Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 27


__ADS_3

"Jadinya besok kita kemana?" Tanya Juna. Disela makan malam mereka.


"Emm..gimana kalo kepantai?" Ayra memberi saran.


"Jangan deh, disana terlalu ramai. Inikan masih pandemi, takut gue." Timpal Feby.


"Iya...mening yang agak sepi gitu." Timpal Rila.


"Kuburan dong!" Jawab Rio. Dan disambut gelak tawa yang lainnya.


"Lu mah maunya ditempat sepi mulu. kebiasaan dasar!" Timpal Ayra.


"Yeyy lu mah belom tau aja. Tar juga lu sukanya yang sepi-sepi." Ucap Rila yang langsung dapat alungan sedotan dari Ayra.


"Wah parah Van, cewek lu buka kartu tuh." Timpal Juna.


"Biarin lah. Kek lu gak aja!" Bela Devan merangkul pundak sang kekasihnya.


"Emang lu pada pasangan mesum!" Kini Agel yang melempari pasangan itu sedotan.


"Biarin, gak mesum gak enak ya yang?" Tanyanya pada sang kekasih dengan kerlingan mata genit dan dijawab anggukan kekasihnya.


"Wahh.."


"Gak bener ini.."


"Woyy nikah woyy!!"


"Otak gue belom nyampe woyy!" Protes Feby.


Membuat semua tergelak dengan tingkah pasangan ini.


"Udah-udah nanti kita coba!" Ucap bang Ar.


"Wahh bang Ar jadi ikutan oleng nih." Timpal Rio.


"Mentang-mentang udah punya lagi, mau langsung dicoba katanya." Timpal Devan.


"Bukan dicoba lagi langsung dipraktekin sekalian." Balas bang Ar membuat semua melongo termasuk Ayra sampe menganga.


Pasalnya cowok yang menyandang kekasihnya saat ini, terlihat begitu kalem. Tapi kok ya otaknya?


"Pas udah halal." Sambung bang Ar. Membuat semua orang tergelak. Absurd juga ternyata bang Ar.


"Jadi gimana ini? Pada gak jelas lu semua?" Tanya Juna lagi.


"Udah kita kepuncak aja gimana?" Saran bang Ar.


"Emmm..boleh juga tu bang!" Jawab Ayra antusias.


"Yah lu mah, mau diajak keliang semut sekali juga pasti setuju aja. Kalo yang ngajaknya bang Ar mah." Timpal Feby.


"Apalagi ke kamar ya Ay?" Goda Devan.

__ADS_1


"Wah ini si Devan bener-bener otaknya. Perlu di Fitahin nih." Timpal Juna mengeplak kepala Devan.


"Gue saranin besok lu jangan ngikut Ril." Agel memberi saran pada Rila.


"Kenapa?" Tanya Rila heran.


"Takut disana lu di iya-iyain." Balas Agel membuat semua kembali tergelak.


"Eh lu pada musti tau, gini-gini juga gue gak pernah ya macem-macem sama cewek gue. Paling satu macem." Celetuk Devan


"Wuuuuu


"Dasar emang. Apa coba satu macam?"


"Ya elah, nyolek dikit kek gini." Devan mengecup bibir Rila sekilas. "Lagian ya, pantang buat gue ngerusak cewek! Apalagi ini seseorang yang spesial, gue bakal jaga dia sepenuh hati gue!" Ucap Devan merangkul bahu Rila, dan sebelah tangannya menggenggam tangan kanan Rila, lalu mengecupnya.


"Uhhhhh...."


"Ahhh so sweet....."


"Hadeuhhhh baperrr gue...."


Semua kembali riuh menonton drama dihadapan mereka.


"Jadi fix nih ke puncak?" Tanya Ayra.


"Iya, tar kita nginep di rumah yang kemaren." Balas bang Ar.


"Kek nya, ada yang kita lewatin nih?" Timpal Rila.


Bang Ar dan Ayra hanya tersenyum menimpali keduanya.


"Bang Ar ini punya perkebunan teh juga disana, trus ada rumah penginapan gitu." Jelas Ayra.


"Oh jadi waktu kemaren lu diajak sama bang Ar tu, ketempat itu?" Tanya Rila dan dijawab anggukan oleh Ayra.


Ayra memang menceritakan tentang weekend nya bareng bang Ar pada sahabat-sahabatnya itu. Namun tak menceritakn pergi kemananya.


"Ebuseet ternyata bang Ar juragan perkebunan yaa?" celetuk Feby.


"Lah terus napa bang, milih kerja bareng kita? Padahal mah ya ngelola perkebunan aja!" Tanya Rio heran.


"Biar deket pacar mungkin." Celetuk Ayra acuh.


Bang Ar tersenyum. "Kamu tu ya. Mana ada kek gitu." ucap bang Ar mengusek rambut Ayra gemas.


"Ya itu buktinya!" Jawab Ayra.


"Waktu pertama kerja disana, abang belom kenal. Mana tau bakal jadian." Elak bang Ar.


"Udah dong jan cemburu, sekarang kan abang disini punya kamu!" Rayunya dengan merangkul bahu Ayra. Dikecupnya pucuk kepala gadisnya itu.


"Hadeeeuhhh... Kalo gini terus bisa mati muda gue." Celetuk Feby.

__ADS_1


"Makanya Feb, cari pacar gih!" Titah Agel.


"Lu pikir cari pacar gampang?" Sinis Feby.


"Lu sih ngeyel. Padahal mah ya lu jadian aja sama si Rio." Timpal Rila.


"Ogah!" Jawab kompak kedua jomblo itu.


"Ogah-ogah tar kalo jodoh baru tau rasa lu pada." Timpal Juna.


"Udah-udah sekarang dah malem, sebaiknya kita pulang. Siap-siap buat besok!" Lerai bang Ar.


"Kita naik motor kesana?" Tanya Agel.


"Ya iyalah. Masa mo naik angkot?" Timpal Feby.


"Trus gimana sama pakaian ganti kita? Kalo bawa motor kan ribet?" Tanya Agel lagi.


"Ya udah, kalean pada bawa motor tar abang bawa mobil. Jadi tas kalean masukin mobil. Gimana?" Tanya bang Ar.


"Setuju!"


"Oke.."


"Siiippp.."


Semua sudah disepakati, mereka bersiap menaiki motor masing-masing dan berlalu pulang.


.


"Makasih ya bang untuk hari ini!" Ucap Ayra Setelah membuka helmnya. Tersungging senyumnya begitu manis.


Bang Ar membuka helmnya dan turun dari motor.


"Iya.. Abang juga makasih. kamu mengizinkan abang untuk jadi bagian terpenting dalam hidupmu. Abang gak bisa janjiin apa-apa, tapi abang akan berusaha jaga kamu, membahagiakan kamu." Tutur bang Ar dengan menggenggam tangannya.


Ayra tersipu mendengar penuturan bang Ar.


"Udah malam masuk gih. Abang gak kan mampir takut ganggu orang rumah. Abang jemput besok yah!"


"Iya. Abang hati-hati ya!" pesan Ayra namun enggan melepas tangannya.


"Iya. Selamat malam sayang. Mimpi indah!" Ucap bang Ar tangannya terulur mengusap kepala Ayra dan memberi kecupan dipucuk kepalanya.


Blush


Ayra sampe menggigit biwir bawahnya mendengar panggilan barunya.


"Iya. Abang juga!" Jawabnya malu-malu.


Bang Ar pun berlalu meninggalkan halaman rumah Ayra. Ayra terus menatap kepergian bang Ar bersama kuda besinya.


"Mencintaimu adalah takdir. Dan kamu takdir yang tak dapat kuhindari"

__ADS_1


__ADS_2