
Benar saja, belum juga acara selesai. Sepasang pengantin itu benar-benar sudah meninggalkan pesta. Meninggalkan para tamu begitu saja.
"Bang mandi dulu lah. Gerah nih!" Ajak Ayra pada suaminya yang tengah menenggelamkan wajahnya diceruk sang istri dan jangan lupakan tangannya yang sudah bergeliyara sana sini.
"Bang ihh!" Ayra mencoba menahan wajah suaminya yang hendak memberi tanda karya di lehernya.
"Apa sayang?" Tanyanya menjauhkan wajahnya dari ceruk sang istri. Merangkul pinggang istrinya posesif.
"Aku mau hapus makeup dulu berasa berat nih!" Ayra mengerejapkan matanya berkali-kali kala bulu matanya hampir terlepas.
Bang Ar tertawa kecil melihat bulu mata sang istri yang hampir copot. "Sini abang buka!" Bang Ar melepaskan bulu mata itu membuat Ayra mengerjapkan lagi matanya.
"Enak bang. Ringan!"
"Yuk duduk, abang bersihin!" Bang Ar membawa sang istri ke atas ranjang kingsize dikamar hotel itu.
Keduanya memang menginap dihotel malam ini. Ayah Arshad sudah mempersiapkan kamar yang sudah disulap khusus untuk sepasang pengantin.
"Bang jangan diduduki, sayang tuh bunganya!" Ayra berkomentar kala bang Ar menduduki bunga yang dihias begitu cantik diatas kasur.
"Gakpapa ini memang buat kita tiduri." Jawab banga Ar mendudukan istrinya.
"Tapi ya bang! Mubadzir banget nih bunga, kita peyek-peyek gini." Mode hemat ala emak-emaknya muncul. Membuat bang Ar tergelak.
"Udah mana sini tisuenya!" Bang Ar meminta tisue untuk mulai membersihkan wajah sang istri.
Ayra memberi tisue basah pada sang suami. Bang Ar mulai menyapu makeup diwajah cantik sang istri.
"Emm.. Kita enaknya honeymoon kemana yang?" Tanya bang Ar membuat Ayra mengerenyit.
"Emang kalo nikah harus honeymoon ya bang?" Tanya Ayra polos.
"Biasanya sih gitu." Timpal bang Ar yang begitu telaten menyapu sisa-sisa makeup diwajahnya.
"Yang aku denger honeymoon itu ngamer mulu bang."
__ADS_1
"Ya emang gitu, menghabiskan waktu berdua. Buat program bikin baby."
"Lah kalo cuma menghabiskan waktu berdua ngapain mesti jauh-jauh. Ini kita berdua mulu. Bikin baby juga iya. Daripada pergi jauh buang-buang uang, mening uangnya ditabung buat beli rumah." Tutur Ayra panjang lebar.
Bang Ar tersenyum mendengar ucapan gadis halalnya itu. Alih-alih seorang istri akan sangat bahagia diajak honeymoon, apalagi ketempat romantis. Tapi tidak dengan istrinya ini. Justru Ia sangat menyayangi uang. Jiwa emak-emaknya emang tak diragukan. Bahkan Ia sampai memikirkan hal yang begitu penting untuk rumah tangga keduanya. Rumah?
"Apa kamu ingin kita tinggal berdua aja?" Tanya bang Ar.
"Ya iyalah bang. Biar kita mandiri. Aku udah bayangin kita tinggal berdua, punya rumah sendiri, trus punya baby-baby lucu, mengurusnya berdua. Kek nya seru banget." tuturnya membuat bang Ar tertawa, sudah sampai situkah pemikiran istrinya ini.
Padahal kemarin dia sendiri yang bilang belom mau dikasih baby, Eh sekarang beda lagi.
"Biarpun kita cuma tinggal dikontrakan misalnya, itu lebih baik daripada tinggal bareng orangtua kita. Biar gak manja. Kita harus punya rumah tangga kita sendiri tanpa campur tangan orangtua."
"Pinter! Istri siapa sih?" Tanya bang Ar mencubit gemas hidung sang istri.
"Isshh abang sakit!! Istri abang lah." Timpal Ayra meringis mengusap hidungnya.
Bang Ar mengelus hidungnya dan menciumnya. "Dah sembuh."
"Iya. Kenapa?"
"Gak aku cuma tanya aja."
"Kamu gak mau tinggal dirumah Ibu?" Tanya bang Ar.
"Gak kok. Aku mau! Kan aku udah bilang dimanapun abang tinggal aku akan ikut." Timpal Ayra langsung. Takut-takut suaminya salah paham.
Bang Ar menangkup wajah aang istri yang sudah selesai Ia bersihkan.
"Untuk sementara kita dirumah Ibu dulu ya! Ntar kalo abang udah ada rezekinya kita beli rumah sendiri. Hemm" Tutur bang Ar tersenyum kearah sang istri dan dijawab anggukan olehnya.
"Aku siap hidup dikondisi apapun, asal bersama abang!" Ayra menubrukan dirinya kedalam dekapan suaminya.
Bang Ar membalas mendekapnya mengusap surai hitam yang masih disanggul itu. Di tariknya jepitan penyanggul itu hingga membuat surai hitam nan bergelombang itu terurai. Mengusapnya mencium aroma shampo dirambutnya.
__ADS_1
Tangannya meraba mencari reseleting dibelakang sana dan menurunkannya. Membuka bagian lengannya perlahan.
Bang Ar menangkup kedua pipi istrinya dan meraup bibirnya. Tangannya kembali membuka gaun yang melekat ditubuh gadisnya hingga terpampang dua bongkahan yang masih tertutup cangkangnya.
Bang Ar melepaskan pagutannya, beralih menyusuri kulit putih dilehernya. Hingga turun kebongkahan yang entah sejak kapan cangkakngnya sudah terlepas.
Diraupnya salah satu bongkahan itu membuat sang istri men de sah manja. Membuatnya semakin bersemangat untuk melanjutkan aktifitas yang membuatnya candu itu.
Seperti biasa kain-kain yang menempel ditubuh keduanya sudah berserakan dimana-mana. Menyisakan tubuh polos kedunya yang sudah menyatu. Hawa panas begitu memburu disalam kamar temaram itu, bahkan pendingin tak mampu mendinginkan kedua insan yang tengah beradu itu.
Bang Ar membalikkan tubuhnya tanpa menyabut penyatuannya.
"Lets play baby!"
Ayra mengerti, Ia mulai menggerakkan pinggulnya menari diatas tubuh sang suami dengan gaya manjanya. Goa yang masih saja sempit meski sudah beulang kali disambangi, membuatnya semakin terpacu untuk mencapai nirwana.
"Sayanghh ini gila!" Racaunya.
Bang Ar kembali membalikkan badannya, menguasai tubuh sang istri dan mulai memompa tububnya.
"Abangghhhh!"
"Ouuuhhh ****!"
Erangan panjang kedunya, menandakan kedahsyatan pelepasan bersama keduanya.
Nafas kedunya terdengar senen kemis. Keringat mengucur dari keduanya. Tanpa melepaskan miliknya bang Ar terus menciumi wajah istrinya. "Lagi ya!" Pintanya.
***********
Deui deui nyaa bangš¤£š¤£
__ADS_1
Demi cinta pasrah ya neng Ayš