
"Belum lagi!" Ayra menghadang bibir yang hendak menyerangnya.
"Kenapa?" Tanya bang Ar heran.
"Kata dokter kan harus pake dulu pengaman. Kita belum siapin itu." Timpal Ayra.
"Ya udah keluarinnya diluar aja!"
"Hemm yakin bisa ngeluarin diluar. Ini puleun loh bang?" Goda Ayra.
Bang Ar menghela nafasnya kasar, hingga duduk dan mengacak rambutnya frustasi.
"Jadi gimana dong?"
"Ya diskip dulu ampe besok!" Timpal Ayra tertawa. Membuat bang Ar kembali menghela nafasnya kasar.
"Ya udah nyicil aja dulu." Ucap bang Ar. Belum juga sang istri menimpali, Ia sudah menyerang terlebih dahulu.
Menyecap rasa yang selalu sama, merasakan manisnya bibir yang selalu memanjakannya. Tangannya sudah bertengger di buah yang kian memebesar dan meremasnya pelan. Nyatanya Ia tak bisa menyerahkan wadah kehidupan untuk babynya begitu saja.
Ketika tangannya akan menyusup kebawah sana mencari si nona manis, tiba-tiba tangisan sang putra menghentikan aksi keduanya. Dengan helaan nafas panjang akhirnya bang Ar pun mengalah. Ia bangun dari tubuh sang istri dan berlalu kekamar mandi. Sepertinya Ia harus berkarier solo untuk hari ini. Begitu pun Ayra menghampiri baby box dan mengambil baby nya dan memberikan asi pada putranya itu.
***
Keesokan harinya Sepasang orang tua ini mengunjungi dokter untuk menanyakan perihal pengaman yang aman untuk mereka. Mengingat begitu banyak macam alat kontrasepsi dan apa yang harus mereka pilih.
Dokter pun menjelaskannya, dan satu alat mereka pilih. Setelah selesai keduanya berlalu meninggalkan rumah sakit. Baby Shaka memang tak ikut, Ia dititipkan dengan neneknya.
"Kita mau kemana bang?" Tanya Ayra.
"Emm ke suatu tempat." Timpal bang Ar yang masih fokus dengan kemudinya.
"Kemana?" Tanya Ayra penasaran.
"Tar kamu juga tau." Timpalnya tersenyum melihat ekspresi heran istrinya.
Mobil terus melesat, Ayra tak bertanya lagi. Ia membiarkan sang suami yang sepertinya akan memberi kejutan untuknya. Namun bukan Ayra namanya kalau membiarkan suasana dalam mobil sepi, ada saja celotehannya yang membuat sang suami tergelak.
Tak berselang lama mobilpun sampai dan terparkir disebuah halaman rumah minimalis berlantai dua. Bang Ar turun dan membukakan pintu untuk sang istri.
__ADS_1
"Ini rumah siapa bang?" Tanya Ayra penasaran dengan mata yang terus memindai seluruh design rumah yang begitu apik. Pas dengan rumah impian yang menjadi idamannya.
Namun bang Ar tak menjawabnya. Ia genggam tang sang istri dan menariknya untuk mengikuti langkahnya. Hingga langkah keduanya berhenti didepan pintu berwarna coklat. Bang Ar mengambil kunci dari jaketnya dan memasukannya kedala lubang kunci pintu didepannya, hingga membuat Ayra melongo.
Dengan dua putaran pintupun terbuka. Bang Ar kembali menarik tangan sang istri masuk kedalamnya. Rumah dengan tatanan yang begitu rapih. Membuat Ayra merasa takjub melihatnya. "Ini?"
"Ini rumah kita." Timpal bang Ar tersenyum kearah sang istri. Tentu Ayra dibuat menganga dengan bola mata hampir keluar.
"Se-serius?" Tanyanya terbata dan dijawab anggukan oleh suminya.
Ayra berhambur kepelukan suaminya, merasa tak percaya dengan apa yang menjadi kejutannya. Suaminya benar-benar menyiapkannya sendiri tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
"Aaa... Aku seneng banget bang! Makasih!"
"Iya. Gimana kamu suka?" Tanyanya mengusek pucuk kepalanya.
"Suka! Suka banget!" Timpalnya girang membuat sang suami tersenyum senang.
"Jadi kita pindah kesini bang?" Tanya Ayra.
"Iya. Kamu mau kan kita tinggal bertiga dengan baby Shaka disini'?" Tanya balik bang Ar dan dijwab anggukan sang istri. "Tentu!"
Keduanya berlenggang lagi menapaki anak tangga yang sedikit unik. Tangga dibuat memutar untuk sampai dilantai atas. koHingga keduanya tiba didepan pintu berwarna coklat.
Bang Ar membuka pintu itu dan nampaklah ranjang dengan kasur kingsize. Lemari besar beserta meja rias. Satu pintu kaca yang sudah dipastikan itu pintu balkon, dan satu pintu kamar mandi. Ayra tersenyum kala melihat foto besar yang menggantung diatas ranjangnya. Foto pernikahan dirinya dan sang suami.
Bang Ar tersenyum melihat kebahagiaan yang terpancar dari istrinya. "Tar kalo foto kemarin udah jadi kita pajang juga disana!" Tunjuk bang Ar pada dinding yang kosong.
Kemarin waktu acara, mereka memang melakukan sesi pemotretan bersama baby Shaka. Dan masih menunggu hasilnya.
Ayra duduk ditepi ranjang diikuti bang Ar yang menekukkan kakiknya dilantai menghadap sang istri. Kemudian meraih kedua tangannya dan menggenggamnya erat.
"Apa kamu bahagia?" Tanya bang Ar.
Ayra tersenyum dan mengangguk. "Sangat!"
"Abang harap, kita bisa membangun rumah tangga kita disini. Seperti keinginanmu dulu, kita hidup mandiri menjalani semuanya berdua. Disini kita akan membesarkan anak-anak kita. Dan disini juga kita akan menua bersama." Tutur bang Ar membuat Ayra tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
Ia sampai tak mampu berkata apa-apa lagi. Bulir air dari ujung matanya menandakan betapa bahagianya Ia. Mendapatakan limpahan karunia dari-Nya, sungguh membuatnya harus banyak-banyak bersyukur.
__ADS_1
Bang Ar ikut duduk disisi sang istri, membuat keduanya berhadapan. Ia hapus jejak basah dipipi chuby istrinya. "Udah jangan nangis! Kan bahagia?" Goda bang Ar.
Ayra mengeplak tangan suaminya. "Isshhh ini tuh saking bahagianya bang!" Timpalnya membuat bang Ar tertawa.
"Iya deh iya!" Bang Ar mencubit gemas pipinya.
"Emm, ngomong-ngomong kapan abang siapin ini semua?" Tanya Ayra.
"Sebenarnya ini udah abang siapin dari sebelum kita kenal deket." Timpal bang Ar.
"Berarti awalnya ini bukan buat aku dong?" Tanya Ayra merasa tak terima.
"Bukan!" Timpal bang Ar santai namun membuat Ayra memberenggut dan melipat tangannya didada.
Bang Ar tersenyum dan meraih tangan sang istri dari lipatannya. "Abang gak tau siapa yang akan jadi jodoh abang. Yang jelas, ini rumah akan jadi tempat tinggal untuk abang, istri dan anak-anak abang." Tutur bang Ar.
"Dan kamu pemenangnya!" Bang Ar mencubit hidungnya gemes.
"Ck. Abang sakit! Dikira lomba apa pemenang?" Timpal Ayra kesal.
Bang Ar menangkup kedua pipi sang istri. "Lomba lah, lomba menangin hati abang. Dan kamu hanya satu-satunya wanita yang bisa menangin nya.You're winner!" Timpal bang Ar mengecup sekilas bibir ranum itu membuat keduanya tertawa.
"Jadi pengen deh coba disini!" Ucap bang Ar.
"Coba apa?"
"Bikin part dengan pengaman baru, dirumah baru pula!" Timpalnya membuat Ayra tergelak.
"Entar aja bang! Ini belum diadzani, kata orang dulu mah pamali." Tutur Ayra. "Terus takut ada yang ngintip juga." Lanjutnya.
"Siapa?"
"Mak othor! Eh salah, mak kunti." Balas Ayra tergelak.
******************
Yang penasaran ceritanya bang Agung dan Siska mak othor udah siapin novel baru buat mereka ya, tapi belum bisa up. Akunya masih sibuk di dunia nyata😁 InsyaAlloh minggu depan launching lah. Doain aja, moga kesibukan akunya cepet selesai. Yang pasti ceritanya masih sama kocak plus bikin baper, tanpa konfilk berat tentunya. Dan yang ini juga masih stay up, belum mau ditamatin soalnya si Feby sama Rio belum kawin, takut ditimpuk aku kalo gak dikawinin😂
Dah segitu aja curhatan mak othor. Terus kasih jejak kalian, biar akunya semangat ya😉
__ADS_1
Sayang kaleaaann😘😘