Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 13


__ADS_3

Disebuah kursi santai dihalaman samping. Seorang pemuda tengah merebahkan dirinya dengan menumpu kedua tangannya menjadi bantal.


Matanya terpejam dengan headset yang menggantung ditelinganya.


Lagu Judika berjudul "Putus atau terus" melantun, mewakili perasaannya.


*Aku sedang bertanya-tanya


tentang perasaan kita


Benarkah kita saling mencinta


Atau hanya pernah saling cinta


Bukankah kamu juga merasa


Dingin mulai menjalari percakapan kita


Pertanyaan kamu sedang apa?


Terkesan hanya sebuah formalitas saja


Coba tanyakan lagi pada hatimu


Apakah sebaiknya kita putus atau terus


Kita sedang mempertahankan hubungan


Atau hanya sekedar menunda perpisahan*.


Angin yang berhembus menusuk pori-pori sampe tulang sama sekali tak membuatnya bergerak.


Raganya disana namun jiwanya entah kemana.


Hingga Ibu yang melihatnya, mengira putranya ini tengah tertidur.


"Ar bangun. Udah mau maghrib!" titahnya dengan mengguncangkan bahunya pelan.


Bang Ar membuka matanya dan segera bangkit.


"Kenapa bu?" tanyanya pada sang Ibu


"Udah mau maghrib tuh. Yuk masuk!" ajaknya lagi pada putranya itu.


Bang Arpun bangkit dan menyusul Ibunya yang sudah lebih dulu masuk.


Setelah melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim. Bang Ar kembali merebahkan dirinya diatas ranjang.

__ADS_1


Ia meraih Hpnya diatas nakas, melihat laman WA. Beberapa pesan yang Ia kirimkan tak ada satupun yang dibaca kekasihnya.


"Sepertinya aku harus menyerah."


Ia kembali menyimpan Hp nya. Memandangi langit-langit kamar, mengingat kembali kenangan bersama sang kekasih.


Selintas Ia berfikir, apakah Ia pernah melakukan kesalahan? Seingatnya Ia tidak pernah melakukan kesalahan apalagi mengecewakan.


Bang Ar tipe lelaki yang bertanggung jawab, perhatian dan setia. Kemanapun kekasihnya mengajaknya pergi Ia selalu siap.


Meski tengah sibuk sekalipun, Ia tak pernah mengeluh. Perhatiannya selalu tertuju padanya.


Bahkan hal-hal kecil seperti mengirim sebuah pesan sekedar mengingatkan untuk tidak lupa makan, slalu Ia berikan.


Dulu kekasihnya itu sangatlah posesif bahkan perhatiannya jauh lebih besar dibanding dirinya.


Tapi sekarang, semuanya sudah terasa berbeda. Hambar. Tidak adanya sikaf posesif sang kekasih merasa ada yang mengganjal dihatinya.


Sekarang lebih terkesan masa bodo, komunikasipun hanya seperlunya saja.


Entah apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka. Haruskan dirinya diam menganggap semuanya baik-baik saja.


atau entahla.....


Hingga akhirnya Ia tertidur dan melupakan makan malamnya.


Pagi ini Ayra sudah siap untuk bekerja. Seperti biasa Ia tengah menunggu kang ojeknya di depan pagar rumahnya.


Tiba-tiba sebuah mobil berhenti didepannya. Seseorang dari dalam mobil membuka kacanya.


"Pagi Ay...!" sapanya dengan lengkungan senyum yang manis


"Pagi Bang..!" timpalnya dengan memaksakan senyumnya seperti biasa.


"Kamu mau berangkat kerja ya?" tanyanya basa basi.


"Hemm.Iya bang." timpal Ayra sekenanya.


"Naik yuk. Abang anterin!" ajaknya lagi.


"Gak usah bang aku juga lagi nunggu Feby. Lagian kantor bang Rendi sama pabrik aku gak searah." tolaknya halus.


"Gak papa, abang sengaja kok jemput kamu. Mau anterin kamu dulu, nanti baru deh abang berangakat kekantor." Jawab bang Rendi semangat.


Sebelum kembali bersuara tiba-tiba datanglah motor matic menghampirinya.


"Buruan naik, kita dah mau telat ini." titah si kang ojek pada Ayra.

__ADS_1


"Maaf bang aku berangkat dulu!" pamitnya pada Rendi yang kembali dibuat kecewa.


Ayra buru-buru naik, memakai helm sembari motor melesat meninggalkan mobil dengan pemiliknya.


Bahkan sahutan dari Rendi sama sekali tak Ia hiraukan.


"Sial!" Rendi mengumpat memukul setir kemudinya.


Karena sudag beberapa kali Ia selalu gagal untuk mendekati Ayra.


"Kenapa kamu selalu ngehindar sih Ay? Gimana caranya supaya aku bisa dapatin hati kamu?"


a mengusap wajahnya kasar. Merasa frustasi, selalu saja tak pernah ditanggapi oleh sang pujaan hatinya itu.


"Untung lu cepet datang." ucap Ayra setelah mereka sampe diparkiran.


"Ya sorry. Gue bener-bener kesiangan!" timpal Feby seraya melepas helm nya.


"Habis ngapain lu ampe bisa kesiangan?" tanyanua lagi seraya merapihkan rambutnya yang berantakan karena helm.


"Tadi malam gue abis nonton live cogan hotzz!" jawab Feby menggebu.


Ayra yang mendengar penuturan sahabatnya itu mengerenyitkan dahinya tak mengerti.


"Nonton live BTS?" tanyanya


"Beuhh... BTS mah lewat!"


"Lah terus apa dong?"


"Gue abis nonton bang Ivan lari di treadmil malam-malam. Liat dia keringatan..Eugghhhh bikin otak gue traveling tau gak?" tuturnya dengan semangat dan senyum-senyum yang entahlah.


Mungkin otaknya lagi melanglang buana membayangkan yang iya-iya bersama sang pujaan hatinya.


"Buseett ini bocah. Otak lu perlu di laundry itu." Ayra menoyor kepala sahabatnya.


"Lah kan lu nanya kenapa gue gak bisa tidur. Ya emang gue gak bisa tidur setelah nonton bebeb ku." jawabnya lagi sambil terus cekikikkan.


"Yasallaaammm... serah lu dah." Ayra berlenggang pergi meninggalkan sahabatnya.


"Woy...tungguin gue!" Feby pun berlari mengejar Ayra.


Bang Ar yang sedang berjalan keluar loby dibuat berhenti kala melihat sebuah mobil berhenti didepan perusahaan.


Ia yang mengenali mobil itu milik siapa berhenti sejenak dan setelah tau siapa yang keluar, Ia memilih untuk bersembunyi di balik pot tanaman besar.


Rara sang kekasih dan Kevin keluar dari mobil itu. Mereka tampak tertawa bahagia, dan berlenggang masuk kedalam gedung itu tanpa menyadari keberadaannya.

__ADS_1


"Bolehkaha ku curiga?" Gumamnya.


****************


__ADS_2