
Setelah prosesi ijab kabul selesai. Kini sepasang pengantin tengah melakukan sesi sungkeman, dilanjut dengan sesi foto pasangan dan keluarga.
Kini keempat bridesmaid pun ikut gabung. Dengan berbagai gaya mereka tampilkan. Dengan body nya yang tinggi Ayra begitu menonjol diantara ketiganya.
Ia terus menyunggingkan senyum dalam fotonya. Bahkan seseorang terus memperhatikannya.
"Kau begitu cantik. Bahkan melebihi ratunya hari ini. Salahkah jika aku menginginkanmu?" Ujarnya tersenyum miris dengan terus memperhatikan Ayra.
"Salah!"Jawab temannya seraya mengeplak bahunya dan membuatnya menoleh sekilas.
"Jika saja lu mencintainya bukan menginginkannya, gue pastiin dia udah digenggaman lu." Lanjutnya.
Rendi tersenyum sinis. "Cinta? Gue bahkan lupa dimana hati gue!"
"Lupain Anna, buka hati lu. Lihat sekitar lu. Andai lu dapat membuka hati lu, gue yakin dari dulu lu udah bisa dapatin Ayra." Tutur Ivan dan ikut memperhatikan Ayra yang tengah berfose berdua dengan bang Ar.
"Lu lihat! Ardi mencintainya dan itu terlihat jelas. Itu alasan kenapa dia lebih memilih Ardi daripada lu. Ardi mencintainya, sedangkan lu, lu hanya terobsesi buat miliki dia." Lanjutnya.
Rendi hanya menghela nafasnya kasar. Terlihat jelas cinta yang begitu besar dari keduanya. Membuatnya menutup mata, memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut.
Bayangan dirinya bersama Anna tengah tertawa bahagia berputar diotaknya. 'Anna' batinnya.
Ia memilih meninggalkan tempat itu dan mencerna setiap kata dari sahabatnya.
**
"Kamu terlalu cantik sayang!" Bisik bang Ar ditelinga Ayra kala mereka tengah berfose mesra.
Mereka sengaja disuruh foto berdua untuk salah satu foto prewed nya. Ide ini diusulkan sang Mamih. Katanya mumpung bajunya pas. Padahal mah ya nanti prewed juga bajunya bisa sewa khusus. Tapi dasar emak-emak suka rempong gak ketulungan.
"Emangnya kenapa kalo aku terlalu cantik?" Tanya Ayra ikut berbisik.
"Banyak cowok yang lihatin kamu. Abang gak suka!" Balasnya dan menarik pinggang Ayra posesif hingga membuat keduanya begitu menempel.
Tatapan keduanya terkunci, dengan senyum yang tak luntur dari keduanya. Mereka hanyut dalam perasaan bahagia dihatinya dan lupa akan sekitar. Hingga arahan-arahan dari sang fotografer tak mereka gubris.
Dari kejauhan seorang gadis tengah memperhatikannya.
"Segitu mudahnya kamu lupain aku?" Ucapnya sendu.
**
"Perasaan yang nikah Devan sama Rila. Napa?yang jadi sorotan malah kalian berdua?" Tanya Feby menunjuk pasangan yang begitu serasi ini.
__ADS_1
Kini mereka tengah duduk dikursi yang disediakan. Mereka berenam duduk mengitari meja bundar didepannya dengan berbagai makanan dan minuman diatasnya.
"Iri bilang boss!" Timpal Ayra membuat mereka tergelak.
"Eh tadi Mamih lu bilang tu foto buat prewed ya. Emang beneran?" Tanya Agel.
"Gak tau tuh si Mamih, rese banget. Malu-maluin tau gak. Berasa gak modal banget gue." Balas Ayra cemberut.
Bang Ar yang melihat itu tersenyum dan mengusek pelan pucuk kepalanya.
"Kek nya emang udah deket nih?" Tanya Juna.
"Apanya?" Tanya balik Ayra.
"Hari-H nya. Buktinya udah nyiapin prewed segala." Timpal Juna.
"Wah bener ini. Kita ketinggalan info. Kapan? Kapan?" Tanya Feby antusias.
Bang Ar dan Ayra saling lirik dan tersenyum.
"RAHASIA!" Ucap kompak keduanya. Membuat mereka tertawa.
Ditengah gelak tawa mereka, tiba-tiba datang seorang gadis menghampiri mereka.
Bang Ar menoleh dan tersenyum ke arahnya.
"Haii Ra." Balas bang Ar.
"Boleh ikut gabung?" Tanyanya tersenyum.
"Emm.. Silahkan." Jawab bang Ar membuat Ayra melengos.
Rara duduk disamping bang Ar. Membuat Ayra kian tak nyaman.
Bang Ar menoleh dan mendapati sang kekasih menoleh ke arah lain mengerti. Pujaannya ini pastinya tengah cemburu.
Bang Ar tersenyum dan menggenggam sebelah tangannya. Membuatnya menoleh dan bersikap sebiasa mungkin.
"Hai.. Kenalin aku Rara" Ucapnya menyodorkan tangannya ke arah Feby. Dan disambut Feby.
"Feby."
Ia beralih ke Rio dan Juna, "Sama kalian gak usah ya, kita udah kenal. Temannya Ardi juga kan?" Tanyanya dan dijawab senyum tipis keduanya.
__ADS_1
Dan beralih ke Agel. "Agel" Menjabat tangannya.
Kini giliran Ayra. Ia menyodorkan tangannya kehadapan Ayra dan melirik sebelah tangannya yang digenggam bang Ar di pangkuannya.
Ia pun tersenyum sinis dan beralih menatapnya tajam. "Rara. Mantannya Ardi!"
Ayra menatap tangan yang terulur dihadapannya dan beralih menatap wajahnya. Ia tak kalah menajamkan matanya dan menyambut uluran tangannya.
"Ayra. Tunangannya bang Ar!" Sambutnya.
Keduanya saling mengunci pandangan. Menimbulkan hawa begitu dingin. Membuat yang lain saling lirik merasa waswas.
Rara melepaskan jabatan tangannya terlebih dahulu.
"Kita pacaran lama loh Ar, tapi kamu gak pernah ngajak aku serius. Sekarang, hubunganmu baru sebentar sudah tunangan. Apa kalian dijodohkan?" Tanyanya dengan nada remeh.
Bukannya terpancing Ayra malah menyunggingkan senyuman termanisnya, membuat teman-temanya keheranan.
"Iya, kami dijodohkan!" Jawab Ayra membuat Rara tersenyum sinis dan teman-temannya melongo.
"Dijodohkan Tuhan. Bukan begitu bang?" Tanya Ayra tersenyum semanis mungkin bahkan mengeratkan genggamannya ditangan bang Ar.
Bang Ar membalas senyuman Ayra tak kalah manis mengusek pucuk kepalanya gemas.
Rara membolakan matanya, alih-alih ingin memancing amarahnya. Malah membuat mereka bermesraan di hadapannya.
Semua temannya sudah melipat bibir. Mereka lupa siapa Ayra? Cewek pintar dengan sejuta kata. Siapapun akan kalah jika adu argumen dengannya, kecuali abangnya.
"Makasih ya mba!" Ucapnya menatap Rara sejenak dan kembali menatap bang Ar.
"Udah jagain jodoh aku." Ucapnya dengan senyuman manis yang tak luntur dari bibirnya.
Membuat Rara geram. Ia mengepalkan tangannya kuat sebisa mungkin menahan kekesalannya.
"Ehemm.. Aku cari Papa dulu ya Ar. Bye semua!" Pamitnya seraya berlenggang pergi.
Setelah Rara menghilang tawa mereka pun pecah. Tapi tidak dengan Ayra. Ia menarik tangannya dari genggaman bang Ar dan melipatnya didada.
Bang Ar tersenyum melihat tingkah gadisnya. Ia balikkan tubuh Ayra kehadapannya. Diambilnya tangan dari lipatannya dan menggenggam keduanya erat.
"Seperti katamu, kita dijodohkan Tuhan. Tak ada yang bisa mengubah kehendak Tuhan. Dan harus kamu ingat Aku dan Kamu adalah Takdir yang tak dapat dihindari."
*************
__ADS_1
*Mari-mari kencengin vote nya, like dan komennya juga!!! Tabur-tabur bunga lah biar haluan othor wangi semerbak melimpah luasš¤