
Lepas melihat rumah barunya, bang Ar dan Ayra kembali pulang. Baby Shaka yang ditinggal bersama neneknya, begitu anteng digendongannya. Baby tampan yang semakin gembil itu sangat suka sekali tidur. Sepetinya Ia tipe baby-baby mager, sulit sekali untuk mengajaknya bermain. Matanya seolah sulit untuk terbuka.
Setelah memaksanya bangun untuk mimi, baby Shaka kembali tertidur. Membuat kedua orangtuanya lebih leluasa untuk berbuka puasa.
Dari semenjak pulang tadi, bang Ar tak hentinya membuntuti sang istri, Ia terus merengek seperti anak kecil. Mengajaknya untuk buka puasa bersama. Ayra bukannya tega dengan sumainya itu, namun sejujurnya Ia masih merasa takut.
Ayra duduk ditepi ranjang, entah kenapa perasaannya tiba-tiba begitu gugup. Rasanya hampir sama saat malam pertama dulu. Bang Ar ikut duduk disisinya melihat sang istri yang telihat aneh membuat Ia keheranan.
"Kamu kenapa?" Tanya bang Ar ingin meraih pipi istrinya, namun sang istri malah menghindar membuat Ia mengerutkan dahinya.
"Gak papa bang!" Timpal Ayra cepat. Pipinya tiba-tiba terasa terbakar, jantungnya berdegup kencang. Hingga keringat dingin keluar dari tubuhnya.
"Kamu sakit?" Bang Ar bertanya kala melihat wajah tegang sang istri, dan dijawab gelengan cepat darinya.
Bang Ar meraih tangannya dan betapa terkejutnya Ia mendapati telapak tangan yang begitu dingin dan basah.
"Kamu beneran gak papa? Ini tangan kamu sampe berkeringat gini?" Tanya bang Ar khawatir. Namun Ayra kembali menggeleng dan menunduk.
Bang Ar meraih dagunya melihat wajah istrinya. "Lihat abang!" Titahnya ketika mata sang istri terus tertunduk.
Ayra menuruti perintah suaminya. Ia tatap mata teduh yang selalu menenangkannya itu. Menyelami tentang apa yang Ia rasa.
"Sekarang katakan sama abang? Kenapa hem?" Tanyanya.
"Aku. Aku!" Ayra sampai tak mampu mengungkapkannya. Bang Ar yang penasaran, semakin mendekatkan wajahnya. Hingga Ayra menahan wajah suaminya dengan berkata cepat.
"Aku takut buat buka puasa bang!"
Bang Ar yang mendengar penuturan istrinya tergelak. Bisa-bisanya sang istri berkata seperti itu. Apakah dirinya begitu menakutkan?
"Kenapa takut hem? Bahkan kita sering ngelakuinnya?" Tanya bang Ar disela tawanya.
"Isshh abang mah. Aku beneran takut!" Timpal Ayra cemberut.
Bang Ar berhenti tertawa dan menangkup kedua pipi istrinya. "Apa yang membuatmu takut?" Tanyanya.
"Si pisang!" Timpal Ayra membuat kening suaminya berkerut.
"Emang kenapa dengan si pisang?"
"Katanya, buka puasa pas nifas tu sakitnya ngalahin pas pertama. Apalagi bayangan-bayangin pas ngelahirin masih terasa." Tutur Ayra.
"Siapa yang bilang kek gitu?" Tanya bang Ar merasa gemas.
__ADS_1
"Rila!"
"Terus kata kamu puleun itu, kata Rila juga?" Tanya bang Ar dan dijawab anggukan istrinya.
"Terus yang bener sakit apa puleun?" Tanya bang Ar lagi.
"Puleun buat abang, tapi sakit buat aku!" Timpal Ayra.
"Emang iya?" Tanya bang Ar merasa tak percaya.
"Gak tau juga sih. Kan belum ngerasain. Itu mah kata si Rila." Timpal Ayra.
"Ya udah kita coba dulu!" Ajak bang Ar.
"Kalo sakit gimana?" Tanya Ayra.
"Kita berhenti. Jangan diterusin." Timpal bang Ar dengan entengnya.
"Ck. Pas pertama dulu aja, minta berhenti malah makin menjadi." Ayra sampai berdecak, Ia sudah tau suaminya. Kalau sudah tenggelem mana mau keluar lagi.
Bang Ar terkekeh melihat ekspresi istrinya. "Tapi kan makin enak." Timpalnya dan sukses mendapat tabokan dilengannya.
"Ayo dong yang! Kita coba." Bujuknya.
"Gak papa pelan-pelan aja ya?" Bujuknya lagi.
"Takut sakit!"
"Gak bakalan. Percaya sama abang. Kamu lihat yang udah-udah pada biasa-biasa tuh!"
"Besok aja deh!"
"Sekarang aja! Ya, ya!" Bujuk bang Ar lagi. Ayra berfikir sejenak, antara takut dan kasihan pada suaminya.
"Yang ayo dong! Katanya empat puluh hari? Ini udah empat puluh dua hari, udah lewat dua hari nih." Tutur bang Ar membuat Ayra mengerenyitkan dahinya tak mengerti.
"Emang kenapa kalo lewat dua hari?" Tanyanya.
"Takut udah gak puleun lagi!" Timpalnya membuat Ayra tergelak.
"Yang ayo dong! Masa kamu tega sih sama abang? Ya, ya mau ya!" Rengek bang Ar semakin manja menarik-narik tangannya.
Ayra tersenyum antara lucu dan takut, ternyata lucunya lebih mendominan. Ia terbesit ide untuk menggoda suaminya. "Maaf bang! Gak bisa!" Ucap Ayra menggelegkan kepalanya.
__ADS_1
"Ck. Kamu tega ya sama abang!" Timpalnya merajuk. Ayra tertunduk dan menggeleng, membuat sang suami kembali berdecak dan meringsek naik keatas kasur.
Ia tenggelamkan wajahnya dibantal, dengan posisi tengkurap, membalut seluruh tubuhnya dengan selimut. Ayra tersenyum melihat tingkah suaminya itu.
Ia mencoba menarik selimut yang semakin dieratkannya. "Bang!" Sapanya. Namun tak ada jawaban darinya.
Ayra turun dari ranjang, membuka lemarinya mengambil lingeri hitam hadiah dari bestie somplaknya yang belum pernah Ia pakai. Dengan terus memperhatikan pergerakan sang suami, Ia mulai membuka piyamanya dan menggantinya dengan kain tipis yang tembus pandang itu.
Setelah terpakai Ia mendekat dan meringsek keatas kasur. Ia kembali mencoba menarik selimut yang terbelit ditubuh suaminya. "Bang!" Masih juga belum ada pergerakkan.
"Bang buka dong selimutnya, aku kedinginan nih!" Titahnya. Membuat bang Ar membuka selimut dan matanya. Ia terkejut, matanya membulat melihat penampilan sang istri yang begitu menggoda dimatanya.
Tanpa babibu lagi, bang Ar langsung menindihnya. Menumpu kedua tangannya seraya memperhatikan tubuh sang istri dari atas sampai bawah. Ia tersenyum penuh kemenangan. "Malam ini kamu gak akan bisa lepas!"
Bang Ar menyambar bibir yang begitu menggoda itu, satu tangannya kebawah mengelus paha mulus sang istri. Tangan nakalnya terus berjalan keatas, menarik tali kecil yang melingkar diperutnya. Hingga baju tipis iti terbuka dan menyembulkan dua buah favoritnya yang tak terwadahi itu.
Bibirnya berjalan menyusuri leher putih yang sudah lama tak Ia beri tanda. Meninggalkan jejak-jejak maha karyanya disana, hingga turun ke kedua buah itu memberinya tanda juga disana dan tangannya yang tak berhenti meremasnya, membuat si empunya men de sah nikmat.
Bang Ar membekap suara itu dengan bibirnya, tangannya membuka piyamanya sendiri dengan tergesa. Membuka sisa kain ditubuh sang istri juga. Sebelah tangannya menyapa terlebih dahulu si nona, hingga membuatnya basah.
Ia bangkit dan mengambil sesuatu didalam laci nakas, lalu Ia pakai. Kemudian kembali keatas tubuh sang istri.
"Udah rilex aja!" Titah bang Ar yang melihat kekhawatiram sang istri.
Ayra menghela nafasnya. Mencoba menetralkan degup jantungnya.
"Jangan tegang!"
"Gak tegang gak enak dong bang." Timpalnya mencairkan suasana membuat bang Ar tersenyum
"Kita mulai ya!" Ayra hanya mengannguk sebagai jawaban.
Dengan pelan namun pasti, si pisang say halo dengan nonanya. Keduanya sampai memejamkan mata, merasakan hal yang selalu orang perbincangkan kala buka puasa habis nifas. Puleun cenah!
Dengan gerakan yang dibuat pelan, keduanya menggali kenikmatan yang tak ada duanya itu. De sa han dan erangan memenuhi kamar nan luas itu. Bahkan keduanya melupakan sang putra didalam box nya.
Entah sampai menit keberapa mereka mengakhiri acara buka puasanya. Dengan nafas yang sudah senen kemis dan keringat yang membanjiri tubuh keduanya. Bang Ar mencium kening sang istri seraya menggumamkan terima kasih.
****************
Itu emak-emak, yang udah ngalamin buka puasa abis nifas, gimana tuh rasanya🤭
Yuk mari yuk kasih jejaknya! Ini hari senin ya, kasih vote lah😁
__ADS_1