Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 108


__ADS_3

Oakkk!!! Oakkk!!


Tangis bayi membangunkan sang Papa yang baru saja terlelap. Saking lelahnya sang Mama sama sekali tak terusik. Bang Ar yang beberapa hari ini sudah belajar menjadi Papa siaga, tentu dengan sigap bangun dan mengambil putranya dari baby box dan membawanya keatas kasur. Bahkan Ia tak ragu saat mengambilnya. Dengan hati-hati Ia tidurkan diatas kasur, hingga tangisnya pun berhenti.


"Sayangnya Papa kenapa?" Tanya bang Ar. Memainkan tangan putranya yang tak mau dibedong itu.


Mata kecilnya mengerejap lucu membuat bang Ar begitu gemas. "Kenapa gak bobo? Ini tengah malam. Bobo lagi ya sayang!" Ia ciumi tangan mungilnya.


Ternyata putranya ini mengajak untuk gadang. Karena nyatanya popoknya masih kering, udah mimi juga. Namun matanya tak mau tertutup lagi.


Karena tak mau juga tidur, akhirnya bang Ar membiarkan putranya tidur bersama keduanya diatas kasur. Bang Ar berusaha menemaninya, namun matanya sudah tak sanggup untuk terbuka lagi.


Akhirnya Ia tidur, begitupun baby nya yang sudah memejamkan mata.


**


Pagi pun menyapa, matahari sudah naik lebih tinggi. Ayra mencoba membangunkan sang suami dari tidurnya, namun sangat sulit.


"Bang bangun udah siang!" Ayra mengguncang bahunya pelan. Ia bergeliyat dan menarik lengan sang istri hingga menubruk dadanya.


"Jangan kek gini bang. Inget lagi puasa!" Peringat sang istri. Namum bang Ar malah mendekapnya.


"Berapa hari lagi?" Tanyanya yang akan menenggelamkan wajahnya diceruk sang istri.


Ayra berusaha menghindar. "Isshh abang masih lama lah. Baru juga lima belas hari."


"Emang berapa hari?" Tanya bang Ar menatap wajah sang istri.


"Emm empat puluh hari." Timpal Ayra santai. Namun sukses membuat sang suami menganga.


"Kamu serius?" Tanya bang Ar kaget dan dijawab anggukan olehnya.


Bang Ar memejamkan matanya sejenak, Ia pegang tangan sang istri dan membawanya kebawah untuk meraba si pisang yang sudah turn on. "Ini gimana nasib si pisang?" Tanyanya membuat Ayra terkekeh.


Ayra mengusap benda kesayangannya itu lembut membuat bang Ar kembali memejamkan matanya menikmati sensasi yang sudah lama tak Ia rasakan. "Sabar ya! Nonanya masih luka!" Kekeh Ayra.


Ia keluarkan tangannya dari sana, membuat bang Ar membuka matanya. Ia yang tau kegundahan sang suami, menangkup wajahnya dan mengecup sekilas bibir manis suaminya.

__ADS_1


"Sabar ya bang! Kalo gak kuat solo aja!" Tutur Ayra dan tergelak.


Bang Ar memberenggut dan berdecak kesal mendengar penuturan sang istri.


"Udah bang lepasin akunya! Itu baby Shaka nya belum aku bangunin buat mimi." Tuturnya. Bang Ar yang baru tersadar bangun dari tidurnya, hingga hampir saja membuat Ayra terjengkang.


"Astagfirulloh!"


"Sayangnya Papa?" Bang Ar celingukan mencari sang putra yang tadi malam tidur disampingnya. Dan sekarang baby nya tak ada, membuatnya kelimpungan.


Ayra tersenyum melihat tingkah suaminya. "Udah bang jangan dicariin Tuh dedenya lagi bobo dalam box!" Timpal Ayra. Membuat bang Ar menghela nafasnya lega. Pasalnya Ia benar-benar melupakan hal itu.


"Huh syukurlah! Kamu gak papa?" Tanya bang Ar memegang bahunya. "Maaf ya, tadi abang reflek!" Sesalnya.


Ayra kembali tersenyum. "Gak papa!" Jawabnya mengelus tangan sang suami dipundaknya dan berdiri.


"Katanya hari ini mau masuk kantor, cepetan mandi gih!" Titahnya sembari berjalan mendekati baby box putranya.


Bang Ar bangun dan mengikuti istrinya. Ia peluk tubuh sang istri dari belakang dan kembali meneggelamkan wajahnya diceruk yang begitu memabukan itu. Wangi vanila dari sabun yang istrinya pakai, yang sudah menjadi candunya itu mampu membangunkan jiwa kelelakiannya.


"Pengen kek gini!" Ucapnya dengan suara yang sudah parau.


Ayra segera membalikkan badannya hingga pelukannya terlepas. Ia tangkup kedua pipi suaminya. "Abang tau gak?"


"Gak! Belum kamu kasih tau juga." Ucap bang Ar kesal, karena sang istri menghindarinya dan membuat Ayra tertawa.


"Ck. Baru beberapa hari juga. Gimana kalo aku pergi? Abang pasti udah cari yang lain."


Bang Ar yang mendengar penuturan sang istri tentu tak terima. Ia bekap bibir yang sudah membuatnya sedikit takut itu dengan bibirnya dan me lu mat nya kasar. Hal itu tentu membuat Ayra terkejut.


"Berhenti bicara omong kosong! Abang gak akan izinin kamu pergi kemanapun tanpa abang. Jikapun kamu harus pergi, kita pergi bersama. Jangan pernah bicara kek gitu lagi! Abang gak suka. Paham!" Tutur bang Ar dengan nada dingin membuat Ayra takut dan menganggukan kepalanya.


Bang Ar yang melihat sang istri sudah berkaca-kaca ketakutan, langsung menariknya kedalam dekapan. Hingga isak tangis keluar dari bibir istrinya. Ia usap surai hitam milik sang istri dan menciumi pucuk kepalnya.


"Maafin abang! Abang gak maksud buat kasar sama kamu. Abang hanya takut! Jangan pernah mengucapkan kata-kata yang tak seharusnya kamu ucapkan! Karena ucapan adalah sebuah doa." Tuturnya dengan nada kembali lembut.


"Jangankan hanya empat puluh hari, lebih dari itupun abang siap menahannya. Jangan kamu pikir abang akan mencari yang lain! Karena hanya denganmu hasrat ini ada."

__ADS_1


Ayra semakin mengeratkan pelukannya. Menumaphkan tangisnya didada yang selalu membuatnya nyaman itu. Ia merasa bersalah karena berfikiran yang tidak-tidak mengenai suaminya dan menyesali hal itu.


"Maafin aku bang!" Ucapnya disela isak tangis.


Bang Ar pun semakin mengeratkan dekapannya, memberi rasa aman dan nyaman untuk istrinya. Membiarkan keduanya menyelami apa yang mereka pikirkan dan mencoba memahaminya. Sama-sama menekan ego untuk mendewasakan diri.


Setelah dirasa cukup keduanya melerai pelukan. Bang Ar menghapus jejak kebasahan dipipi sang istri dengan ibu jarinya. Dan tersenyum padanya. "Jangan nangis lagi ya! Maafin abang!"


Ayra menatap sang suami dan ikut tersenyum, Ia menganggukan kepalanya. "Iya bang. Aku juga minta maaf! Dan gak akan ngulangi itu lagi" Timpalnya.


"Oh iya, tadi mau ngomong apa?" Tanya bang Ar.


Ayra nampak berpikir sejenak. "Emm apa ya? Ck. Gara-gara abang sih, kan jadi lupa!" Protesnya.


Bang Ar tertawa, ternyata istrinya ini semakin dewasa. Ia tak pernah larut dengan kesedihan atau kemarahannya. Selalu secepatnya menyelesaikan masalah saat itu juga.


"Oh iya, aku inget!" Ucapnya membuat bang Ar menaikkan alisnya sebelah.


"Apa?"


"Katanya ya bang. Buka puasa abis nipas itu lebih enak. Malam pertama aja lewat!" Tutur Ayra


"Hah! Beneran?" Bang Ar menanggapi dengan ekspresinya yang berbinar dengan bola mata hampir keluar.


"Isshh.. Tu mukanya biasa aja kali bang!" Timpal Ayra terkekeh dan mengusap wajah suaminya. Membuat keduanya tergelak.


"Emang iya gitu melebihi malam pertama?" Tanya bang Ar penasaran. Pasalnya malam pertama aja begitu nikmat buatnya apalagi ini melebihi.


Ayra mengangguk. "Pokoknya lebih!"


"Lebih apa?" Tanya bang Ar penasaran.


"Lebih pulen!" Balas Ayra cekikikan.


****************


Ayo tinggalkan jejakmu readers😉

__ADS_1


Siapa yang mau ngasih kopi buat bang Ar buka puasa😂


__ADS_2