janggal. Hingga Ia tak melepaskan atensinya, dan terus mengikuti gerak gerik keduanya. Ia sampai menutup mulutnya dan ingin protes kala wajah keduanya mendekat. Namun baru saja Ia akan melangkah, Abi sudah pergi terlebih dahulu. Hingga Ia pun mengurungkan niatnya. Jarak yang jauh tentu tak membuat Ia tau apa yang tengah dibicarakan.
"Sebenarnya ada apa antara mereka? Kenapa terlihat aneh dimataku?" Gumamnya.
Ditengah kebingungannya bisikan seseorang dengan lengan yang bertengger diperutnya sukses menyadarkannya. "Ada apa? Hem?" Tanyanya.
Mama Ay sedikit terlonjak, namun sedetik kemudian Ia pun tersenyum. Mengetahui hanya satu orang yang akan berbuat seperti itu padanya. Sudah diyakini itu adalah suaminya.
"Kapan abang pulang?" Tanya Mama Ay.
"Tahun kemarin." Canda Papa Ar.
"Issshh abang ini." Protes Mama Ay seraya mengeplak tangannya dan sukses membuat suaminya tertawa.
"Itu bang putri kita." Balas Mama Ay menunjuk sang putri yang tengah duduk sendiri dan masih berada ditempat yang sama.
"Sensen?" Tanya Papa Ar heran.
"Ya iya bang, Sensen. Emang abang punya lagi putri lain selain dia?" Tanya Mama Ay sedikit menyelidik.
Papa Ar tersenyum menanggapi itu."Kamu tu ya!" Ucapnya seraya menarik hidungnya manja dan membuat sang istri berdecak kesal. "Bukan gitu maksud abang, sayang!" Lanjutnya seraya menyambar bibir sang istri dari samping dan mengecupnya singkat.
"Lagian mana ada abang punya putri lain? Bibit super abang kan cuma tumbuh dirahim kamu. Terus lagi gak pernah nyapa nona yang lain, selain nona manis ini." Tuturnya dengan akhiran tangannya yang hendak bergeliyara kebawah.
Namun tangannya segera ditahan sang istri. "Isshh abang paan sii! Jangan macem-macem deh, ntar dilihat anak-anak!" Protesnya menahan tangan suaminya yang sudah bermanja dibagian perutnya.
"Gak macem-macem kok! Cuma satu macam." Kekeh Papa Ar.
"Abang ihhh!!!" Rengeknya hingga Papa Ar pun tergelak.
Diusia pernikahannya yang hendak mencapai dua puluh tahun, tak membuat pasangan ini berubah sama sekali. Masih tetap bucin, tak kenal tempat maupun waktu.
__ADS_1
"Jadi kenapa sama Sensen?" Tanya Papa Ar setelah menghentikan tawanya. Dan beralih menghadapkan tububnya dengan sang istri.
"Entahlah bang. Aku lihat dia sama Abi, kok kek aneh gitu ya?" Balas Mama ay dengan terus berfikir keras.
"Aneh kenapa?" Tanya Papa Ar yang ikut keheranan.
"Ya aneh. Kek ada sesuatu diantara mereka." Balasnya lagi.
"Cinta?" Tanya Papa Ar yang terlalu peka dengan pemikiran sang istri dan dijawab gedikan bahu olehnya.
Papa Ar menangkup kedua pipi sang istri dan mendongakannya agar mengarah padanya. "Jangan terlalu khawatir! Jangan terlalu ikut campur! Masih terlalu dini untuk menentukan pilihan. Mungkin hari ini begini, besok bisa jadi begitu. Masih terlalu labil untuk mereka. Jadi jangan terlalu dipikirin." Lanjutnya.
"Tapi kan mereka?" Tanya Mama Ay tak meneruskan ucapannya.
Papa Ar tersenyum seraya mengusek pucuk kepala sang istri. "Sepupuan?" Kekehnya.
"Biarkan mereka menikamti masa remajanya! Lagi pula masih awam menyebut itu cinta diantara mereka. Bisa jadi itu hanya sekedar kagum, karena baru pertama ketemu lagi?" Ucap Papa Ar dan di angguki sang istri dengan helaan nafas panjang.
Papa Ar mendekap tubuh sang istri, tau apa yang dikhawatirkan istrinya. Ia pun merasakan hal yang sama. Namun Ia mencoba bersikap tenang agar tak membuat sang istri semakin khawatir. Ia menghembuskn nafasnya panjang seraya menatap sang putri yang masih stay ditempatnya.
'Apa kita bakal besanan?' Batinnya terkekeh, mengingat seseorang yang selalu mengajaknya beradu mulut.
**
Sebuah kuda besi melesat membelah jalan raya dengan kecepatan diatas rata-rata. Perasaan yang tak menentu membuatnya tak bisa mengendalikan tangannya sendiri. Hingga Ia harus menekan remnya kuat kala seseorang yang hendak melintas menghadang jalannya.
"Aaaa!!!"
Brukkk!!
Prangg!!!
****************
Yuk tebak-tebakan siapa tuh??🤭 Jangan lupa ramaikan kolom komentarnya yaa!! Mau pindah dulu ke si om😂
__ADS_1
Papa Ar sama Mama Ay, pasangan bucin yang menolak tua😂