
Hari ini adalah hari terakhir mereka liburan. Mereka memutuskan untuk pulang sore nanti. Rencananya hari ini bang Ar akan mengajak teman-temannya itu ke sebuah Greenhouse diperkebunan.
Bang Ar akan melihat langsung proses uji coba tanam berbagai produk tanaman yang tengah Perusahaan Ayahnya kembangkan.
Mereka memilih berjalan kaki karena memang tempatnya tidak terlalu jauh, hanya melewati perkebunan teh saja.
"Apa bang Ar punya sawah juga?" Tanya Feby saat mereka tengah berjalan beriringan.
"Emm..kata Ayah sii ada. Tapi gak tau yang mana." Jawab bang Ar.
"Berarti bang Ar ini sultan tanah ya!" Celetuk Rila yang disambut gelak tawa mereka.
"Gak juga. Hanya ada beberapa." Balas bang Ar merendah. Walaupun kenyataannya sawah dan perkebunannya banyak.
"Nah Ay! Lu tenang aja. Nikah sama bang Ar lu gak bakalan susah. Leuga tanahnya." Celetuk Feby membuat mereka kembali riuh.
"Gue mah ya, biar bang Ar gak punya apa-apa juga. siap!" Timpal Ayra dengan percaya diri.
"Njirr... Siap cenah bang. Kode itu!" Timpal Agel membuat mereka semakin gencar menggoda pasangan ini.
"A Ardii...!"
Teriakan seseorang membuat mereka menghentikan langkahnya. Dengan kompak mereka menoleh ke asal suara.
Seorang wanita dewasa dengan gaya menor, pakaian yang sexy, ala tante-tante girang, menghampiri mereka.
Mereka mengerenyit heran. Ada ya dipedesan modelan kek gini?
"A Ardi!" Sapanya dan menyerobot ketengah bang Ar dan Ayra yang tengah bergandengan. Membuat Ayra hampir terjengkang namun ditahan Feby.
"Aa kok kesini gak bilang-bilang Euis sih. Euis kan bisa maen kerumah aa?" Rengeknya manja. Terdengar geli ditelinga mereka.
Euis ini adik dari mang Asep, seorang janda yang terkenal centilnya. Karena bang Ar dan orangtuanya sering kesana, jadi tiap kali bang Ar berkunjung si Euis suka caper sama bang Ar.
__ADS_1
Bang Ar yang melihat Ayra hampir terjatuh, segera menghampirinya dan tak menghiraukan wanita itu.
"Kamu gak papa?" Tanyanya memegang kedua bahu Ayra dan hanya dijawab gelengan kepala olehnya.
"Ihh.. aa Euis disini loh! Kok gak diperhatiin sih?" Tanyanya dengan nada merajuk. Membuat yang laen geleng-geleng kepala melihat tingkah tante-tante ini.
"Maaf ya mba Euis. Kalo gak ada kepentingan lebih baik mba Euis pulang!" Usir bang Ar dengan halus.
"Tapi kan Euis kesini mau nemuin aa." Euis sampai bergelayut manja ditangan bang Ar.
Bang Ar segera melepas tangannya dari rangkulan Euis.
"Maaf ya mba, boleh saja mau nemuin saya. Tapi jangan kaya gini. Mba juga tadi hampir saja membuat calon istri saya terjatuh." Tutur bang Ar dengan merangkul Ayra.
Semua temen-temennya melipat bibir, menahan tawanya.
"Calon istri?" Tanyanya shok. Pasalnya setiap berkunjung bang Ar baru kali ini membawa seorang gadis bahkan dengan teman-temannya sekalian.
"Apa kamu bilang? Tante? Saya bukan tante-tante ya. Orang masih cantik kek gini juga." Protes Euis.
"Masih cantik ya tante? Berarti gak cantik dong!" Timpal Rila.
"Isshh kamu tu anak kecil. Buka tuh kacamata kamu gak lihat apa, saya secantik ini." Protesnya lagi.
"Iya. Kami memang masih kecil, cantik, unyu-unyu, gemesin. Beda lah sama mbanya yang udah tante-tante." Timpal Feby. membuat Euis semakin geram.
"Kalian yah?" Geramnya menunujuk ketiga gadis itu.
"Aa liat deh." Euis berbalik ingin meminta pembelaan dari bang Ar. Namun saat berbalik. "Loh A Ardi kemana?" Tanyanya melihat bang Ar yang sudah tidak ada ditemptnya.
Mereka tergelak melihat tante-tante itu merajuk, menghentakkan kakinya. Bener-bener seperti anak abege.
**
__ADS_1
"Udah bang udah, aku cape!" Ucap Ayra ngos-ngosan.
Mereka berdua berlalu begitu saja meninggalkan tempat itu, saat mba Euis tengah berdebat dengan ketiga gadis itu. Bahkan bang Ar menggenggam tangannya dan membawanya lari.
"Ya udah kita istirahat dulu disitu." Tunjuknya pada sebuah bangku panjang dibawah pohon.
Keduanya duduk disana mengambil nafas banyak-banyak.
Ayra sampai mengikat rambutnya, dicepolnya rambut hitam nan bergelombng itu asal-asalan. Hingga menampakan leher jenjang putih miliknya.
Bang Ar begitu terpana melihatnya. Ia pandangi dalam-dalam wajah yang begitu cantik dengan kucuran keringat didahinya, bibir tebal nan ranum yang tengah meniup udara dengan tangan yang terus mengibas wajahnya, dan leher jenjang yang putih seakan memintanya untuk ditandai.
'Ya Tuhan. Kuatkan aku! Ini bener-bener gila.' batinnya. Bang Ar menutup matanya, menarik nafasnya dalam-dalam. Ia terus berusaha mengontrol dirinya sendiri.
Ayra yang melihat bang Ar menunduk dan menutup matanya merasa heran.
"Kenapa bang?" Tanyanya dengan memegang bahu bang Ar.
Bang Ar pun terlonjak kaget. "Eh. Gak! Gak papa." Jawabnya gugup.
Ayra mengerenyitkan dahinya heran.
"Gak sayang. Abang cuma cape." Jawabnya tersenyum seraya mengusap keringat didahi gadis pujaannya.
Ayra ikut tersenyum dan mengusap juga keringat didahi bang Ar.
Keduanya terus menyunggingkan senyum, merasakan kebahagiaan yang tengah menyelimuti hati keduanya.
"Saat aku dan kamu jatuh cinta. Saat itulah akau bahagia."
***********
*Ayo kencengin vote, like dan komennya😊 kasih kopi lah biar bisa gadang😂
__ADS_1