
Pagi begitu cerah. Secerah hati seorang gadis yang tengah memoles wajahnya didepan meja rias. Dengan seragam yang sudah menempel sempurna ditubuhnya, kini Ia siap berangkat sekolah setelah polesan terakhir dibibir ranumnya.
Entah apa yang membuat sang gadis begitu ceria, bahkan senyuman manis tak luntur dari bibirnya. Hingga Ia membuka pintu kamarnya hendak keluar dan mendapati pemuda yang juga keluar dari kamarnya.
Senyumnya pun surut seketika. Tiba-tiba bayangan tadi malam terlintas dibenaknya. Seperti masih terasa, benda kenyal nan manis itu menempel dibibirnya. Hingga hawa tiba-tiba terasa canggung dari keduanya. Sena mengalihkan perhatiannya kearah lain untuk menghindari tatapan dari pemuda didepannya dan menyembunyikan rona dipipinya.
"Pagi!" Sapa Abi membuat Sena gelagapan.
"Mmm Pa-pagi." Balasnya dengan sedikit gugup.
Senyum terukir dari bibir pemuda didepannya hingga Sena dibuat terpaku karenanya. Sungguh ini sejarah baru yag harus diabadikan. Namun sayang tangannya tak dapat Ia gerakan untuk mencari benda yang dapat menangkap monen itu. Justru genggaman lah yang Ia dapat hingga sukses membuatnya terkesiap dari lamunannya.
"Kalo terus kek gini, kita akan terlambat." Ucap Abi, seraya menggandengnya dan berlenggang dari tempat itu.
Sena hanya menatap genggaman itu dan tersenyum. Kemudian, mengkuti pergerakan pemuda didepannya dan berlalu.
Kini seluruh penghuni rumah sudah berkumpul dimeja makan. Aska benar-benar tak menjemput adik kesayangannya itu. Hingga sang papa pun mulai berkomentar sebelum mereka memulai sarapannya. "Aka gak jemput?" Tanyanya.
"Nggak! Dia harus antar Kia juga. Jadi aku mutusin buat betangkat bareng Abi." Balas Sena dan dijawab anggukan sang Papa.
"Emang belom selesai bang tugas disana?" Tanya Mama Ay yang mulai menyiapkan piring untuk suami dan anak-anaknya.
"Belum. Mungkin besok!" Balas Papa Ar. "Kenapa? Jadi susah ya, gak ada yang antar jemput Kia?" Tanyanya.
"Bukan!" Balas Mama Ay. "Kalo itu kan ada aka yang bisa antar jemput.." Lanjutnya.
"Lah terus?" Tanya Papa Ar heran.
"Kasihan aku sama si timom. Sampai sakit-sakitan merindukan si abang. Efek terlalu bucin itu." Celetukan Mama Ay sukses membuat Sena yang mulai menyuapkan makanannya tersedak.
Uhuk! Uhukk!
Abi yang berada disisinya reflek memberinya tissue dan air dengan telaten. Kedua orang tua itu sampai melongo merasa tak percaya melihat perlakuan ponakannya itu. Seorang Abi yang terlihat dingin, begitu perhatian pada sepupunya sendiri. Tentu hal itu membuat senyum mereka mengembang. Tanpa tau apa yang terjadi diantara mereka.
Sena hanya terdiam mendapat perlaluan manis dari pemuda disampingnya. Wajahnya kian terbakar mendapati itu. Hingga Ia raih tangan yang tengah bertengger didepan bibirnya seraya menghentikannya. "Biar gue aja!"
Abi menarik satu sudut bibirnya, seraya menghentikan pergerakannya dan kembali untuk menikmati makananya.
Sena merutuki dirinya sendiri didalam hati. Kenapa Ia sampai teringat waktu dimana Ia pernah sakit karena ditinggal sepupunya itu. 'Apa gue sebucin itu sama dia?' Batinnya seraya melirik pada si pelaku yang sukses membuatnya pernah terbaring lemah itu.
**
Acara sarapan pun selesai. Kini ketiga remaja itu sudah siap diatas kuda besinya dengan Sena sudah stay dibelakang Abi.
__ADS_1
"Pegangan ntar jatuh!" Titah Abi.
Dengan ragu Sena hendak memegang jaket yang dipakai Abi. Namun dengan segera Abi menariknya hinga kedepan perutnya.
Deg!
Lagi-lagi jantungnya dibuat tak karuan, kala tubuh keduanya menempel. 'Kalo gini terus lama-lama gue jantungan.' batinnya menggerutu. Namun tak ayal. Demi keselamatan Ia pun memeluknya juga.
Abi tersenyum dibalik helmnya, seraua menjalankan jufa besinya hingga melesat mneinggalkan halaman rumah. 'Gue gak akan pernah lepasin ini. Gue janji itu Sen!' Batinnya seraya mengusap lembut punggung tangan yang bertenggrr diperutnya.
**
Sementara itu Shaka sudah memarkirkan kuda besinya. Bukan parkiran sekolah yang Ia pijaki, namun parkiran rumah seseorang. Ia membuka helmnya seraya turun dari motornya. Lalu Ia berjalan kedepan sebuah pintu bercat putih dan mengetuknya.
Tok! Tok!
"Assalamualikum!"
Tak berselang lama, pintupun terbuka. Hingga nampak ibu muda yang membalas salamnya dan mengembangkan senyum padanya.
"Sahaka!" Sapanya.
"Pagi Onty!" Sapanya seraya menyalimi takzim tangan wanita itu. "Jinjinnya ada?" Tanyanya.
"Sama siapa?" Tanyanya heran.
"Tadi ada yang jemput, onty kira itu kamu. Pas malam bilangnya gak mau diantar, soalnya mau dijemput sama kamu." Balas Mama Agel membuat Shaka berpikir sejenak.
"Ya udah onty. Aku berangkat dulu, siapa tau ketemu Jinjin dijalan!" Pamitnya membuat Mama Agel terkekeh. Dikira kang cendol bakal ketemu dijalan. Pikirnya.
Setelah kembali meyalimi takzim dan dapat pesan titi DJ dari wanita yang sudah Ia klam bakal jadi calon mertuanya itu. Shaka kembali meblnjalankan juda besinya. Kini tujuannya hanya sekolah.
"Cih! Berani banget dia main jemput cewek gue. Kudu gue kasih pelajaran." Gerutunya dengan wajah tak bersahabat. Hingga Ia menancap gas nya tak kira-kira.
Ditengah amarahnya yang meluap, Ia melupakan keselamatannya. Tujuannya ingin segera kesekolah dan menemui keksih gadungannya. Ia sampai tak menghiraukan pengendara lain yang meneriakinya, bahkan menyumpahinya.
Ckitttt!!!
Decitan ban terdengar memekik bergesekan dengan aspal hitam. Menandakan pengereman mendadak yang tak terduga.
"Brengsek!" Umpatnya.
Shaka turun dari kuda besinya kala melihat seorang pemuda tengah bersama kekasih bohongannya itu ditepi jalan. Atensinya tertuju pada genggaman tangan yang membuat Ia seketika meradang.
__ADS_1
Ia berjalan tergesa, setelah menyimpan helmnya untuk menghampiri keduanya. Bahkan Shaka melupakan rambutnya yang acak-acakan. Namun hal itu justru menambah ketampansnnya berkali-kali lipat. Tanpa aba-aba Ia menghadiahi pemuda itu dengan bogeman mentah yang mengenai wajahnya.
Bugh!
Tonjokan itu tepat mengenai sudut bibirnya. Hingga membuat si pemuda tersungkur ke depan tubuh mobilnya.
"Berengsek lu! Berani banget lu pegang-pegang cewek gue?" Umpatnya dengan amarah yang meluap-luap.
"Cari mati, hah?" Shaka hendak melayangkan kepalan tangannya lagi, namun lengannya ditarik gadis disampingnya.
"Udah lah, gak penting. Ayo kita pergi!" Ajaknya.
"Kamu belain dia?" Sungut Shaka tak terima.
"Ngapain? Aku cuma gak mau kita sampai masuk trending viral hari ini." Jelas Jingga. "Tuh!" Ia menunjuk seseorang yang tengah merekam kejadian itu dengan dagunya.
"Ck! Kurang asem." Shaka berdecak kesal seraya menghampiri seorang pemuda yang tengah memegang layar pipih ditangannya.
"Lu cari mati? Hapus gak?" Tantang Shaka dengan wajah kian menakutkan.
"Ng-nggak! I-iya!" Balasnya dengan gemetaran tak jelas.
Shaka berdecak kesal seraya merampas benda itu dari tangan pemiliknya. Ia otak atik layar itu. Mengklik satu tombol yang entah apa. Dengan seringai diwajahnya, Ia kembalikan benda itu pada si empunya.
"Ingat baik-baik! Jangan pernah cari masalah sama gue!" Peringatnya dab hanya dijawab anggukan cepat oleh sipemuda.
Shaka kembali mendekati sang gadis dan menggenggam tangannya. "Kita pergi!" Ucapnya seraya berlenggang menggandeng gadisnya itu.
Namun Ia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap si pemuda yang masih duduk didepan mobilnya yang tengah mengusap bibirnya yang berdarah.
"Permainan lu murahan! Gak segampang itu buat jatuhin gue. Jika emang lu lakik, gue tunggu lu dilapangan basket!" Ucapnya menyeringai.
***************
Maaf baru up, kemarin sibuk sama dunia nyata mak othor nya🤣 Yuk jejaknya jangan lupa! Ramaikan ya!🤗
Dikasih yang bening biar, pada semangat bacanya🤭 Aka Sha yang bikin melehoy🤤
Pacar gadungannya yang bikin meradang🤣
__ADS_1