
Ditengah hamparan hijau dengan berselimutkan kabut tebal yang menyejukkan sampai menusuk tulang. Sepasang manusia tengah melakukan gerakan-gerakan kecil. Sebuah gerakan pemanasan ditengah-tengah joggingnya.
"Bang buat apa sih harus ngelakuin pemanasan?" Tanya Ayra ketika merentang-retangakan tangannya.
"Ini nih akibatnya suka bolos waktu sekolah. Pertanyaan itu buat anak SD." Ejek bang Ar.
"Isshh bukan gitu, aku tuh suka olahraga. Cuma suka kurang fokus!"
"Kenapa emang?"
"Gurunya terlalu ganteng sih!" Timpal Ayra tergelak membuat bang Ar tersenyum.
"Katanya setia? Gak pernah berpaling? Liat guru bening aja oleng." Goda bang Ar.
Ayra semakin tergelak. "Sebenarnya bukan itu sih. Aku emang suka olahraga, tapi gak suka gurunya. Bukannya diajari, eh akunya ditatap mulu. Jadi males! Kalo bagian olahraga kita kaboor deh!"
"Dasar nakal!"Ucap bang Ar menarik hidungnya. Membuat keduanya semakin tergelak.
"Pemanasan itu fungsinya menghindari kita biar gak cedera." Timpal bang Ar.
"Harus ya bang?" Tanya Ayra.
"Ya harus dong. Kita aja bikin part pemanasan dulu kan? Biar otot-ototnya rilex." Timpal bang Ar.
"Tapi pemanasan bikin part, abang jadi gak rilex malah tegang." Protes Ayra.
"Abang rilex, yang tegang si pisang." Timpal bang Ar membuat sang istri kembali tergelak.
"Gerakkan ini fungsinya buat apa bang?" Tanya Ayra menengokkan wajanya kesamping.
"Buat kamu biar terus lihat abang ada disamping kamu!" Timpal bang Ar kembali membuat mereka tergelak.
Disaat keduanya tengah menggerak-gerakkan badan. Datang seorang gadis menghampiri keduanya.
"Hay kakak!" Sapanya dengan wajah dibuat seimut mungkin, menampilkan senyuman manisnya.
"Kamu?" Ayra berfikir sejenak.
Sejujurnya Ayra susah untuk mengenali wajah seseorang yang baru sekali bertemu dengannya. Entah penyakit apa itu. Yang jelas perlu dua kali bertemu untuk mengenalinya atau memberi clue tentangnya.
"Aku Siska kak? Yang waktu itu, masa lupa?" Tanya sang gadis.
"Itu yang, di kang bubur itu." Timpal bang Ar.
"Oh iya, aku inget. Emang wajahnya yang ini ya?" Pertanyaan Ayra sukses membuat gadis didepannya melongo, bahkan bang Ar kembali tergelak.
"Kamu tu ya! Pelupa banget. Belum juga kita punya anak yang." Timpal bang Ar mengusek pucuk kepala sang istri gemas.
"Isshh aku emang gitu bang. Suka lupa sama wajah orang." Timpal Ayra.
"Kok bisa gitu?"
"Karena yang aku inget cuma wajah abang seorang." Timpalnya membuat keduanya tergelak namun tidak dengan gadis didepannya.
"Hadeeh...kalian emang bucin bener. Gak bisa terobati kayanya." Timpal Siska geleng-geleng kepala.
__ADS_1
"Oh iya. Kamu ngapain disini? Ini waktunya berangkat sekolah?" Tanya Ayra.
"Aku lagi bolos. Malas aku pelajaran matematika." Timpalnya.
"Gak boleh gitu. Kamu harus sekolah yang bener jangan kaya." Bang Ar tak meneruskan ucapannya hanya melirik sang istri.
"Apa? Kaya aku? Aku biar suka bolos, tetep pintar. Apalagi sekolah, auto ngundurin diri semua tuh guru." Timpalnya membuat bang Ar kembali tergelak.
"Kamu tuh harus suka matematika." Lanjutnya.
"Kenapa emang?" Tanya Siska.
"Agar bisa memperhitungkan masa depanmu!" Timpalnya membuat Siska ikut tertawa.
"Oh iya. Kakak berdua aja? Yang lainnya kemana?" Tanyanya.
"Gak ikut. Ini kita khusus berdua." Timpal Ayra. Membuat Siska mengerenyitkan dahinya heran.
"Ngapain berdua aja?"
"Ngamer bikin part baru!" Jawab keduanya kompak dan tergelak. Membuat Siska menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Gak ngarti aku?" Tanyanya.
"Jangan dipikirin! Otak kamu belom nyampe. Yang jelas kita lagi ada kerjaan disini." Timpal Ayra.
"Ohh.. Terus kalian tinggal berdua dong?" Tanyanya dan dijawab anggukam Ayra.
"Serumah?" Tanyanya lagi dan dijawab anggukan lagi oleh Ayra.
"Berdua, serumah, sekamar, seselimut pula!" Timpal Ayra membuat Siska melongo.
"Yah! Patah hati aku. Ditinggal nikah." Ucap Siska dramatis membuat keduanya tergelak.
"Kamu tuh masih kecil, jangan mikirin pacaran mulu! Belajar yang bener! Kejar cita-cita kamu dulu!" Tutur bang Ar menasehati.
Bang Ar melirik sang istri yang tak menimpalinya. Terlihat ada raut aneh diwajahnya. "Kenapa yang?" Tanya bang Ar.
"Ah! Nggak. Aku laper bang, cari sarapan yuk!" Ajak Ayra. Mengalihkan perhatian.
Bang Ar yang melihat gelagat aneh dari sang istri, mengeratkan rangkulannya dan menautkan sebelah alisnya. Membuat Ayra mendongak melihat wajah sang suami.
"Apa? Ayo cepet aku udah laper!" Ajak Ayra memeluk tubuhnya seraya menyeretnya. Akhirnya bang Ar pasrah mengikuti isrtinya bergerak.
"Eehh..kak aku ikut dong!" Siska mengikuti keduanya dari belakang.
Keduanya terus berjalan bertautan tangan menuju alun-alun desa.
"Eeehh kalian mau kemana? Ke alun-alun yah?" Tanya Siska menghentikan langkah keduanya.
"Iya. Kenapa?" Tanya Ayra.
"Aku gak jadi ikut deh. Tar ketemu emak aku lagi. Auto disuruh nyuci seabreug aku." Timpalnya membuat mereka tergelak.
Belum sempet mereka pergi seseorang menghampiri mereka.
__ADS_1
"A Ardi?" Sapanya dengan suara serak dan mata sembab, bahkan lingkaran dimatanya begitu nyata terlihat. Jangan lupakan penampilannya yang suka menor, berubah seratus delapan puluh derajat menjadi acakadul, angkurawut.
"Teh Euis kenapa?" Tanya Siska melongo, begitupun sepasang manusia disisinya.
"A Ardi tega banget sama Euis. Kenapa aa tinggalin Euis nikah?" Tanyanya dengan isak tangis dibibirnya.
"Maaf mbak Euis! Masa aku harus nungguin mba Euis dulu punya pasangan baru aku nikah. Kasihan lah ini, gadis aku dianggurin!" Bukan menjawab serius bang Ar menanggapinya dengan candaan. Membuat Euis makin kejer nangis.
Ayra dan Siska sudah cekikikan mendengar tanggapan bang Ar.
"A Ardi jahat! Kenapa gak pilih Euis? Kenapa pilih cewek itu?" Tanya Euis menunjuk Ayra.
"Aduh teh Euis. Ya iya atuh si aa pilih kakak Ay, dia masih muda, cantik lagi. Teteh kan udah tua, gak cantik juga!" Timpal Siska dengan pedasnya, membuat Euis semakin nangis histeris.
"Udah Sis, kamu tu kalo ngomong ya. Suka bener." Timpal Ayra membuat mereka kembali tergelak.
"Pokokknya ya a! Aa harus nikahin aku!" Titah Euis.
"Kenapa harus nikahin mbak?" Tanya bang Ar heran.
"Karena aa udah ngambil hati aku." Jawabnya.
"Gak kok. Aku gak pernah ngambil hati mbak. Aku cuma bisa ngambil hati istri aku aja!" Timpal bang Ar.
"Pokoknya nikahin aku! Jadi istri kedua juga boleh." Timpalnya membuat mereka tercengang.
"Teh Euis ini paan sih. Malu-maluin tau gak? Udah janda minta dijadiin yang kedua lagi. Gak punya kaca apa dirumah?" Timpal Siska.
"Diem kamu anak kecil!" Timpal Euis membuat Siska mencebikkan bibirnya.
"Mbak beneran mau jadi yang kedua?" Tanya Ayra dan dijawab anggukan oleh Euis.
"Ya udah yuk ikut aku!" Ajaknya.
"Kemana?"
"Kerumah pak Ustadz Barok!"
"Ngapain? Beneran mau dinikahin?" Tanya Euis girang.
"Nggak!"
"Terus?" Bukan hanya Euis yang heran, namun Siska dan bang Ar ikut keheranan.
"Mau aku ruqiyyah!"
*****************
Ayra dilawan🤣🤣🤣
Jejaknya jangan lupa! Sayang kaleaannn😘😘
Ini kang bucin abis😂
__ADS_1
Ini kang ruqiyah dadakan😂