Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 86


__ADS_3

Bang Ar tak habis pikir dengan tingkah istrinya ini. Sudah lima kali Ia disuruh mandi dipagi ini. Waktu baru menunjukkan jam sembilan, namun kulitnya sudah hampir mengeriput karena berulang kali disuruh untuk mandi.


Dengan alasan dirinya yang bau, membuat bang Ar menghabiskan satu botol sabun dipagi ini. Bahkan parfumnya hampir tandas Ia pakai. Hingga kamarnya begitu menyengat dengan aroma maskulin miliknya.


"Udah yang ini udah wangi. Nih kamu cium!" Bang Ar mengasongkan ketiaknya ke wajah sang istri.


"Iya! Iya udah wangi." Timpalnya namun menyingkir dari tubuh suaminya.


"Kamu tu kenapa sih aneh banget?" Tanya bang Ar heran.


"Gak papa. Tadi tu abang bau, abis dari kebun. Terus dilihatin lagi sama mbak Euis, tambah gatal kan?" Timpalnya.


"Iya. Tapi kan sebelum ke kebun kamu juga nyuruh abang mandi ampe tiga kali. Aneh kan?" Tanyanya lagi.


"Gak aneh. Emang abang bau!" Timpalnya dengan wajah tanpa dosa.


"Kamu tu yah?" Bang Ar menggelitiki perut Ayra, sampai Ia tergelak dan terjatuh diatas kasur.


"Abang gak bau ya, nih! nih! Kamu cium!" Bang Ar terus menggelitiknya gemas sampai mengapit kepalanya dengan ketiaknya.


"Ahhh udah bang! Udah!"


"Ampun gak? Ampum gak?"


"Iya. ya abang ampun!"


Bang Ar menghentikan aksinya, Ayra sampai pasrah kelelahan. Namun tanpa diduga, Ayra justru menyerang balik bang Ar, menindihnya dan menggelitiknya. Membuat keduanya tergelak.


Bang Ar menghentikan tangan sang istri dengan mencekalnya. Ia balikan tubuh sang istri dan Ia berposisi diatasnya. Membuat Ayra menjerit kaget. Saat mata keduanya terkunci, dan bang Ar yang siap menyerang bibir ranum yang menggoda itu. Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar.


Brakkk!!!!


"Ar!! Mantu Ibu kenapa?"


Keduanya menoleh dan melongo melihat Ibu yang menganga diambang pintu.


"Maaf! Ibu kira kenapa?" Tanpa kata lagi Ibu buru-buru kembali menutup pintu dengan keras membuat keduanya terkesiap.


"Itu Ibu?"


"Iya!"


"Ahhh! Malu.." Rengek Ayra menarik tubuh bang Ar menyembunyikan wajahnya didada sang suami. Rasanya memalukan bisa tercyduk sang mertua.


"Udah gak usah malu. Udah sering juga tercyduk sama ibu!" Timpal bang Ar.


"Hah? Kapan?" Ayra sampai mendongak memastikan.


"Waktu disini pagi itu, terus waktu mau minum obat itu, dan sekarang!" Timpal bang Ar santai.


"Ihhh... Abang malu!" Rengek Ayra kembali menubrukan kepalanya didada sang suami dan menguseuk-useknya membuat sang suami tergelak.


"Udah gak papa. Udah halal juga. Lagian gak sengaja." Ucap bang Ar mengusap rambutnya.


"Yuk keluar! Pasti semua dah pada ngumpul tuh!" Ajaknya.

__ADS_1


Bang Ar turun dari tubuh sang istri dan mengangkat tubuhnya, menggandeng tangannya dan berjalan keluar kamar.


Ternyata benar saja semua sahabatnya sudah berkumpul diruang tv. Ayah dan Papih yang lagi ngopi diteras depan. Mamih dan Ibu yang ikut berkutat didapur. Entah mungkin karena saking asyiknya keduanya bercanda, sampai tak menyadari kedatangan mereka. Godaan dan ledekkan sudah siap mereka layangkan.


"Hadeuhh manten baru, gak ada skip ya?" Feby memulai ledekannya.


"Los doloss!" Timpal Rio.


"Sampe jam segini, udah berapa ronde itu?" Tanya Juna.


"Masih bisa jalan neng?" Goda Agel.


"Gempur abis bang!" Timpal Devan.


"Udah jadi belom?" Tanya Rila.


Bang Ar dan Ayra tergelak mendengar ledekan-ledekan mereka. Ini yang keduanya kangenin dari mereka. Celotehan-celotehan mereka yang selalu bikin mood booster.


"Kangen kaleaaannn!!!" Ayra berhambur kearah tiga sahabatnya yang sudah berdiri siap menyambutnya.


Aksi peluk-pelukan pun tak dapat dihindari. Meluapkan rindu yang lama mereka pendam. Tak pernah terpikir sebelumnya oleh mereka akan mengalami rindu dan pertemuan seperti ini.


"Kaleann apa kabar?" Tanya Ayra dengan mata berkaca-kaca.


"Baik! Lu sendiri gimana?" Tanya Rila.


"Seperti yang lu lihat, dengan cinta gue. Gue selalu baik!" Pernyataan Ayra membuat mereka tergelak.


"Dasar bucin! So puitis lu!" Ledek Feby.


"Uhhh!!" Semua bersorak sorai dengan tingkah manten ini.


"Gimana, gimana udah ada kabar baik?" Tanya Agel.


"Kabar baik apa?"


"Ini udah isi belom?" Tanya Rila mengusap perut rata Ayra. "Buruan dong! Biar gue ada temennya!" Timpalnya mengusap perut buncitnya.


"Lu semua doain aja, moga cepet isi!"


"Iya. Kita doain moga cepet isi! Cepet ngidam kaya si Ril!" Agel ikut mengusap perut Ayra dan tergelak.


"Emang kenapa dia?" Tanya Ayra menunjuk Rila.


"Masa ya ngidam pengen borong tas branded di aplikasi online, kan aneh?" Timpal Feby ikut tergelak.


Rila hanya mencebikkan bibirnya. "Itu tu keinginan baby gue tau!" sangkalnya.


"Masa? Emaknya kali?" Goda Agel membuat mereka semakin tergelak.


Berbeda dengan para cewek dengan ghibahannya. Para cowok memilih ke ruang kerja, untuk membahas pemasaran mereka.


"Eh mana pesenan gue?" Tanya Ayra.


"Gak ada. Bi Eem beneran tutup!" Timpal Feby.

__ADS_1


"Yah! Padahal gue pengen banget!" Timpla Ayra mengerucutkan bibirnya.


"Wah jangan-jangan lu juga ngidam?" Tebak Rila.


"Masa sih?" Tanya Ayra tak percaya.


"Itu, kenapa lu pengen banget?" Tanya Agel.


"Gak tau. Pengen aja!" Timpalnya.


"Itu berarti bener lu ngidam!" Timpal Feby.


"Gue gak mau nyimpulin dulu. Kemaren aja gue udah nyimpulin hamil, eh malah bocor! Jadi gue nikamatin aja. Jalani aja."


"Ya udah yang penting lu sehat!" Timpal Agel.


"Ya udah, yuk kita juga kedapur. Malu tuh sama mertua lu!" Ajak Rila.


Mereka pun berlenggang masuk dapur. Dan disambut jeritan heboh oleh Siska yang bertemu kembali dengan Feby. Dulu pas pertama bertemu, Siska memang hanya banyak ngobrol sama Feby. Jadi sekarang ketika kembali dipertemukan keduanya seperti sudah satu server.


"Gue kira dulu lu tuh cabe-cabean tau gak? Eh gak nyangka lu bisa jadi adek buat Ayra. Padahal ya, Ayra paling gak suka kalo bahas adek, tapi sama lu kayanya udah satu server." Tutur Feby.


"Iya. Sama kek kak Feby juga. One server!" Timpal Siska membuat keduanya tergelak.


Para emak-emak disana hanya geleng-geleng kepala melihat mereka.


"Bu Titin, makasih ya udah jagain anak dan mantu saya selama disini!" Ucap Mamih Asti.


"Iya bu. Sama-sama, saya seneng bisa membantu dan menemani neng Ay disini. Dia itu udah kaya putri saya sendiri." Timpal bu Titin.


"Bu Titin kalo ada apa-apa jangan sungkan-sungkan ya bilang sama saya. Sekarang kita keluarga!" Timpal Ibu Anita.


"Iya bu. Makasih banyak. Ibu sudah banyak membantu saya. Dan mau menerima saya dan puti saya. Saya senang sekali bisa jadi bagian keluarga disini." Timpal bu Titin dengan berkaca-kaca.


Mereka pun saling merangkul dan tersenyum bahagia. Bang Ar dan ketiga cowok menghampiri mereka.


"Gimana? Udah siap?" Tanya bang Ar.


"Udah bang. Siapin tempatnya dihalaman ya bang!" Titah Ayra.


Bukan menjawab bang Ar malah berlari kearah wasthaple.


Uhweekkkkk!!!!!!!


***************


Mari-mari yuk! Tinggalkan jejakmu readerss😊


Kasih like dan komennya, vote dan bunga-bunganya juga yaa😉



Ongkek napa cenah bang🤣


__ADS_1


Neng Ay yang aneh cenah🤣


__ADS_2