
Keempat remaja itu sudah memasuki sebuah kedai makanan kekinian. Tempat baru yang pertama mereka datangi. Pemandangan pertama yang terlihat dibagian depan adalah meja bar dan kasir. Deretan kursi berjejer dengan meja bundar dan empat kursi mengelilingi meja tersebut. Coretan didinding menghiasi membuat tempat itu terlihat instragamable, dipadu dengan rangkaian hiasan bunga dan ornamen kecil lainnya bergantungan disetiap dinding.
"Wihh tempatnya keren ya?" Rizki mulai berkomentar seraya mendaratkan bokongnya diatas kursi dengan mata yang berbinar menelisik tempat itu.
"Iya! Jadi kangen kafe Papa Ar yang di desa deh." Balas Jingga dengan ikut mendaratkan bokongnya dikursi sebelah Rizky.
Begitupun sepasang kekasih baru itu. Keduanya hanya duduk tanpa ikut berkomentar.
"Iya. Interiornya hampir sama. Cuma disana kita lebih bebas melihat alam yang nyegerin." Balas Rizki.
Kehadiran waiters menghentikan pembicaraan mereka sejenak. Merekapun memesan seblak yang mereka rencanakan dengan minuman dingin sebagai penyejuk dikala lidah mereka terbakar nanti.
"Jadi kalian lagi ngapain berdua aja didaerah asing ini?" Tanya Rizki yang kembali mengingat kejadian awal mereka bertemu ditempat tadi.
Jingga mengehembuskan napas pelan. Ia kira sang sahabat sudah melupakan hal tadi, ternyata jiwa kekepoannya masih meronta meminta penjelasan. Ia lirik kedua tersangka yang tengah disidang oleh Rizki. Terlihat Abi hanya santai dengan wajah datar seperti biasa. Berbeda dengan Sena yang terlihat gusar, terlihat dari kedua tangan yang tak mau diam dibawah sana.
"Lu sendiri sama Jinjin ngapain disini?" Tanya Sena setenang mungkin. Meski debaran dihatinya tak dapat Ia sembunyikan.
"Gue sama Jinjin mau beli buku, noh ditoko sebelah." Balas Rizki seraya menunjuk bangunan yang terlihat dari jendela kedai.
Posisi mereka yang dekat dengan jendela kaca besar membuat mereka dapat melihat keadaan diluar sana.
"Ya udah sama, kita juga mau kesana. Ya gak bi!" Sena menyenggol lengan Abi seraya memberi kode dan diangguki olehnya.
"Oh! Kenapa gak ngomong aja dari tadi. Berbelit-belit lu emang." Tutur Rizki sedikit protes.
__ADS_1
Sena hanya mencebikan bibir menanggapi hal itu. Sentuhan ditangan kiri membuat Sena sedikit terlonjak. Ia menoleh dan mendapati senyum kecil, sangat kecil hingga tak ada yang tau itu sebuah senyuman dari bibir sang kekasih.
Sena tersenyum sekilas kala merasakan sentuhan itu berubah menjadi elusan lembut dan genggaman dipunggung tangannya.
Tak berselang lama, pesanan mereka pun datang. Mereka mulai mencicipi rasa baru yang masuk dilidah mereka. Sebelumnya mereka tak pernah memasuki kedai seblak manapun selain kafe legend tempat mereka nongki. Terkecuali kantin sekolah, tempat kedua untuk mereka berburu seblak.
"Emm.. Seger bener! Gue kira cuma kafe legend yang punya resep gini?" Rizki mulai mengeluarkan pendapat.
"Iya. Lumayan nih enak." Balas Jingga seraya menyicipinya.
Sepasang kekasih itu belum berkomentar, mereka masih sibuk menukar posisi baso dan sayap dari mangkuk masing-masing. Hal yang tak akan berubah sampai kapanpun.
"Menurut lu gimana Sen?" Tanya Rizki.
Mendadak sahabat yang satu ini begitu banyak bertanya. Sena berdecak kesal, belum juga kuah merah nan pedas itu mneyentuh lidahnya. Sang sahabat sudah menyelak dengan pertanyaan.
Rizki hanya tersenyum dengan menampilkan deretan gigi putih nan bersih miliknya. Ia pun kembali menikmati itu tanpa ingin bertanya lagi. Karena sudah dipastikan jika Ia bertanya lagi, sendok berisikan kuah akan melayang dan mendarat diwajahnya.
"Alhmadulillah selesai." Rizki menyelasikan makannya terlebih dahulu. Sepertinya Ia begitu kelaparan sehingga dengan cepat seblak itu ditandaskan.
"Kek nya, kapan-kapan kita harus ajak kak Aska sama Shaka kesini deh." Ucap Rizki menyarankan. Tanpa diduga, penuturan itu membuat Jingga tersedak.
"Uhuk! Uhuk!"
Dengan sigap, Rizki menyodorkan tissue dan minuman didepannya. "Jeh elah, pelan-pelan dong! Jangan mau ngikutin cara gue!" Omel Rizki seraya mengelap bibir Jingga dengan tissue, namun segera Jingga ambil alih tissue tersebut dan mengelapnya sendiri.
__ADS_1
Jingga hanya diam tak menimpali. Mendengar nama sang kekasih disebut membuat Ia teringat sesuatu. Ia ambil layar pipih dalam saku celananya dan melihat laman chat WA disana, hingga lama mengotak atik benda tersebut. 'Sepertinya ujiannya belum selesai.' Batinnya.
"Woy! Denger gak sih. Gue ngomong." Teriak Rizki yang merasa tak ada yang menanggapi. Sedari tadi ketiga sahabtanya itu tak ada yang menimpalinya, seperti tengah sibuk sendiri.
"Kalian bertiga napa sih? Dari tadi gue dicuekin mulu perasaan." Protesnya lagi.
"Dah lah. Gue balik duluan. Males gue sama lu pada." Lanjutnya, lalu berlenggang pergi.
"Idih napa tuh anak? Perasan dia yang aneh." Sena ikut protes tak terima disalahkan.
"Kek nya dia lagi PMS." Balas Jingga terkekeh seraya berdiri.
"Lah, lu sendiri mau kemana?" Tanya Sena heran.
"Gue mau nyusul dulu tuh anak. Takut nyasar!" Balas Jingga seraya berlalu.
"Eh tunggu, ni makanan siapa yang bayar?" Teriak Sena.
"Gue anggap itu PJ, dari lu berdua." Teriak Jingga balik tanpa menoleh dan terus melangakahkan kaki keluar kedai.
Sena melongo seraya menatap kepergian sang sahabat. Hingga sendok masuk kedalam mulut yang sedikit terbuka itu, membuat Ia reflek menoleh dan tanpa Ia duga wajah sang kekasih sudah tepat didepannya.
Deg!
****************
__ADS_1
Jangan lupa jejaknya yaaš¤