Cintaku Mentok Di Kamu

Cintaku Mentok Di Kamu
Bab 58


__ADS_3

Hari berganti hari, kedua calon mempelai itu benar-benar dipingit. Jangankan untuk VC, untuk telepon mendengar suara saja tidak diizinkan kanjeng Mamih. Hp keduanya ditahan emak-emaknya.


Kini persiapan dirumah Ayra sudah selesai. Banyak orang lalu lalang disana, dari mulai keluarga jauh, tetangga-tetangga, sampai tukang-tukang memenuhi rumah itu.


Tenda dan dekor pelaminan sudah terpasang rapi dihalaman rumah. Sesuai rencana, keduanya akan menggelar akad dikediaman calon mempelai wanita. Dan untuk resepsi akan diadakan esoknya disebuah gedung.


Malam pun tiba, Ayra benar-benar merasa nervous. Menyambut hari bersejarah baginya. Ia semakin tak karuan tatkala masuk kedalam kamarnya yang sudah dihias sedemikian rupa. Kelopak bunga bertaburan memenuhi ranjang kingsize nya.


Ia sampai harus tidur dikamar bang Agung bersama kakak ipar dan para sahabatnya, yang sudah ikut heboh dari tadi siang dan berencana akan menginap.


Sore tadi sudah diadakan acara siraman dan pengajian menjelang akad. Tangis haru mengiringi proses acara adat itu. Sungkeman permohonan maaf seorang putri kepada orangtuanya dan wejangan-wejangan kedua orang tua pada putrinya, mengiringi acara penuh air mata itu.


Kini tinggal satu malam lagi, Ia akan melepas masa lajangnya. Kebahagiaan yang tak pernah Ia bayangkan sebelumnya. Menikah dengan orang yang selama ini menguasai seluruh hatinya, bagai mustahil baginya. Namun itulah kekuatan cinta, takdir yang tak dapat diduga.


**


"Tu muka dirileksin lah. Tegang bener!" Celetuk Feby pada sang calon manten.


"Lu mah, belom ngerasain aja sih! Tar kalo nikah gue yakin muka lu juga kek gitu." Timpal Rila.


Sibumil yang satu ini juga ikut gabung, menginap dirumah Ayra, biarpun perutnya mulai membuncit bahkan dilarang keras sang suami, Ia tetap maksa untuk nginep.


"Gak. Gue mah bakal biasa aja." Sangkalnya.


"Awas aja kalo ampe tar muka lu kek gitu, kita lelepin!" Timpal Agel


"Kagak bakalan!"


"Gue sumpahin lu bakal lebih nervous dari gue!" Timpal Ayra mendelik. Membuat mereka tergelak.


"Udah Ay kamu cepet tidur! Jangan ikut begadang. Tar mata kamu kek panda lagi, kan gak etis!" Ucap Kak Icha.


"Iya sana. Mening lu tidur di kamar lu aja gih!" Titah Agel.

__ADS_1


"Gak ah, gue tidur disini aja. Merinding tau gak masuk sana sendirian." Tolak Ayra.


"Ngomong aja ke kamarnya pengen sama bang Ar kan?" Goda Feby.


"Idihh paan sih!" Elak Ayra.


"Pasti tu yang dibawah dah cenat cenut duluan ya, Ay?" Rila ikut menggoda sang manten.


"Paan sih lu pada? Bikin gue tambah gemeter tau gak?" Protes Ayra dan disambut gelak tawa mereka.


"Udah Ay kamu tidur dikamar Mamih aja sana! Inget kudu bangun pagi-pagi!" Timpal kak Icha dan dijawab anggukan Ayra.


Akhirnya Ayra tidur dikamar Mamihnya. Namun kegugupannya sama sekali tak hilang hingga Ia sulit memejamkan matanya. Sampai Ia tertidur entah jam berapa.


**


Hari yang dinanti tiba, semua tamu sudah nampak hadir menunggu kedatangan sang calon mempelai pria. Tidak banyak yang diundang untuk acara sakral itu, hanya keluarga inti, para sahabatnya dan tetangga saja. Kebanyakan yang diundang untuk acara resepsinya saja.


Calon mempelai dan iring-iringannya disambut dengan lengser sebuah tradisi adat sunda, yang telah disiapkan WO.


Sang calon mempelai pria dipersilahkan duduk ditempat khusus untuk melaksanakan ijab kabul. Disana sudah nampak pak penghulu, dua saksi dan Papih Alan sebagai wali nikah putrinya.



Bang Ar duduk dikursi depan pak penghulu dan Papih Alan dengan mengenakan setelan pengantin adat sunda, begitu gagah dan tampan.


Ia begitu gugup, tangannya sampai berkeringat dingin. Takut-takut salah mengucap ijab. Padahal semalaman Ia tak berhenti menghafalnya, namun tetap saja Ia merasa gugup. Apalagi begitu melihat banyak orang, Ia semakin nervous.


Serangkaian acara berjalan dengan khidmat. Begitu banyak doa yang terlantun sebelum acara inti dimulai.


Kini giliran sang mempelai wanita untuk dihadirkan. Semua begitu penasaran ingin melihat calon mempelai wanitanya.


Ayra datang dengan memakai kebaya pengantin adat sunda, dengan siger dan melati dikepalanya begitu cantik dan anggun.

__ADS_1



Semua mata tertuju pada sang mempelai wanita, yang digiring oleh para sahabatnya dan kakak iparnya sebagai bridesmaid.


Bahkan bang Ar sampai tak berkedip melihat begitu mempesonanya calon istrinya itu. Tak melihat wajah sang pujaan selama empat hari ini, membuatnya benar-benar merindukan calon istrinya itu.


Ayra duduk di sebelah calon suaminya. Ia hanya tertunduk karena merasa gugup dan enggan menatap calon suaminya. Berbeda dengan bang Ar yang tak melepaskan tatapannya dengan senyum yang mengembang dari kedua sudut bibirnya.


Sampai pak penghulu yang menanyainya, bang Ar masih bergeming. Ia tak menjawab beberapa kali ditanyai pak penghulu. Sampai pundaknya disentuh keras sang Ayah, barulah Ia tersadar dan menoleh dengan wajah kebingungan, semua tersenyum melihat tingkah calon mempelai pria itu. Begitupun dengan calon istrinya.


"Sabar Ar! Sekarang tuh ditanya pak penghulu!" Goda si Ayah.


"Ehemmm!" Bang berdehem untuk menetralkan kegugupannya.


"Sepertinya mempelai prianya sudah gak sabar ya?" Goda pak penghulu dan disambut tawa semua yang hadir.


"Baiklah nak Ardi, apa kamu sudah siap?" Tanyanya.


"Siap pak!" Jawabnya mantap.


Pak penghulu mempersilahkan Bang Ar untuk menjabat tangan calon mertuanya. Ijab kabul pun dimulai.


"Bismillahirohmanirrohim.. Saudara Ardiansyah Pratama bin Arshad Pratama, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan putri saya yang bernama Ayra Queenissa binti Alan Aruman, dengan maskawin uang tunai sebesar seratus juta dua ribu dua puluh dua rupiah, perhiasan emas dua puluh dua karat, satu perkebunan teh, dan seperangkat alat sholat dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Ayra Queenissa binti Alan Aruman dengan mas kawinnya tersebut tunai!"


"Bagaimana saksi sah?"


"SAH!!!!"


...TAMAT...


Kaboorrrr🏃‍♀🏃‍♀🏃‍♀

__ADS_1


__ADS_2