
Sebulan setelah kedatangan sang abang dan kedua sahabatnya, Sebulan juga mereka jadi sales dadakan. Benar saja tak ada toleran apapun dari kliennya. Membuat bang Ar berkerja keras terus mencoba pemasaran.
Dan hasilnya sungguh diluar dugaan. Bang Ar yang sempat merasa insecure dan putus asa, mendapat hasil yang begitu memuaskan. Tanpa Ia duga, produknya laku keras dalam sebulan ini. Bahkan banyak klien baru yang mengajaknya bekerja sama.
Semua itu tidak lepas dari dukungan istri tercintanya, dan juga para sahabatnya yang ikut andil dalam pemasaran, bahkan mereka rela menjadi sales dadakan untuk membantunya.
Rasa syukur begitu Ia ucapakan. Dan untuk merayakan keberhasilannya Ia dan sang istri akan mengadakan syukuran makan-makan bersama keluarga dan para sahabatnya di rumah perkebunan itu.
"Besok mereka jadi kesini kan bang?" Tanya Ayra.
"Iya. Abang udah chat anak-anak, orang tua kita juga. Dan sepakat buat datang besok." Timpal bang Ar.
"Alhamdulillah ya bang! Kita bisa lewati ini." Timpal Ayra memeluk sang suami.
Kini keduanya tengah duduk disofa depan tv, dengan bang Ar yang memangku laptopnya melihat setiap laporan yang masuk.
"Iya sayang. Makasih kamu selalu dukung abang! Tanpa kamu apalah artinya abang." Timpal bang Ar merangkul pula pundaknya dan mencium pucuk kepalanya.
"Uhhh sweet!" Ayra semakin mengeratkan pelukannya, dan menyembunyikan wajahnya didada sang suami.
Bang Ar memindahkan laptopnya keatas meja. dan beralih memegang kedua bahu istrinya. "Kamu tau, abang sempat khawatir! Abang takut hadapi semua ini. Dan yang paling abang takutkan, saat abang gagal dan kamu pergi ninggalin abang!" Tuturnya sendu.
Ayra meraih pipi suaminya mengelus rahangnya lembut. "Abang jangan khawatir! Jangan takut! Aku selalu ada buat abang. Hidup aku buat abang. Dan sampai kapanpun tak ada yang bisa ngerubah itu!" Balas Ayra tersenyum.
Bang Ar menarik sang istri kedalam dekapannya. Mengelus sayang rambut istrinya dan tak pernah bosan menciumi pucuk kepalanya.
Entah makhluk apa yang ada didalam dekapannya ini, yang jelas Ia begitu sempurna dimatanya.
"Makasih! Makasih sayang!"
Setelah lama saling mendekap, menyalurkan rasa yang begitu mendalam dari keduanya. Bang Ar melepaskan pelukannya. Menatap intens bidadari didepannya, begitu cantik. Bukan hanya wajahnya namun hatinya juga. Betapa beruntungnya Ia mendapatkan seseorang yang selalu berada disisinya. Bahkan Ia bersedia hidup dengannya, dalam keadaanya yang down.
"Abang tidak bisa membuat janji apapun. Namun sebisa mungkin, abang akan berusaha membahagiakan kamu!"
"Abang tau apa yang membuat aku bahagia?"
"Apa?"
"Abang!" Timpal Ayra dengan senyum dan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
"Abang Ardiansyah Pratama! Kamu adalah kebahagiaanku!"
Bang Ar kembali menarik gadisnya kedalam pelukannya, hatinya begitu menghangat, bulir air dari ujung matanya menandakan betapa bersyukurnya Ia memiliki sosok didepannya.
Ini kebahagiaan luar biasa yang dirasakan Ayra pula. Dulu terasa mustahil bisa memiliki seseorang didekapannya ini. Namun takdir begitu baik padanya, menghadirkan sosok yang diam-diam Ia kagumi. Sampai rasa itu terus tumbuh semakin dalam, sampai membuatnya tak pernah bisa berpaling. Dan rasa itu kian hari kian tumbuh. Semakin membuatnya takut kehilangannya.
Bang Ar melerai lagi pelukannya. merapihkan anak rambut yang menjuntai diwajah cantik istri tercintanya. Ia tangkup pipi yang kian hari kian chubby itu, diciumnya kening sang istri lama. Sampai Ayra menutup matanya.
Ciumannya turun ke kedua mata yang terpejam itu, turun ke kedua pipi bakpawnya, dan sampai di bibir ranum yang begitu manis. Menyesap rasa yang selalu membuatnya tak pernah mau merasakan rasa yang lain.
Menyusuri leher putihnya dengan lembut. Menyesapnya penuh perasaan. Tangannya bergerak pelan membuka kancing didepannya.
Membuat sang istri terbuai dengan kelembutan yang diberikan suaminya.
"Kita belom coba part ini?" Bisiknya ditelinga sang istri. Membuat Ayra semakin ingin melayang mendengar suara berat yang selalu menggetarkan hatinya itu.
"Apa?"
"Silaturahmi diatas sofa!" Timpalnya dengan suara semakin parau. Membuat Ayra semakin pasrah.
Suara decitan sofa menandakan betapa dahsyatnya permainan keduanya. Dengan keadaan kain yang sudah berhamburan dimana-mana. Kebiasaan mereka membuat sekitarnya bagai tersapu tsunami.
"Ya udah kita lanjut didalam yuk! Disini dingin. Takut kamu kenapa-kenapa lagi." Timpal bang Ar membujuk sang istri.
Bang Ar menggendongnya masuk kamar, tanpa melepaskan pagutan bibirnya. Bahkan tak memeperdulikan tubuh keduanya yang polos.
Ia tidurkan perlahan sang istri diatas kasur, baru saja Ia ingin menaiki sang istri. Ayra terlebih dahulu membalikkan badannya. Membuat bang Ar ikut telentang.
"Biar aku yang jadi leader!" Ucapnya menyeringai. Bang Ar menautkan sebelah alisnya dan tertawa kecil.
"Oke, abang pasrah! lets play baby!"
Bang Ar yang melihat sang istri begitu bersemangat, membiarkannya mengambil alih permainan. Ia benar-benar hanya pasrah membiarkan sang istri menari diatas tubuhnya.
Ia hanya memainkan dua bongkahan favorit yang kian membesar itu, meraupnya seperti seorang bayi yang mendapat sumber kehidupannya.
"Come on baby! Uhhh!!"
Ayra semakin lincah membuat bang Ar semakin tak bisa menahannya. Ia balikkan tubuh sang istri dan bergerak memacunya. Sampai suara erangan panjang memenuhi ruang kamar temaram itu. Keduanya benar-benar tumbang bersama.
__ADS_1
Bang Ar membiarkan bibit-bibit kesayangannya memasuki rahim dalam sang istri. Membiarkan nafas keduanya yang sudah senen kemis bersahutan. Dilapnya wajah sang istri yang banjir keringat itu dengan tangannya. Menciumi seluruh wajahnya dengan lembut.
Ia bangkit dari atas sang istri. Mengelus lembut perut ratanya, dan menciuminya berkali-kali.
"Kali ini kamu harus cepet tumbuh! Papa tunggu kamu sayang!"
Ayra sampai tertawa kecil mendengar celotehan suaminya. Dengan menggunakan suara dibuat kecil, Ayra menjawabnya. "Iya. Papa! Aku akan cepet tumbuh!"
Membuat keduanya tergelak. Bang Ar menjatuhkan dirinya disisi sang istri setelah menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
Bang Ar menyangga kepalanya menghadap sang istri. "Gimana? Sekarang udah siap kan?" Tanyanya.
"Apa?"
"Buat jadi ibu dari anak-anak kita."
Ayra tersenyum dan ikut menghadap sang suami. Ia belai lembut rahangnya. " Tentu. Sangat siap! Bahkan kalo perlu aku ingin memaksa kehendak-Nya buat segera menitipkan dia untuk kita." Tuturnya mengelus perut ratanya.
Bang Ar membawa sang istri kedalam dekapannya. "Makasih untuk segalanya!"
"Emmm..sayang abang mau tanya. Apa cita-cita kamu?" Tanya bang Ar.
"Emm..dulu pengen jadi guru." Timpal Ayra.
"Apa mau lanjut kuliah? Buat kejar cita-cita kamu?" Tanyanya lagi.
Ayra menggeleng. "Kenapa?" Tanya bang Ar.
"Cita-citaku udah berbeda sekarang."
"Apa?" Tanyanya lagi.
"Bukan untuk mengajari murid-murid, tapi untuk menhajari anak-anakku cara mengenal dunia." Balas Ayra hingga senyum terukir dari keduanya.
****************
Yuk mari ramaikan! Jangan lupa tinggalkan jejaknya! Kasih vote, like dan komennya. Yang mao tabur-tabur bunga boleh, Yang mao kasih kopi juga mangga😊
Makasih banyak buat kaleaann yang selalu dukung mak othor🙏 Sayang kaleaaannn😘
__ADS_1