Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 116


__ADS_3

Setelah berbagai macam persiapan, kini Feby sudah siap menjadi calon memepelai wanita. Dengan balutan kebaya putih, Feby yang selalu terkesan tomboy terlihat begitu cantik dan elegan. Ia ditemani dengan tiga bestienya dan juga Aysa, yang kebetulan ikut gabung disana tengah menunggu sang calon suami datang dikamarnya.


Semenjak pernikahannya, Aysa semakin dekat dengan Ayra. Keduanya sering menghabiskan waktu berdua mengurus dua baby, baby Shaka dan baby Aska. Ia juga sering ikut bergabung dengan bestie somplak. Bahkan Ia juga sudah mengetahui tentang kehamilan Feby.


"Akhirnya, lu nikah juga Feb? Gue kira ntar kalo gue dah punya baby tiga, lu baru mau nikah!" Ledek Rila membuat yang lainnya ketawa.


"Ck. lu mah, doa nya gitu. Seneng banget lihat gue menderita." Protes Feby cemberut membuat mereka semakin tergelak.


Ayra merangkul bestinya, si calon manten itu. "Gak lah. Kita selalu doain lu yang terbaik. Smoga lu selalu bahagia!"


Feby tersenyum. "Thanks ya, lu semua selalu ada buat gue!" Feby mendekap sahabatnya itu diikuti yang lainnya juga dengan senyum bahagia dari mereka.


Tiba-tiba Feby melepas rangkulannya, dan lari ke kamar mandi, membuat mereka terkejut.


Owekk! Owekk!


Mereka yang khawatir langsung menghampiri si calon manten. Ayra memijit tengkuknya, mencoba membantunya. Agel mengambil air putih diatas nakas dan memberikan padanya.


Semenjak diketahui hamil, setiap pagi drama morning sick dialami Feby. Untung saja kedua orang tuanya tak mencurigai hal itu. Ia selalu muntah pagi sekali sebelum ikut sarapan.


Ketika masih dikamar mandi, seseorang mengetuk pintu kamar membuat mereka terdiam sejenak, dan lima detik kemudian mereka ketar ketir tak karuan. Aysa dan Rila mencoba untuk membukakan pintu, sedangkan kedua sahabatnya lagi tengah membantu Feby dikamar mandi.


Aysa dan Rila begitu tegang melihat siapa yang datang. Kalau sampai Ibu yang masuk, sudah dipastikan akan banyak pertanyaan yang harus mereka hindari.


Ceklek


Pintu pun dibuka Rila pelan, nampaklah seorang gadis didepan pintu dengan cengir kudanya. Keduanya menghela nafas lega.


"Ngagetin aja lu Ci?!" Tutur Rila memegang dadanya yang seakan copot.


"Kak Rila kenapa? Segitunya lihat Cici? Aneh banget deh!" Timpal gadis SMA, yang ternyata adiknya Feby.


"Lu nakutin sih!" Ledek Rila. Seperti biasa kedua perempuan ini suka sekali saling ledek.


"Isshhh emang nya aku kakak apa? Mak kunti." Timpal Cici, dengan cekikikan.


Rila menoyor gadis didepannya. "Enak aja! Lu tuh udah kaya mak kunti. Cekikian kek gitu!"


Cici mengusap jidat yang kena toyoran Rila itu. "Ck. Kak Rila nih. Kepala Cici makin toyor aja! tiap taun difitrahin tau!" Omelnya membuat Rila tergelak.

__ADS_1


Aysa tersenyum melihat interaksi keduanya. 'Ternyata memiliki banyak teman itu menyenangkan!' Batinnya.


Ketika keduanya tengah bedebat, Ibu datang menghampiri mereka. "Ya ampun Cici, Ibu suruh kamu buat manggil kakakmu malah ngobrol disini." Omel Ibu membuat Aysa dan Rila gelagapan.


"Mana Feby nya?" Tanya Ibu yang hendak masuk, namun Aysa dan Rila segera menahannya untuk masuk, bahkan mendorong Cici dan Ibu keluar kamar.


"Bentar bu! Itu Feby nya lagi..lagi?" Blank! Otak kecil Rila seketika tak bisa berpikir. Ia tidak bisa mencari alasan yang tepat. Ia menyenggol lengan Aysa untuk memberi alasan. Namun karena Aysa tidak bisa banyak bicara Ia pun tak bisa menjawab.


"Kalian kenapa sih? Feby nya mana?" Tanya Ibu penasaran.


"Euu.. Itu! Feby itu!" Rila semakin bingung harus menjawab apa.


"Ya udah Ibu mau lihat dulu!" Ibu hendak nyelonong masuk, namun kembali dicegat Rila.


"Jangan bu!" Larang Rila membuat Ibu mengerenyitkan dahinya heran.


"Itu Feby lagi? Apa ya?" Rila terius berfikir. "Sa apa?" Tanyanya pada Aysa, Aysa tampak ragu untuk menjawab.


"Apa? Lagi apa?" Ibu semakin penasaran.


"Lagi pup!" Timpal Aysa membuat Rila manggut-manggut.


"Iya tuh pup bu! Pup!" Timpal Rila dengan senyum dipaksakan. "Gak ada alasan lain apa selain pup?" Gumam Rila ditelinga Aysa. Dan kembali mencoba tersenyum pada Ibu. Begitupun Aysa Ia hanya tersenyum menanggapinya. 'Dari pada gak dijawab!' pikirnya.


Ibu pun berlalu kembali, namun tidak dengan gadis SMA itu, Ia merasa ada yang aneh dengan partner cekcoknya ini.


"Emmm... Kek nya ada yang disembunyiin nih?" Tanya Cici dengan menautkan satu alisnya.


"Paan sih lu, gak ada! Cepet sana kedepan. Ntaar kita nyusul." Titah Rila.


"Ck. Bener-bener mencurigakan!" Cici hendak masuk namun dicegah dua wanita didepannya. Hingga adu body pun tak terkendali. Satu gadis yang memaksa hendak masuk, dan dua wanita yang mencegatnya. Hingga...


Braakk!!


Pintu terbuka membuat ketiganya terjengkang dan jatuh secara bersamaan dengan Cici yang menindih keduanya.


Ayra yang membuka pintu, tentu terkejut melihat ketiganya yang sudah bertumpukan dilantai. "Upppss! Sorry!" Ayra menutup mulutnya, lalu mengangkat kedua jarinya membentuk V dengan cengiran kudanya.


"Aduhh pinggang gue!" Jerit Rila memegang pinggangnya yang sepertinya sedikit encok.

__ADS_1


"Aaa!! Kak Ay, kenapa dibuka? Nyusruk kan Cicinya." Omel Cici manja.


"Idihh malah nyalahin gue. Lagian kalian ngapain juga didepan pintu. Tuh mantennya mau keluar." Protes Ayra.


Ayra membangunkan ketiganya satu persatu. Kedua wanita didalamnya geleng-geleng kepala melihat tingkah mereka dengan tertawa kecil.


"Ini semua gara-gara kak Rila. Cici jadi nyusruk kan!" Protes si gadis SMA ini.


"idihh paan salah lu. Pinggang gue encok nih!" Timpal Rila tak mau kalah.


"Udah-udah! Awas-awas jangan ngalangin jalan. Tuh ratunya mau keluar." Tutur Ayra.


Dengan perasaannya yang masih kesal, keduanya memberi jalan pada si calon manten untuk keluar.


Feby sudah kembali rapih. Sudah tak muntah-muntah lagi. Ia berjalan diapit Agel dan Ayra. Dan ketiga perempuan dibelakangnya.


Acara diadakan di halaman rumah yang sudah disulap dengan dekorasi yang begitu cantik, sederhana namun terkesan mewah.


Ternyata ditempat ijab sudah ada pak penghulu dan sang Ayah yang sudah siap menjadi wali. Dan didepannya sang memepelai pria tentunya. Ia didudukan bestienya disebelah calon suaminya.


Rio tersenyum melihat calon istrinya yang begitu cantik.


"Bagaimana kita mulai aja acaranya?" Tanya pak penghulu dan dijawab anggukan oleh semua orang disana.


"Nak Rio, apa anda sudah siap?" Tanya pak penghulu.


"Siap pak!" Jawabnya tegas.


Acara pun dimulai dengan wejangan terlebih dahulu dari pak penghulu dan pembacaan syahadat. Setelah melakukan gladi terlebih dahulu, acara pun dimulai.


"Bismillahirohmanirrohim saudara Rio widiyanto bin Aryo widiyanto, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Feby Aristya binti Aryan. Dengan mas kawin seperangakat perhiasan emas dan seperangakat alat sholat dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawinnya Feby Aristya binti Aryan dengan mas kawinnya tersebut, tunai!"


"Bagaimana saksi, sah?"


"Sah!!!"


"Alhamdulillah!!!!"

__ADS_1


*****************


Mari-mari tinggalkan jejak kaleannn! Jangan lupa komen yaa, ramaikan kolom komentar nya!😊


__ADS_2