
Sena yang mendengar penuturan kakaknya melongo, hingga didetik berikutnya Ia berdecak kesal. "Ck. Bisa gak sih aka gak usah berubah, tetap jadi aka aku yang baik. Gak usah kek ka Shaka." Gerutunya.
Sena yang menyangka sang kakak meledeknya tentu merasa kesal. Ia pikir kakak kesayangannya berubah seperti kakak kandungnya yang lucknut menurutnya itu.
Aska tersenyum dan mendekat kearah sang adik. Ia usek pucuk kepalanya yang masih sedikit basah. "Aka tetap aka, gak akan berubah. Dan kamu tetap kesayangan aka." Ucapnya dan sukses mengukir senyum manis dibibir gadis itu.
"Uhhh sweet! Aka terdebess!" Sena berdiri dan memeluk tubuh sang kakak erat, hingga membuat si empunya terdiam merasakan sesuatu yang aneh dibagian dadanya.
Sena melerai pelukannya. "Love you aka!" Ia kecup pipi sang kakak seperti biasa. Namun hal aneh kembali dirasakan Aska hingga membuat Ia mematung.
"Ya udah yuk berangkat! Ntar kesiangan lagi." Sena menggandeng lengan sang kakak setelah mengambil tas yang tergantung digantungannya dan menggendongnya.
Namun Ia dibuat heran dengan sang kakak yang tiba-tiba mematung. "Kak ayo!" Ajaknya seraya menarik lengannya.
Aska terlonjak, Ia tersenyum simpul kearah gadis disampingnya dan mengikuti pergerakan sang gadis yang menyeretnya.
Ketika keduanya baru keluar, seorang pemuda dengan seragam yang sama juga keluar dari kamar samping. Dengan gayanya ala badboy membuat penampilannya seratus delapan puluh derajat berbeda dengan sang kakak.
"Untung aja kak Aska jemput, jadi aku gak perlu kasih tebengan buat tuh bocah." Ucap Shaka dengan memasukan tangan disaku celananya.
"Siapa juga yang mau nebeng? Kalo pun aka gak jemput, mening aku minta dianterin Papa. Daripada nebeng sama aka durjana kek aka Shaka. Wlekkk!!" Sena sampai menjulurkan lidahnya meledek sang kakak.
"Cih. Awas aja nanti, kalo misal ka Aska gak masuk, terus Papa gak mau anterin. Gak akan aka kasih tebengan!" Petingatnya.
"Gampang lah, aku minta jemput fans aku aja. Fans aku kan banyak." Timpal Sena tak mau kalah.
Seperti itulah setiap harinya dua bersudara itu. Tak pernah akur, selalu beradu argumen. Persis seperti Papih Age dan Mama Ay waktu kecil. Bahkan sampai sekarang kalau kumpul masih saja tetap tak ada yang mau ngalah dari mereka.
"Udah-udah ayo berangkat! Kalo kek gini terus, bisa-bisa kita datang di jam istirahat." Aska melerai kedua saudara itu hingga membuat keduanya berjalan mengikuti langkah sang kakak.
Ketiganya berlenggang menuju meja makan. Sang Papa dan Mama sudah menunggu disana.
Shaka hendak mengucapkan kata-katanya, namun segera diselak sang Papa. "Jangan bicara! Cepet sarapan!" Peringat sang Papa dan sukses membuat Shaka bungkam.
Sena ceikikan melihat muka kusut sang kakak. "Suutt!!" Aska memperingati sang adik untuk diam. Kalau dibiarkan, sudah dipastikan mereka tidak akan masuk sekolah hari ini. Karena ceramahan panjang kali lebar sang Papa.
Akhirnya mereka menikmati sarapan tanpa suara apapun. Hanya denting sendok dan piring yang terdengar disana.
__ADS_1
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!"
Setelah berpamitan ketiganya bergegas kehalaman rumah dan siap menaiki motornya. Shaka sudah melesat membawa kuda besinya mendahului dua muda mudi yang masih sibuk memakai helmnya. Hingga Sena akan naik, namun chat masuk menghentikan gerakannya.
"Bentar kak!"
Ia buka chat itu hingga nampak nomor yang tak Ia kenali, hingga membuat Ia menaikan satu alisnya. "Nomor siapa sih?"
081222333xxxš„
P
"Siapa?" Tanya Aska.
"Gak tau nomor baru. Kek nya fans baru deh." Jawabnya seraya memasukan Hpnya ke tas.
"Segitu banyaknya fans kamu?" Sindir Aska dan hanya dijawab gedikan bahu sang gadis.
Ia memang tak peduli dengan semua fans yang menghubunginya. Yang sekedar menanyakan kabar dan menggombalinya tak pernah satupun Ia respek, hanya yang memiliki kepentingan saja yang Ia tanggapi.
Sena menurut dan memeluk perutnya erat. Kemudian motorpun melesat meninggalakan halaman rumah.
Disepanjang perjalanan Aska terus memikirkan si pengirim pesan misteris itu. 'Siapa dia? Ada hubungan apa dia sama dede? Kenapa kata-katanya kek gak asing. Kek udah kenal.' Batinnya.
Aska terus bergulat dengan pikirannya, hingga ocehan gadis dibelakangnya tak mampu Ia dengar. Membuat sang gadis menggerutu kesal.
"Denger gak sih kak?" Tanya Sena berteriak ditelinga sang kakak.
"Hah?! Iya! Apa?"
"Ihhh aku nyerocos mulu dari tadi, gak aka dengerin ya?" omel Sena.
"Maaf de, aka tadi kurang fokus! Kenapa? hem?" Tanya sang kakak.
"Huhh!! Cape aku harus ngulang lagi. Tapi ya sudahlah, dengerin tapi!" Ucap Sena dan diiyakan sang kakak.
__ADS_1
"Tadi malam si Jinjin abis putus sama si Radit, dia ampe nangis-nangis kejer. Sampe aku ikutan begadang nemenin dia VC." Tuturnya. "Emang putus cinta semenyakitkan itu ya kak?" Tanyanya pada sang kakak.
"Mungkin. Gak tau juga, aka kan gak pernah pacaran." Timpal Aska.
"Ya udah aka pacarin si Jinjin, biar tau rasanya pacaran." Ucap Sena dengan entengnya.
"Kalo aka pacaran, gak akan bisa jemput kamu lagi. Gak bisa nemenin kamu lagi. Gimana?" Tanya Aska.
"Eh! Jangan deh kalo gitu! Mening aka jomblo aja. Gak papa kak, biar jomblo kan ada aku ya!" Aska tersenyum mendengar penuturan gadis yang tengah mendekapnya itu.
'Aku tak butuh pasangan untuk bahagia. Karena seperti ini saja sudah membuatku bahagia!'
**
Selang beberapa menit, motorpun sampai diparkiran. Sena turun dan merpaihkan terlebih dahulu penampilannya. Ternyata upacara sudah siap untuk dilaksanakan, semua siswa sudah bergegas untuk berkumpul dilapangan.
"Aka aku gak kelapangan ya, aku nunggu aja di UKS." Ucap Sena.
"Kelapangan aja ayo!" Ajak sang kakak dan dijawab gelengan kepala olehnya.
"Gak kak. Ini hari pertama aku dapet, males!" Tolaknya membuat sang kakak menghembuskan nafasnya pasrah.
"Ya udah, ntar jangan keluar dulu! Sebelum aka jemput ya!" Pesannya dan dijawab anggukan Sena.
Bukan apa-apa setiap upacara Sena memang jarang mengikutinya, apalagi hari datang bulannya Ia selalu beralaskan sakit perut. Dan sang kakak akan jadi tameng untuk memberi alasan pada sang guru.
Aska berlenggang menuju lapangan dan Sena berlenggang menuju UKS. Ia memasuki ruangan kesehatan itu tampak melirik sana sini. Sepi. Pikirnya.
Ia duduk ditepi brankar dan mengambil benda pipih dari tasnya. Ia hendak mengotak ngatik pesan, namun Is malah menoleh kebelakang hingga atensinya berpindah pada sebuah sepatu putih yang menonjol keluar tirai.
Ia berbalik, dan ternyata seseorang sepertinya tengah berbaring diatas brankar yang terhadang tirai itu. 'Siapa ya?' Batinnya.
Dengan ragu Ia bangun dari duduknya, berjalan kesisi brankar disampingnya dan mencoba mendekat. Perlahan namun pasti, Ia membuka tirai dengan gugup. Baru kali ini ada yang nemenin dia di UKS.
Hingga tirai itu terbuka dan menampakan seseorang yang tengah berbaring dengan kepala yang bertumpu dilipatan lengannya, matanya terpejam dan jangan lupakan headset yang menggantung ditelinganya.
"Kamu?" Tanyanya shok.
__ADS_1
*******************
Jangan lupa tinggalkan jejak kalean yaa!š Ini akan lanjut ampe banyak episode. Moga aja yaaš¤ Kasih like dan komennya! Yang mau ngirim vote sama bunga, mak othor tunggu jugaš