
"Bang! Mereka beneran udah pada pulang?" Tanya Ayra.
"Iya. Kata mang Asep si gitu." Jawab bang Ar yang terus fokus menyetir.
Sekarang keduanya tengah dalam perjalanan pulang. Waktu sudah petang dan teman-temannya sudah pulang terlebih dahulu.
"Emm..bang aku mau tanya sesuatu?"
"Hemm...apa?" Tanya bang Ar menengok sekilas ke arah Ayra dan kembali fokus kedepan.
"Yang kemaren itu beneran gak sii bang?" Tanya Ayra ragu.
"Emm..yang mana?"
"Itu.. Yang abang bilang mau kerumah aku?" Tanya Ayra mendadak malu.
Bang Ar tersenyum ingin rasanya menggoda gadisnya ini.
"Kapan abang bilang kek gitu?" Tanyanya pura-pura lupa.
"Ihh.. Itu. Yang waktu ngobrol diruang tv itu?" Ayra mengingatkannya.
"Ohh itu.." Bang Ar manggut-manggut seolah tengah mengingat. "Ya kan emang kita mao kerumah kamu sekarang." lanjut bang Ar santai.
"Ck.!" Ayra berdecak melipat tangannya didada memalingkan wajahnya keluar jendela sambil komat kamit gak jelas.
Bang Ar melipat bibirnya menahan tawa.
"Kenapa?" Tanya bang Ar sekuat tenaga menahan tawanya. Ayra hanya menyedikkan bahunya acuh.
Bang Ar menepikan mobilnya dipinggir jalan.
Ia mematikan mesin mobil, membuka sabuk pengamannya, lalu sabuk pengaman gadisnya.
Diraihnya kedua tangan yang tengah melipat didada itu, digenggamnya erat. Membuat Ayra mengikuti pergerakan tangannya untuk menghadap bang Ar.
Diraihnya pipi mulus yang tengah cemberut itu dengan satu tangan bang Ar. Dielusnya lembut.
__ADS_1
"Apa kamu siap jadi tempat berbagi segala hal dalan hidup abang?" Tanya bang Ar serius.
Deg
Ayra mematung. Apa? Benarkah yang Ia dengar? Apakah ini sebuah lamaran?
Ayra masih shok hingga tak mengeluarkan kata-kata apapun.
"Ay...!" Panggil bang Ar lembut. Membuat Ayra tersadar dan menatap dalam mata yang selalu membutnya tak berkutik.
"Maukah kau menghabiskan sisa usia denganku? Menua bersamaku?" Tanyanya lagi.
Ayra tetap bergeming, tak bersuara sepatah kata pun Ia hanya meneteskan air matanya dan tersenyum dan menganggukan kepalanya berkali-kali.
Sungguh ini tak pernah Ia pikirkan sama sekali sebelumnya. Bang Ar tau tentang perasaannya saja sudah membutnya bahagia. Apalagi sampai tahap ini. Sungguh kebahagiaan yang tak terkira.
Bang Ar menarik Ayra kedalam dekapannya. Mengusap rambutnya dan mencium pucuk kepalanya dalam. Ayra pun membalas dekapan bang Ar memeluk erat tubuh yang akan selalu jadi pelindungnya. mencium dalam-dalam aroma maskulin yang akan jadi candunya.
Setelah cukup lama, bang Ar melepas dekapannya. Meraih kedua pipi Ayra.
Seperti yang Ayra katakan kemarin, kini bang Ar pun melakukan itu. Membuat Ayra tersenyum.
"Aku lebih mencintaimu. Sangat."
Bang Ar mengikis jarak meraup bibir ranum yang semakin menjadi candunya itu. Disesapnya lembut penuh perasaan. Ayra membalas sesapan itu bahakan Ia mulai bisa mengimbangi ciuman bang Ar. Tanpa sadar Ia sampai mengalungkan tangannya dileher bang Ar.
Bang Ar mengangkat tubuh gadisnya membawa kepangkuannya tanpa melepaskan pagutannya.
Tangan bang Ar tak tinggal diam, satu tangannya menahan tekuk Ayra dan satu tangan lagi sudah menyusup dalam kaos sang gadis. Diusapnya lembut perut, punggung, sampai di dua buah gundukan aset yang sangat pas ditangannya.
Perlakuan itu membuat tubuh si empunya bergetar merasakan sensasi luar biasa. Ini pertama kalinya Ia mendapat sentuhan-sentuhan yang membuatnya melayang dan mengeluarkan desa han yang terdengar merdu di telinga bang Ar. Membuat jiwa kelelakiannya bangkit hingga membangunkan sesuatu dibawah sana.
Setelah kehabisan oksigen, barulah keduanya melepas pagutannya. Menyatukan keningnya dengan nafas yang memburu.
Ayra tersipu kala merasakn sesuatu yang mengganjal dibawah sana.
"Bang. Aku turun ya!" Pintanya ragu.
__ADS_1
Bang Ar masih bergeming, menghirup nafasnya dalam-dalam. Ayra hendak berdiri namun pinggulnya ditahan bang Ar. Membuat Ayra melotot tatkala mahkotanya menepel pas digudukan yang terasa semakin besar.
"B-bang jan kek gini, tar dilihat orang!" Ucapnya gugup.
"Kenapa?" Tanya bang Ar dengan mata sayunya.
"B-bang!" Ayra semakin gugup. Ia tidak bodoh. Ia mengerti dengan apa yang terjadi.
Bang Ar tersenyum melihat gadisnya ketakutan seperti itu. Diusapnya pipi sang gadis.
"Kamu tenang aja. Abang akan menahannya sampe waktunya tiba." Ucap bang Ar dan mencium keningnya dalam. Keduanya tersenyum bahagia.
Bang Ar menurunkan Ayra ke bangku samping memasangkan kembali sabuk keduanya dan menjalankan kembali mobilnya.
**
"Ini kok banyak mobil ya bang?" Tanya Ayra heran ketika keduanya sampai dikediaman Ayra.
"Entah..mungkin keluarga kamu berkunjung?" Tanya balik bang Ar.
"Keluarga siapa? pada ngapain coba rame-rame kek gini?" Tanyanya penasaran.
Bang Ar tak menjawab Ia keluar dari mobil dan membuka pintu mobil gadisnya.
Setelah keluar dan berdiri didepan mobil Ayra masih mematung, masih penasaran dengan rentetan mobil dihalaman rumahnya.
"Udah gak usah bengong, kita lihat aja kedalam." Ajak bang Ar menggandeng tangannya.
Keduanya berjalan masuk dan betapa terkejotnya Ayra melihat seluruh keluarganya dan keluarga bang Ar yang tengah berkumpul diruang tamu, bahkan sahabat-sahabatnya pun ikut bergabung disana.
Dengan penampilan semua orang disana yang begitu formal dan jangan lupakan dekorasi diruang tengah yang penuh dengan bunga-bunga.
Ayra membulatkan matanya lebar dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat keadaan rumahnya itu. "Ini??" Pekiknya.
***************
*Kencengin votenya gaisss! Like dan komennya juga yaš Kasih kopilah biar semangat mak othornyaš
__ADS_1