Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 15


__ADS_3

Disebuah rumah makan nampak sepasang sejoli yang tengah menikmati makan siang.


Tak ada yang bersuara dari keduanya hanya terdengar denting sendok yang terdengar.


Hari ini bang Ar dan Rara memutuskan untuk bertemu ditempat dimana mereka selalu menghabiskan waktu makan siang bersama.


Mereka memutuskan menghabiskan dulu makanannya sebelum memulai perbincangannya. Karena berbicarapun butuh energi, apalagi kalo ampe berdebat ya!


"Ada yang ingin aku bicarakan." Bang Ar memulai obrolannya terlebih dahulu setelah mereka selesai menghabiskan makanannya.


"Aku juga." timpal Rara.


"Ya udah kamu duluan." Bang Ar mengalah. Ia tau selama ini kekasihnya itu selalu ingin diutamakan. Dan selama itu juga bang Ar pula yang selalu mengalah.


"Hemm...besok aku akan berangkat ke kota besar. Papa sudah mendaftarkanku dari minggu kemaren." Ujarnya dengan helaan nafas berat.


Bang Ar menarik dalam-dalam nafasnya. Ia sudah menduga hal ini pasti akan terjadi. Setelah tak sengaja mendengar Papa sang kekasih kemaren berbicara dengan seorang pria, Ia sudah memutuskan akan melepaskan kekasihnya ini.


Dengan senyuman tipis dan raut wajah yang menunjukan dia baik-baik saja, bang Ar mencoba melepaskan apa yang mengganjal dalam dihatinya.


"Pergilah...!" ucapnya dengan menggenggam tangan sang kekasih.


"Tapi Ar...kamu-" ucapan Rara langsung dipotong bang Ar.


"Aku gak papa." potongnya denga terus menyunggingkan senyumnya.


"Ar..aku tau ini berat, tapi ku mohon bertahanlah untukku!" pintanya sendu dengan menggenggam erat lengan mereka.


Bang Ar menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku Ra! Aku gak kan bisa bertahan sendiri. Aku gak ingin egois. Kamu pergilah! Kejar impianmu. Jadilah seseorang yang bermanfaat untuk orang lain. Jika kita memang berjodoh, Tuhan akan mempertemukan kita kembali." Tuturnya dengan begiitu bijak.

__ADS_1


Ia tidak ingin terlalu banyak berharap. Melepaskan mungkin jalan terbaik untuk keduanya.


Rara tak mampu lagi menahan tangisnya. Apakah Ia siap untuk kehilangan satu dari bagian terpenting dalam hidupnya?


Namun Ia memang harus memilih, karena tak mungkin juga Ia dapat mempertahankan keduanya.


Ditengah impian yang selama ini Ia perjuangan, harapan kedua orangtuanya juga menjadi pendorong Ia untuk memutuskan semuanya.


Rara berdiri dan langsung berhambur kedalam pelukan bang Ar. Dia menumpahkan semu rasa yang saat ini Ia rasakan.


Ada buliran air dari ujung mata bang Ar. Menandakan Ia pun merasakan sakit, namun ada rasa lega. Beban yang selama ini ada dalam hati dan pikirannya sudah tertumpahkan.


Sesuatu yang terus mengganjal dalam hatinya sirna sudah dengan iringan air mata keduanya.


"Maafkan aku Ar! Maafkan aku!" Permintaan maaf Rara disetiap isak tangisnya tak pernah berhenti.


Bang Ar hanya membalas pelukan Rara, dengan terus mengusap kepalanya. Tanpa berkata apapun membiarkan kekasihnya, lebih tepatnya mantan kekasihnya meluapkan semua tangis didalam dekapannya.


Rara masih sesenggukan dan masih belum bisa bicara.


"Sudah. Malu tuh diliatin orang-orang." ucapnya lagi dengan memerhatikan keadaan sekitarnya.


"Jadi kita putus nih?" tanya Rara masih dengan wajah sendunya. Meski sudah tak menangis tapi dapat dipastikan hatinya masih begitu sakit.


"Hemmm." Bang Ar hanya menyedikkan bahunya dengan menampilkan senyumnya.


" Huhh...tapi kita masih tetap bisa berteman kan Ar?" tanyanya lagi. Dengan helaan nafas pasrah.


"Tentu saja!" balas bang Ar.

__ADS_1


"Makasih ya Ar, selama ini kamu selalu ada buat aku. Aku gak tau apa aku masih bisa tanpa kamu setelah ini?"


Jujur dari sekian mantan yang pernah jadi pacarnya hanya bang Ar yang paling perhatian, dan selalu ada buatnya.


"Aku yakin, akan ada seseorang yang bisa jaga kamu lebih dari aku." balas bang Ar. Ia tau siapa orang yang tepat untuk mantan kekasihnya ini.


Mereka pun tersenyum, mencoba melupakan rasa sakit dari kata perpisahan. Tak ada rasa benci dalam hati mereka, mencoba saling menerima apa yang menjadi takdir mereka.


Flash back on


Bang Ar yang tengah berjalan dikoridor tak sengaja melihat kedua pria yang tengah mengobrol didepan lift. Ia berhenti dan mencoba mendengar percakapan keduanya dari balik tembok.


"Papa percaya sama kamu. Tolong jaga Rara selama disana ya Vin!" Ujarnya dengan menepuk bahu pemuda disampingnya.


"Iya Pa. Papa tenang aja Rara aman dalam jagaan aku. Akan aku pastikan Rara selalu bahagia denganku." balas Kevin, pemuda yang bersama Papanya Rara.


"Iya Papa percaya. Kamu memang calon suami yang baik." Ucapnya lagi dengan terus menyunggingkan senyumnya. Dan dijawab dengan anggukan Kevin dan senyumnya.


Bang Ar yang melihat itu terdiam, Ia serasa ditampar dengan sebuah kenyataan. Menyadarkan dirinya, jika Ia memang takan mungkin bisa menggapai sesuatu yang sudah dipastikan tak dapat Ia gapai.


Kevin adalah anak dari seorang Direktur dan sebentar lagi akan menjadi pengganti Ayahnya.


Bang Ar tau Ayah manapun hanya ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Mungkin ini juga yang dilakukan Papanya Rara.


Bang Ar mencoba mengerti dengan situasi ini. Mungkin Tuhan sedang mengatur jalan yang lebih indah untuk dirinya.


Flash back off


*************

__ADS_1


Hayooo ini mao nangis apa bahagia??


๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


__ADS_2