
Mobil pun sampai ditempat tujuan. Para kuda besi sudah nyampe terlebih dahulu.
Bang Ar membuka pintu mobil dan memutari mobilnya untuk membukakan pintu sang kekasih.
"Setdah yang pacaran mah, belok dulu kali ya?" Sindir Feby saat keduanya menghampiri mereka.
"Udah lu gak usah tau, tar pengen lagi." Timpal Ayra yang disambut gelak tawa semuanya.
"Itu barang-barangnya pada ambil gih." Titah bang Ar. Dirinya sudah membawa barang miliknya dan barang sang kekasih.
Juna dan Devan mengambil barang-barangnya dan barang kekasihnya. Rio pun mengambil barang nya. Ketika baru saja berbalik Feby meneriakinya.
"Yo, sekalian punya gue ya!" Titahnya berteriak, karena dirinya sudah berlalu dengan para cewek yang lainnya.
Rio berdecak kesal, namun tak ayal juga Ia ambil.
.
.
Para cewek sudah masuk terlebih dahulu disambut oleh Mang Asep, penjaga rumah itu.
Mereka merebahkan diri di sofa menunggu para cowok yang masih didepan.
"Neng-neng geulis teh pada mau minum apa?" Tanya mang Asep.
"Apa aja deh mang yang seger." Jawab Ayra dan di iyakan mang Asep.
Setelah kepergian mang Asep ke dapur, para cowok pun datang.
"Disini tuh cuma ada 3 kamar, jadi cowok sekamar, cewek sekamar aja. Gimana?" Tanya bang Ar.
"Ya deh gapapa. Tapi kalo ngecamp diluar juga kek nya enak yaa?" Timpal Agel.
"Untuk malam ini kita dikamar aja dulu, biar nyaman istirahatnya." Ucap bang Ar.
"Bener tuh, gue cape banget pen tidur." Timpal Feby.
"Cape dari hongkong, orang gue yang nyetir juga." Protes Rio.
__ADS_1
"Ya tetep aja cape, pegel gue. Kuy lah tidur!" Ajaknya pada para cewek.
"Nih barang lu. Nyusahin aja!" Rio melempar tas Feby dengan sigap ditangkapnya. Untung repleknya bagus.
"Lu tu yang ikhlas napa?" Protes Feby. Rio hanya menyedikkan bahunya seraya duduk.
Para cowok pun ikut duduk disana.
"Ay.. Kamu cape?" Tanya bang Ar penuh perhatian mengelus rambut Ayra. Dan dijawab anggukan oleh Ayra.
Semua tersenyum melihat pasangan baru ini.
"Mata suci gue bisa ternodai lagi ini. Gue ke kamar duluan lah." Ucap Feby da berlalu pergi. Disusul oleh Rio. Tapi ke kamar berbeda.
Semua orang terkekeh melihat kedua jomblo yang gak pengen disatuin itu.
"Eh padahal ya, menurut gue tu duo jomblo saling suka deh." Ucap Rila.
"Iya. Tapi gengsi." Balas Agel.
"Kek nya masih enggan ganti sever tuh." Timpal Ayra cekikikan.
"Iya. Udah gak usah mikirin mereka." Timpal Devan dan nerobos duduk ke samping Rila. "Mening kita mojok yuk yang!" Ajaknya merangkul bahu sang pacar.
"Lu tu ya ingetnya pacaran mulu." Timpal Ayra.
"Time is Havefun. Kapan lagi coba punya banyak waktu sama orang yang kita sayang kek gini?" Tanyanya dengan memeluk erat sang kekasih dari samping.
"Yuk ah kita jalan-jaln dulu berdua." Lanjutnya seraya berdiri membawa kekasihnya keluar.
"Kita juga jalan-jalan yuk! Liat yang ijo-ijo pasti seger!" Ajak Agel dengan bergelayut manja ditangan sang pacar.
"Hayuuk!" Juna pun ikut berlalu menyusul sepasang kekasih yang entah sudah dimana.
Tinggal lah Ayra dan bang Ar berdua.
"Kamu juga mau jalan-jalan Ay?" Tanya bang Ar.
Ayra malah menyenderkan kepalanya didada sang kekasih. Dan dibalas elusan dirambut oleh bang Ar
__ADS_1
"Gak lah bang, aku ngantuk. Apa mungkin mabok mobil ya?" Ucap Ayra membuat bang Ar tertawa kecil.
"Mana mungkin sii mabok. Udah kamu tidur aja." Titah bang Ar dengan terus mengelus rambut Ayra.
"Kek gini aja yaa bang, nyaman!" Timpal Ayra dan di iyakan bang Ar.
Baru saja Ayra akan terlelap, tiba-tiba Hp bang ar berbunyi. Sekali, tak dihiraukan bang Ar. Dua kali, masih di acuhkan. Tiga kali Ayra bangkit dari dekapan bang Ar.
"Angaktlah bang berisik. Takut penting juga!" Titah Ayra.
Bang Ar mengambil ponselnya dari dalam tasnya. Dilihatnya si penelepon. Ia melirik ke arah Ayra membuat Ayra mengerenyitkan alisnya, seolah bertanya siapa?
Bang Ar memperlihatkan layar Hp nya ke arah Ayra. Terlihatlah nama sang mantan disana.
"Angkat aja bang, siapa tau penting!" Titahnya, walaupun tak dipungkiri ada rasa cemburu dihatinya. Terlihat dari ekspresinya, tak ada izin buat bang Ar mengangkat panggilannya.
Diusapnya ikon merah itu dan dimatikan.
Bang Ar meraih dagu Ayra membuat Ayra bingung.
"Abang gakan angkat panggilan dari siapapun tanpa izin darimu." Tutur bang Ar.
"Tapi kan aku izinin." Elaknya.
"Tapi hati kamu nggak." Balas bang Ar.
Ayra terdiam menundukkan wajahnya, egoiskah dirinya? Bang Ar menangkup kedua pipi Ayra mengarahkannya bersitatap dengan matanya.
"Kamu berhak melarang abang. Karena abang milik kamu." Tutur bang Ar, seolah tau kegundahan Ayra.
Ayra merasa terharu ternyata bang Ar begitu pengertian, tanpa Ia harus mengungkapkan bang Ar sudah paham terlebih dahulu.
Ia sampai menggit bibir bawahnya membuat bang Ar tidak fokus. Ditatapnya bibir yang akan menjadi candunya.
Tanpa babibu bang Ar langsung menyambar bibir Ayra, meraupnya menyecap, menyesap manisnya bibir yang selalu membuatnya merasakam sensasi berbeda. Satu tangannya Ia masukan kesela-sela rambut Ayra.Diusapnya tenguk Ayra, membut si empunya meremang merasakan sensasi luar biasa. Bang Ar semakin menahan tengkuknya, memperdalam ciumannya, hingga mereka sama-sama kehabisan oksigen. Barulah pagutan mereka terlepas.
Diusapnya bekas salivanya dibibir Ayra dengan ibu jarinya. "Gak ada yang mesti kamu takutkan! Karena sekarang, esok, bahkan selamanya abang hanya milik kamu!" Tuturnya.
*************
__ADS_1
*Kuy kencengin vote nya, like dan komennya juga. Kasih hadiah mak othornya boleh tuh😊